← Beranda
Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia: Tanamkan Nilai Luhur Sejak Dini
Moch. Rizky Pratama PutraSelasa, 18 Agustus 2026 | 14.06 WIB
Fitri mendampingi perjalanan Gema Farand Pratama sejak usia 5 tahun untuk mengejar cita-cita sebagai pesepak bola masa depan Indonesia. (Dok. Fitri untuk JawaPos.com)

 

JawaPos.com — Soekarno Cup 2026 menjadi panggung bagi talenta muda dari 16 provinsi, termasuk Gema Farand Pratama dari Banteng Jawa Timur, yang mendapat dukungan penuh sang ibu, Fitri.

Sejak usia 5 tahun atau saat masih TK, Fitri konsisten mendampingi Gema berlatih sepak bola sambil menanamkan disiplin, sportivitas, dan pantang menyerah.

Baca Juga: Menemani Latihan Sejak Usia 7 Tahun, Perjuangan Ayah Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia

Bagaimana perjuangan Fitri mendampingi Gema sejak kecil?

Perjalanan Gema Farand Pratama menjadi atlet sepak bola tidak lepas dari peran Fitri yang setia mendampingi putranya sejak mengenal Sekolah Sepak Bola (SSB) pada usia 5 tahun.

Bagi Fitri, pengorbanan terbesar bukan sekadar waktu atau tenaga, melainkan kesediaan dirinya bersama sang suami menemani Gema menikmati seluruh proses hingga mampu tampil di level kompetisi usia muda.

“Pengorbanan terbesar bagi saya untuk Gema adalah di mana saya, papanya dan Gema bisa lalui dan menikmati prosesnya hingga saat ini,” ujar Fitri kepada JawaPos.com, Selasa (18/8/2026).

Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana perjalanan seorang atlet muda dibangun dari dukungan keluarga yang hadir sejak tahap paling awal.

Fitri mengaku selalu berusaha mendampingi Gema selama menjalani latihan, terutama sejak sang anak meminta masuk SSB ketika masih duduk di bangku TK.

Dukungan itu terus diberikan hingga sekarang, termasuk ketika Gema mendapat kesempatan menjadi bagian dari tim Banteng Jawa Timur di Soekarno Cup 2026.

“Saya berusaha mendampingi Gema selama latihan mulai dari dia minta untuk masuk ke Sekolah Sepak Bola (SSB) yaitu mulai TK umur 5 tahun hingga saat ini,” kata Fitri.

Baginya, menemani anak berlatih bukan sekadar mengantar dan menunggu, tetapi menjadi bagian dari proses panjang untuk memahami perkembangan sang buah hati.

Baca Juga: Calvin Verdonk akan Jadi Pemain Indonesia Pertama yang Berlaga di Liga Champions

Mengapa komunikasi menjadi bagian penting dalam perjalanan Gema?

Fitri juga membangun kebiasaan sederhana dengan mengajak Gema bercerita mengenai aktivitasnya selama mengikuti SSB.

Dari komunikasi tersebut, Fitri merasa semakin yakin Gema memiliki keinginan kuat untuk mengejar cita-citanya sebagai pemain sepak bola profesional.

“Saya berusaha mengajak agar Gema selalu bercerita tentang kegiatan selama mengikuti SSB,” ujarnya. Kebiasaan tersebut membuat Fitri dapat mengikuti proses Gema sekaligus memberikan dukungan ketika sang anak menghadapi tantangan dalam perjalanan sebagai atlet muda.

“Saya tidak merasa lelah, Saya dan papanya selalu mensupport apa yang terbaik untuk prestasi sepak bola Gema,” lanjut Fitri.

Dukungan kedua orang tua itu menjadi bagian penting dalam perjalanan Gema yang kini berkompetisi bersama Banteng Jawa Timur pada ajang Soekarno Cup 2026.

