JawaPos.com - Seluruh anggota tim PSIM Yogyakarta kembali menjalankan salah satu tradisi berziarah ke makam raja-raja Mataram di Kotagede dan Imogiri, Rabu (26/8), menjelang musim kompetisi baru super league.
Agenda tersebut menjadi bagian dari persiapan Laskar MataramPSIM Yogyakarta sebelum memasuki kompetisi musim 2026/27.
Namun, kegiatan PSIM ini tidak hanya dimaknai sebagai rutinitas pramusim jelang super league.
Baca Juga: Tak Lagi Banyak Buang Waktu, Aturan Baru Serie A Bikin Pertandingan Lebih Lama dan Menarik
Ziarah juga menjadi cara klub untuk menjaga kedekatan seluruh elemen tim dengan sejarah dan budaya yang menjadi bagian dari identitas Yogyakarta.
Rombongan mengunjungi dua lokasi yang memiliki nilai sejarah penting bagi Mataram Islam.
Suasana khidmat terasa sepanjang kegiatan, dengan seluruh anggota tim mengikuti prosesi sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.
Baca Juga: Jamie Carragher Soroti Transfer Liverpool, Wirtz hingga Isak Belum Sesuai Ekspektasi
Bagi pemain PSIM, Savio Sheva Maresca, mengenal sejarah dan budaya menjadi bagian penting dalam membangun karakter seorang pemain.
Menurut dia, identitas Laskar Mataram tidak berhenti pada lambang klub yang dikenakan ketika bertanding.
“Ziarah ini cara kami merawat ingatan terhadap sejarah panjang dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu," kata Savio.
"Berada di sini membuat kami sadar bahwa lambang di dada yang kami bela bukan sekadar identitas di atas lapangan, melainkan bagian dari warisan budaya yang memiliki tanggung jawab besar,” ujar Savio.
Hal senada disampaikan Khairul Fikri Maarif.
Ziarah ke makam raja-raja Mataram bukan pengalaman pertama bagi Fikri.
Baca Juga: Jack Grealish Ikuti Jejak David Beckham, Bintang Manchester City Ini Gemar tanam Sayuran di Rumah
Meski demikian, dia tetap merasakan pengalaman berbeda ketika kembali melihat secara langsung peninggalan sejarah yang memiliki hubungan erat dengan kultur masyarakat Yogyakarta.
Menurut Fikri, kegiatan tersebut membuat dirinya semakin memahami akar budaya yang melekat pada PSIM.
Pemahaman itu kemudian menjadi tambahan motivasi untuk menjalani musim kompetisi yang baru.
Baca Juga: Chelsea Raup Untung Besar, Liam Delap Dijual ke Nottingham Forest Rp 1 Triliun
“Datang ke tempat bersejarah ini memberi saya pemahaman yang lebih dalam tentang akar dan identitas tim,” kata Fikri.
Dia berharap semangat perjuangan para pendahulu dapat menjadi inspirasi bagi dirinya dan rekan-rekannya saat berada di lapangan.
“Mengenal tradisi ini secara langsung membantu saya terhubung dengan kultur lokal, sekaligus menyuntikkan motivasi untuk meneruskan semangat perjuangan generasi terdahulu,” tegas Fikri.
Baca Juga: Stadion Kanjuruhan Berpeluang Dikelola Arema FC, Iwan Budianto Ungkap Progres Pembahasan
Setelah rangkaian ziarah di Kotagede dan Imogiri selesai, kebersamaan skuad PSIM diharapkan semakin kuat.
Manajemen juga berharap tradisi tersebut dapat memberikan motivasi tambahan bagi para pemain untuk menghadapi persaingan kompetisi musim 2026/27 dengan semangat lebih besar.