JawaPos.com — Irsyad Shibra Ilahi, kapten Banteng DKI Jakarta di Soekarno Cup 2026, mendapat dukungan penuh dari sang ayah, Anas, sejak mulai bermain sepak bola pada usia 7 tahun.
Selama bertahun-tahun, Anas rela mengorbankan waktu, materi, dan tenaga untuk menemani putranya mengikuti latihan hingga turnamen di dalam maupun luar kota.
Baca Juga: Dulu Gagal di Norwich, Christos Tzolis Kini Bersinar dan Jadi Harapan Baru Arsenal
Pengorbanan Waktu Dimulai Sejak Irsyad Berusia 7 Tahun
Bagi Anas, pengorbanan terbesar dalam mendukung perjalanan Irsyad menjadi atlet sepak bola adalah waktu, sebab perjuangan tersebut sudah dimulai sejak sang anak berusia 7 tahun.
Hampir setiap pekan, waktu keluarga harus dibagi dengan agenda latihan dan pertandingan yang menjadi bagian penting dalam perkembangan Irsyad sebagai pemain muda.
“Sampai di titik ini pengorbanan kami sebagai orang tua tentunya waktu, karena sejak dari usia 7 tahun anak saya sudah mulai bermain bola,” ujar Anas kepada JawaPos.com, Senin (17/8/2026).
Perjalanan itu tidak berhenti pada persoalan mengantar anak menuju lapangan latihan, tetapi juga membutuhkan kesiapan untuk mendampingi berbagai agenda pertandingan.
Anas menyebut dirinya rela berkorban materi untuk memenuhi kebutuhan Irsyad, mulai dari peralatan sepak bola hingga seragam yang digunakan saat bertanding.
“Rela berkorban materi demi membeli peralatan bola seragam dan mengantar anak turnamen setiap akhir pekan baik di dalam maupun keluar kota,” katanya.
Pengorbanan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Irsyad hingga dipercaya menjadi kapten Banteng DKI Jakarta dalam Soekarno Cup 2026.
Kompetisi usia 17 tahun itu diikuti talenta muda dari 16 provinsi dan diarahkan sebagai ruang pembinaan pemain yang berpotensi berkembang menuju level nasional maupun internasional.
Baca Juga: Guglielmo Vicario Segera Tinggalkan Tottenham, Juventus Siap Boyong Sang Kiper
Dari Perjalanan Turnamen hingga Menjadi Kapten Banteng DKI Jakarta
Dukungan orang tua menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan atlet muda yang harus menjalani proses panjang sebelum mendapat kesempatan tampil di kompetisi besar.
Bagi Anas, perjalanan Irsyad sejak usia 7 tahun memperlihatkan bagaimana waktu dan materi menjadi bentuk dukungan nyata yang harus diberikan keluarga.
Perjalanan menuju turnamen juga membuat Anas terbiasa mengatur waktu untuk mendampingi putranya bertanding setiap akhir pekan.
Jarak bukan menjadi alasan untuk berhenti memberikan dukungan karena pertandingan Irsyad bisa berlangsung di dalam maupun luar kota.
Kini, perjuangan tersebut berbuah kesempatan bagi Irsyad untuk tampil sebagai kapten Banteng DKI Jakarta di Soekarno Cup 2026.
Ajang yang melibatkan pemain usia 17 tahun dari 16 provinsi itu menjadi panggung penting bagi para pemain muda untuk mengasah kemampuan sekaligus memperlihatkan potensi mereka di hadapan lingkungan sepak bola yang lebih luas.
Bagi keluarga, posisi kapten tentu membawa tanggung jawab lebih besar dibanding sekadar mengejar kemenangan.
Irsyad tidak hanya dituntut tampil secara teknis di lapangan, tetapi juga mampu menjadi contoh bagi rekan setim melalui sikap dan nilai yang dibangun sejak proses pembinaan.
Baca Juga: Jamie Carragher Ragukan Michael Carrick, Manchester United Dinilai Belum Siap Juara Premier League
Anas Tanamkan Sportivitas, Bukan Sekadar Mengejar Medali
Anas juga memiliki pesan khusus untuk Irsyad ketika menjalani pertandingan, terutama saat berhadapan dengan pemain dari daerah atau tim lain.
Ia ingin anaknya memahami kemenangan sebagai bagian dari kompetisi, sementara sikap saling menghormati tetap menjadi nilai utama selama pertandingan.
“Saya selalu menanamkan nilai kepada anak saya bahwa ‘Lawanmu adalah lawan teman bermain mu selama 90 menit’. Harus respect, sportif, dan tidak boleh ada niatan untuk mencederai,” ungkap pria asal Banyuwangi tersebut yang lama bekerja dan menetap di Jakarta.
Pesan itu menjadi semakin relevan ketika Irsyad dipercaya memimpin Banteng DKI Jakarta di Soekarno Cup 2026.
Sebagai kapten tim usia 17 tahun, ia memiliki kesempatan untuk menerapkan nilai sportivitas bukan hanya dalam permainan, tetapi juga dalam cara menghargai lawan dan menjaga rekan satu tim.
Menurut Anas, lawan yang dihadapi anaknya di lapangan pada dasarnya juga merupakan bagian dari profesi yang sama.
Karena itu, ia meminta Irsyad tetap menjaga keselamatan dan menghormati pemain lain meski pertandingan berlangsung dengan intensitas tinggi.
“Karna Lawanmu juga teman seprofesi harus saling jaga karena itu lebih penting daripada mengejar medali,” tegas Anas.
Baca Juga: Manchester City Incar Ayyoub Bouaddi untuk Isi Posisi yang Rodri
Soekarno Cup 2026 Jadi Panggung Talenta Muda
Soekarno Cup 2026 sendiri diarahkan bukan sekadar sebagai kompetisi untuk menentukan tim terbaik, tetapi juga menjadi bagian dari pembinaan pemain muda Indonesia.
Sebanyak 16 provinsi terlibat dalam ajang usia 17 tahun tersebut yang diproyeksikan menjadi ruang untuk menemukan dan mengembangkan talenta menuju level yang lebih tinggi.
Bagi pemain seperti Irsyad, kesempatan tampil di kompetisi tersebut menjadi bagian dari proses panjang yang sudah dimulai sejak usia dini.
Di belakang setiap penampilan pemain muda, terdapat dukungan keluarga yang sering kali tidak terlihat, mulai dari waktu mendampingi latihan hingga pengorbanan materi untuk memenuhi kebutuhan sepak bola.
Cerita Anas menunjukkan perjuangan orang tua dapat berjalan beriringan dengan cita-cita seorang atlet muda.
Selama bertahun-tahun, ia tidak hanya mengantar Irsyad menuju latihan dan turnamen, tetapi juga menanamkan pesan agar sepak bola dijalani dengan rasa hormat, sportivitas, dan tanggung jawab.
Nilai itu pula yang diharapkan menjadi bekal Irsyad ketika mengejar mimpi lebih besar bersama generasi muda Indonesia.
Sebab, bagi Anas, medali bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang pemain, sementara sikap menghormati lawan dan menjaga sesama pemain justru menjadi bagian penting dari perjalanan seorang atlet.