← Beranda
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Moch. Rizky Pratama PutraSenin, 17 Agustus 2026 | 18.24 WIB
Linda Novaria Astrawinata mendampingi putranya, Mu’ammar Haikal Adabi Subekti, yang tergabung dalam tim Banteng D.I Yogyakarta di Soekarno Cup 2026. (Dok. Linda untuk JawaPos.com)

 

JawaPos.com — Perjuangan Linda Novaria Astrawinata mendampingi putranya, Mu’ammar Haikal Adabi Subekti, turnamen Soekarno Cup 2026 menjadi gambaran nyata pengorbanan orang tua dalam membentuk talenta sepak bola muda.

Ibu yang tergabung bersama tim Banteng D.I Yogyakarta itu rela membagi waktu, tenaga, dan biaya demi mendukung sang anak mengejar cita-cita sebagai atlet.

Ketika Waktu Menjadi Pengorbanan Terbesar

Bagi Linda, pengorbanan terbesar dalam mendampingi perjalanan Haikal sebagai atlet bukan hanya soal biaya, melainkan waktu dan tenaga yang harus terus diberikan di tengah kesibukannya sebagai ibu bekerja.

Baca Juga: Legenda Timnas Indonesia Ingatkan 400 Pemain Muda Soekarno Cup 2026 Jaga Sportivitas

Aktivitas mengantar latihan, mendampingi pertandingan, hingga mengatur kembali urusan pribadi menjadi bagian dari keseharian yang harus dijalani demi perkembangan sang anak.

“Menurut saya, pengorbanan terbesar saya adalah waktu, tenaga saya sebagai ibu bekerja dan juga biaya yang saya keluarkan untuk mendukung anak saya,” ujar Linda Novaria Astrawinata, kepada JawaPos.com, Senin (17/8/2026).

Dukungan tersebut tidak berhenti ketika anaknya berada di lapangan, sebab Linda juga harus memastikan Haikal tetap mendapatkan pendampingan saat menghadapi berbagai situasi dalam perjalanan sebagai pemain muda.

“Seperti mulai dari mengantar latihan, mendampingi saat pertandingan, sampai harus mengesampingkan beberapa kepentingan pribadi dan keluarga,” lanjutnya.

Baca Juga: PDIP Punya 3 Klub di Liga Indonesia! Siapkan Jalur Talenta Muda dari Soekarno Cup

Bagi Linda, pilihan tersebut menjadi konsekuensi yang harus diterima ketika seorang anak memutuskan menekuni sepak bola secara serius sejak usia muda.

Tidak Mudah Saat Hasil Belum Sesuai Harapan

Perjalanan seorang atlet muda tidak selalu berjalan mulus, termasuk ketika hasil pertandingan belum sesuai dengan target yang diharapkan.

Kondisi tersebut juga menjadi ujian bagi orang tua yang harus tetap memberikan dukungan ketika anak mengalami kekecewaan setelah bertanding.

“Tentunya tidak selalu mudah, apalagi ketika hasil yang didapat belum sesuai harapan,” kata Linda.

Meski begitu, ia memilih melihat setiap pertandingan sebagai bagian dari proses panjang yang harus dilewati Haikal untuk berkembang menjadi pemain yang lebih matang.

“Tapi saya selalu berusaha mengingat bahwa proses ini adalah bagian dari perjuangan anak saya untuk meraih cita-citanya,” ujarnya.

Baca Juga: Said Abdullah Bangga Banteng Jatim Juarai Soekarno Cup 2025

Cara pandang tersebut membuat Linda tidak menjadikan kemenangan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan, melainkan juga melihat pengalaman, kerja keras, dan perkembangan sang anak dari waktu ke waktu.

Soekarno Cup 2026 sendiri diarahkan bukan sekadar sebagai kompetisi untuk menentukan juara, tetapi juga menjadi panggung pembinaan pemain muda dari 16 provinsi.

Kompetisi kelompok usia 17 tahun tersebut diharapkan menjadi ruang bagi para pemain untuk mengasah kemampuan sekaligus membuka jalan menuju level internasional.

Kegagalan Bukan Alasan untuk Berhenti

Ketika menghadapi masa sulit, Linda berusaha mengambil peran sebagai sumber motivasi bagi anaknya agar tidak larut dalam kekecewaan.

