JawaPos.com - Sepak bola Tanah Air kembali kehilangan satu sosok penting. Mantan pengurus PSSI sekaligus eks pemain Timnas Indonesia, Bob Hippy, meninggal dunia pada Sabtu (5/9/2026).
Bob Hippy diketahui mengembuskan napas terakhir pada usia 82 tahun di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi pencinta sepak bola Indonesia, tak terkecuali anggota DPR RI, Sihar Sitorus.
“Turut berduka cita atas wafatnya Om Bob Hippy, mantan pengurus PSSI sekaligus eks pemain Tim Nasional Indonesia dan Persija Jakarta,” tulis Sihar Sitorus dalam instagramnya @sihar.ph.sitorus, Sabtu (5/9).
Baca Juga: Pimpin Grup H, Ini Skenario Timnas Indonesia U-20 Lolos ke Piala Asia U-20 2027
Pemilik klub FCV Dender tersebut menyampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya Bob Hippy. Ia mengenang dedikasi dan pengabdian almarhum yang telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan sepak bola Indonesia.
“Dedikasi serta pengabdian almarhum bagi sepak bola Indonesia akan selalu dikenang. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan. Selamat jalan, Om Bob Hippy,” tutur Sihar Sitorus.
Bob Hippy punya catatan panjang bersama Timnas Indonesia. Ketika masih aktif sebagai pemain, ia berposisi penyerang dan menjadi salah satu pencetak terbanyak pada Piala Asia U-19 di Thailand.
Baca Juga: Prediksi Susunan Pemain Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Menang Harga Mati untuk Garuda Muda!
Di level klub, Bob Hippy pernah memperkuat Persija Jakarta. Setelah gantung sepatu, ia masih tetap aktif di dunia sepak bola.
Tercatat, Bob Hippy pernah menjadi anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI pada periode 2011-2015. Ia dipercaya menduduki sejumlah posisi penting, di antaranya Ketua Komite Sepak Bola, Ketua Komite Pengembangan Sepak Bola Usia Muda, dan Wakil Ketua Komite Status Pemain.
Bob Hippy juga pernah mendapat tugas mengoordinasikan tim nasional saat masa konflik sepak bola Indonesia pada 2011-2012. Saat itu, sepak bola nasional berada dalam situasi sulit akibat dualisme kompetisi serta organisasi.