Fitri tidak hanya berbicara soal prestasi di lapangan, tetapi juga karakter yang harus dimiliki Gema di luar pertandingan.

Ia percaya kemampuan bermain sepak bola perlu berjalan beriringan dengan sikap rendah hati agar perjalanan menuju level profesional tidak membuat sang anak kehilangan nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil.

“Saya juga selalu mengingatkan Gema agar bersikap rendah hati (tidak sombong) dan menjaga attitude atau sikap dimana gema berada baik di dalam lapangan maupun di luar,” kata Fitri.

Pesan itu menjadi pengingat bagi Gema untuk tetap menjaga perilaku ketika bertanding maupun saat menjalani kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Dulu Gagal di Norwich, Christos Tzolis Kini Bersinar dan Jadi Harapan Baru Arsenal

Nilai apa yang ditanamkan Fitri kepada Gema?

Bagi Fitri, menjadi atlet masa depan Indonesia tidak cukup hanya dengan kemampuan teknis dan keinginan meraih kemenangan.

Sejak dini, Gema dibiasakan memahami pentingnya disiplin, sportivitas, pantang menyerah, serta keberanian untuk bangkit ketika menghadapi kegagalan.

“Saya selalu menanamkan di diri Gema untuk disiplin, sportivitas, pantang menyerah, dan berani bangkit dari kegagalan serta belajar dari kesalahan untuk menjadi lebih baik,” tutur Fitri.

Nilai tersebut menjadi bekal yang diharapkan membantu Gema menghadapi persaingan sekaligus menjaga mentalnya dalam proses panjang sebagai atlet.

Semangat serupa juga diberikan ketika Gema tampil membawa nama daerah dalam sebuah kompetisi seperti Soekarno Cup 2026.

Fitri ingin putranya memahami jika kesempatan membela daerah merupakan tanggung jawab sekaligus kebanggaan yang perlu dijalankan dengan karakter positif.

“Disiplin, semangat, pantang menyerah, sportivitas, tanggung jawab, dan bangga menjadi bangsa Indonesia,” ujar Fitri saat menjelaskan nilai perjuangan yang terus ditanamkan kepada Gema.

Menurutnya, nilai tersebut penting agar perjuangan seorang atlet tidak berhenti pada target mendapatkan medali.

Baca Juga: Guglielmo Vicario Segera Tinggalkan Tottenham, Juventus Siap Boyong Sang Kiper

Harapan Fitri untuk masa depan Gema

Soekarno Cup 2026 sendiri diarahkan bukan sekadar sebagai ajang perebutan gelar juara, tetapi menjadi panggung pembinaan talenta muda dari 16 provinsi yang diproyeksikan menjadi cikal bakal pemain nasional.

Kompetisi usia 17 tahun itu juga terus didorong sebagai ruang bagi pemain muda untuk mengasah kemampuan sekaligus membuka jalan menuju level internasional.

Dalam konteks tersebut, perjalanan Gema bersama Banteng Jawa Timur menjadi bagian dari proses panjang pembentukan pemain muda.

Dukungan Fitri sejak Gema berusia 5 tahun menunjukkan peran keluarga tetap menjadi fondasi penting ketika seorang anak mulai mengejar mimpi sebagai atlet.

“Saya berusaha mensupport Gema menjaga nama baik bangsa atau daerah juga tidak mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan,” kata Fitri.

Ia berharap Gema mampu menunjukkan karakter sebagai generasi muda Indonesia yang berintegritas, tangguh, dan mampu mengharumkan nama bangsa.

Perjuangan Fitri dan keluarganya pun memperlihatkan jika mimpi menjadi pemain profesional tidak lahir dalam semalam.

Di balik kesempatan Gema tampil dalam kompetisi usia muda, ada pendampingan sejak usia 5 tahun, komunikasi, dukungan tanpa lelah, serta nilai-nilai luhur yang terus ditanamkan untuk menghadapi setiap tantangan.

EDITOR: Banu Adikara