JawaPos.com - Mantan pelatih Persib Bandung, Robert Rene Alberts, buka suara setelah FIFA resmi mencabut sanksi yang menghantui Pangeran Biru -julukan Persib Bandung. Ia bahkan menyebut keluarganya sempat menerima komentar negatif oleh segelintir pihak yang tak mengetahui duduk perkara.
Pada 10 Agustus 2026, Persib Bandung sempat masuk daftar FIFA Registration Ban karena sengketa dengan Rene Alberts. Namun, perkara tersebut telah selesai usai FIFA menerbitkan surat resmi bertanggal 11 Agustus 2026 dengan Ref. No. FDD-28859. Dalam surat itu, FIFA menyatakan perkara Pangeran biru telah ditutup setelah menerima konfirmasi pembayaran kewajiban kepada Rene Alberts.
Rene Alberts pun angkat bicara setelah sengketa dengan mantan timnya berakhir, melalui instagram pribadinya @robertrenealberts, Rabu (12/8). Juru taktik asal Belanda itu mengungkapkan sejak awal dirinya memang tidak ingin koar-koar mengenai sengketa tersebut. Di tengah persoalan itu, ia mengakui keluarganya sempat mendapat komentar negatif dari pihak yang tak paham.
Baca Juga: Sengketa dengan Robert Rene Alberts Selesai, Persib Bandung Bebas dari Sanksi FIFA
“Saya telah diam tentang hal ini untuk waktu yang cukup lama dan ada alasan untuk itu. Saya tidak pernah ingin membawa sengketa pribadi ke publik atau menciptakan masalah yang tidak perlu bagi siapa pun. Saya memilih untuk mengikuti proses yang tepat dan membiarkan FIFA menangani masalah ini,” kata Rene Alberts dalam akun instagramnya, Rabu (12/8/2026).
“Tapi baru-baru ini, saya telah melihat dan mendengar komentar dari orang-orang yang jelas tidak tahu ceritanya dan mereka mulai menyalahkan keluarga saya dan saya sendiri. Dan jujur saja, itu tidak baik dan tidak adil juga. Jadi itulah mengapa saya akhirnya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi,” sambungnya.
Rene Alberts kemudian membeberkan kronologi awal mula persoalan yang berujung pada sanksi FIFA. Pelatih berusia 71 tahun itu menyampaikan bahwa dirinya tak pernah dipecat Persib Bandung, melainkan mengundurkan diri. Ia mengungkapkan bahwa kontraknya masih berlaku hingga Mei 2025.
Baca Juga: Jakmania Full Senyum! I.League Pastikan Duel Persija Jakarta vs Persib Bandung Digelar di Jakarta
“Pada tahun 2021, saya menandatangani perjanjian saya dengan Persib dan kontrak saya berlangsung hingga Mei 2025. Penting untuk diperhatikan, saya tidak pernah dipecat pada masa itu, tapi saya mengundurkan diri dari posisi saya sebagai pelatih kepala. Ini juga karena hubungan baik dengan manajemen pada masa itu. Manajemen selalu transparan kepada saya dan kami berusaha untuk menyelesaikan masalah pembayaran, dan saya menunggu dengan sabar untuk tindak lanjut mereka,” terangnya.
Pergantian kepengurusan di Persib Bandung disebut Rene Alberts menjadi titik awal munculnya percikan. Ia mengungkapkan sempat bertemu dengan pihak manajemen untuk berdiskusi mengenai pembayaran sisa kontraknya. Pertemuan itu pun menemukan titik cerah.
“Manajemen Persib berubah setelah itu. Dan dengan manajemen baru, saya berusaha untuk membahas pembayaran yang belum terbayar dalam rencana pembayaran. Kami bernegosiasi pengaturan pembayaran selama durasi kontrak saya dan pada Januari 2025, saya secara pribadi bertemu dengan Adithia dari manajemen baru, dan kami duduk berhadapan, kami berusaha untuk menyelesaikan semuanya bersama-sama. Sebuah solusi yang seharusnya lebih baik untuk kedua belah pihak. Dan saya, tentu saja, juga tertarik untuk membantu klub, karena saya memahami situasi mereka,” urai Rene Alberts.