Baca Juga: Soekarno Cup U-17, 12 Tim Futsal Bertanding di Gelora Bung Tomo Surabaya

Baginya, kegagalan dalam pertandingan justru bisa menjadi pengalaman penting untuk membantu seorang pemain muda memahami kekurangan dan memperbaikinya.

“Jadi, ketika sedang menghadapi masa sulit, saya berusaha memberikan semangat dan mengingatkan bahwa kegagalan bukan berarti harus berhenti, tetapi menjadi pengalaman untuk terus berkembang,” tutur Linda.

Pesan tersebut menjadi penting bagi Haikal yang sedang menjalani proses pembentukan mental dan kemampuan sebagai atlet sepak bola di usia muda.

Dukungan seperti itu membuat perjuangan seorang pemain tidak hanya berlangsung selama 90 menit di lapangan.

Di balik setiap sesi latihan dan pertandingan, terdapat orang tua yang ikut mengatur waktu, menyiapkan kebutuhan, mengeluarkan biaya, sekaligus memberikan dorongan ketika anak sedang berada dalam kondisi sulit.

Bagi Linda, proses tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan anaknya. Ia tidak ingin Haikal hanya mengejar hasil pertandingan, tetapi juga memahami nilai yang harus dibawa ketika menjadi seorang atlet.

Membawa Nama Daerah hingga Indonesia

Linda juga menanamkan pemahaman kepada Haikal jika menjadi atlet memiliki tanggung jawab lebih besar daripada sekadar mengejar medali.

Setiap pemain yang tampil membawa nama daerah maupun Indonesia memiliki kesempatan untuk menunjukkan karakter, kedisiplinan, dan sikap sportif kepada banyak orang.

“Saya selalu menanamkan kepada anak saya bahwa menjadi atlet bukan hanya tentang mendapatkan medali, tetapi juga tentang membawa nama baik daerah dan bangsa,” ucap Linda.

Nilai tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Haikal bersama Banteng D.I Yogyakarta di Soekarno Cup 2026.

Menurut Linda, perjuangan seorang atlet harus dibangun melalui disiplin, kerja keras, pantang menyerah, sportivitas, dan rasa tanggung jawab.

Lima nilai tersebut dinilai tidak kalah penting dibandingkan kemampuan teknis karena akan menentukan bagaimana seorang pemain bersikap ketika menghadapi kemenangan maupun kekalahan.

“Nilai perjuangan seperti disiplin, kerja keras, pantang menyerah, sportivitas, dan rasa tanggung jawab harus selalu dijaga,” katanya.

Bagi Linda, nilai-nilai tersebut juga memiliki kaitan kuat dengan semangat perjuangan yang terus diwariskan kepada generasi muda Indonesia.

Harapan Ibu untuk Masa Depan Sang Anak

Linda ingin Haikal memahami jika kesempatan mengenakan atribut tim atau membawa nama Indonesia merupakan sebuah kepercayaan besar.

Karena itu, ia meminta sang anak selalu bermain dengan sungguh-sungguh, menghormati lawan, dan memberikan kemampuan terbaik dalam setiap pertandingan.

“Saya ingin anak memahami bahwa ketika memakai nama Indonesia dalam sebuah pertandingan, ia membawa harapan dan kebanggaan banyak orang,” ujar Linda.

Pesan tersebut menjadi bekal penting bagi pemain muda yang tengah mengejar mimpi menembus level sepak bola yang lebih tinggi.

“Jadi, apapun hasil pertandingannya, yang paling penting adalah berjuang dengan sungguh-sungguh, menghargai lawan, dan memberikan yang terbaik untuk negara,” sambungnya.

Di balik perjuangan Haikal bersama Banteng D.I Yogyakarta, ada seorang ibu yang terus hadir dengan waktu, tenaga, biaya, serta doa agar cita-cita sang anak tidak berhenti di tengah jalan.

Perjalanan Soekarno Cup 2026 pun menjadi salah satu ruang penting bagi talenta usia 17 tahun untuk menunjukkan kemampuan di hadapan publik sepak bola.

Bagi Linda, apa pun hasil akhirnya, pengalaman tersebut tetap menjadi bagian dari proses panjang seorang anak untuk belajar, berjuang, dan mengejar mimpi menjadi atlet yang membanggakan keluarga sekaligus Indonesia.

EDITOR: Edi Yulianto