Rene Alberts menjelaskan kedua pihak sepakat untuk angsurannya dibayar dengan nilai yang lebih rendah dari jumlah kontrak awal. Hanya saja, pembayaran angsuran tersebut justru tidak berjalan mulus, sesuai dengan perjanjian yang disepakati.
“Kami mencapai kesepakatan untuk membuat angsuran dari Maret hingga Desember 2025. Sebenarnya, saya setuju untuk mengurangi jumlah aslinya dan saya bersedia berkompromi, menerima kurang dari jumlah kontrak aslinya karena saya juga memahami situasi klub dan saya benar-benar berusaha membantu klub. Jadi ini bukanlah situasi di mana saya tiba-tiba menuntut sesuatu yang tidak masuk akal dari klub. Saya sudah berkompromi, saya sudah mengurangi apa yang harusnya saya dapatkan, dan saya setuju dengan pengaturan pembayaran dengan itikad baik. Yang saya harapkan setelah itu adalah agar perjanjian yang sama dihormati,” terangnya.
Rene Alberts juga membantah jika Persib Bandung tidak mengetahui sengketa tersebut. Menurutnya, kedua pihak telah mengetahui adanya kesepakatan pembayaran dan proses penyelesaian yang telah berlanjut ke FIFA.
Baca Juga: Persib Bandung Pinjamkan Hamra Hehanussa ke Garudayaksa
“Saya merasa sulit untuk memahami karena ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara diam-diam atau tanpa pengetahuan klub. Bolehkah saya mengingatkan Anda bahwa kami telah mengadakan pertemuan pada Januari 2025, di mana kami telah menyelesaikan masalah-masalah ini. Klub mengetahui tentang pengaturan pembayaran, klub mengetahui tentang pembayaran yang belum dilunasi, masalah ini dibawa ke FIFA dan FIFA mengeluarkan keputusan resmi,” paparnya.
“Ini bukan hanya klaim pribadi saya atau sesuatu yang saya putuskan sendiri. Ini adalah proses resmi FIFA. Bukti telah diserahkan dan FIFA membuat keputusannya. FIFA telah menentukan bahwa Persib memiliki kewajiban yang belum dilunasi kepada saya dan memerintahkan pembayaran tahun lalu. Ketika pembayaran masih belum dilakukan oleh Persib, konsekuensi di bawah proses FIFA diikuti, termasuk sanksi pendaftaran tahun lalu,” lanjut Rene Alberts.
Meski demikian, Rene Alberts menegaskan bahwa membawa persoalan tersebut ke FIFA bukanlah pilihan pertamanya. Ia mengaku sempat berusaha menyelesaikan masalah secara kekeluargaan karena tak ingin merusak hubungannya dengan Persib Bandung, salah satu klub yang telah membesarkan namanya.
"Saya berdiam selama ini karena ingin melindungi hubungan. Secara jujur, saya berharap kami dapat menyelesaikan semuanya tanpa pergi ke FIFA. Malangnya, itu tidak terjadi. Selama proses ini, saya tetap diam dan tidak pergi ke media sama sekali," katanya.
Rene Alberts juga menepis anggapan bahwa keputusannya melaporkan Persib Bandung ke FIFA didasari kebencian atau keinginan untuk merugikan klub. Eks pelatih PSM Makassar itu meminta publik melihat fakta dan kronologi secara utuh sebelum memberikan penilaian.
“Jadi, ketika orang-orang mengatakan bahwa itu adalah kebencian, mencoba untuk menyakiti klub, atau itu adalah tanggung jawab untuk situasi ini," kata Robert. "Saya pikir, pentingnya orang-orang mengetahui fakta dulu, lalu mulai berbicara apa yang mereka pikir adalah benar dan salah," tandasnya.