JawaPos.com - Piala Presiden 2026 telah menuntaskan perjalanannya sebagai edisi kedelapan sejak pertama kali digelar pada 2015. Selain menjadi ajang pemanasan klub-klub Indonesia sebelum kompetisi resmi, turnamen ini juga kembali membawa isu transparansi dalam penyelenggaraannya.
Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden, Maruarar Sirait, menegaskan bahwa turnamen tersebut tetap mengedepankan keterbukaan, terutama dalam pengelolaan keuangan.
Ia menyebut Piala Presiden tidak menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun anggaran dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Baca Juga: Juara Piala Presiden 2026! 3 Pemain Persebaya Jalani Pemulihan Jelang Super League 2026/2027
Menurut Maruarar, seluruh pendanaan Piala Presiden 2026 berasal dari pihak swasta. Pengelolaan keuangan turnamen juga diaudit oleh auditor internasional sebagai bagian dari upaya menjaga kepercayaan publik.
"Delapan kali Piala Presiden, kami berpikir keras bagaimana membangun reputasi dan kepercayaan. Salah satu alat ukur transparansi adalah audit," ujar Maruarar.
Pada edisi 2026, dukungan sponsor Piala Presiden mencapai Rp100 miliar. Angka tersebut turut berdampak pada peningkatan hadiah bagi klub peserta. Juara mendapatkan Rp8 miliar, sedangkan peringkat kedua memperoleh Rp3,5 miliar.
Baca Juga: Persebaya Surabaya Juara Piala Presiden, Ernando Ari Optimistis Hadapi Super league
Sementara itu, tim yang menempati posisi ketiga dan keempat masing-masing mendapatkan Rp2,5 miliar dan Rp1,5 miliar. Peningkatan tersebut menjadi salah satu gambaran berkembangnya nilai Piala Presiden setelah melewati delapan edisi.
Maruarar menilai konsistensi dalam penyelenggaraan juga menjadi bagian penting untuk menjaga reputasi turnamen.
Menurutnya, kepercayaan tidak hanya dibangun melalui pertandingan, tetapi juga melalui pemenuhan berbagai komitmen kepada klub, sponsor, pemegang hak siar, suporter dan masyarakat.
Di sisi olahraga, Piala Presiden 2026 tetap memberikan manfaat bagi klub sebagai bagian dari persiapan menghadapi musim 2026/2027.
Pertandingan dengan intensitas tinggi menjadi kesempatan bagi pelatih untuk melihat perkembangan tim sekaligus menentukan bagian yang masih perlu diperbaiki.
Arema FC, misalnya, menjalani lima pertandingan sepanjang turnamen. Pelatih Marcos Santos menyebut rangkaian laga tersebut membantu timnya melakukan evaluasi sebelum memasuki kompetisi resmi.
"Lima pertandingan di Piala Presiden sangat membantu proses kami. Selama turnamen, tim terus berkembang dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya," kata Marcos.
Piala Presiden 2026 juga digelar di sejumlah stadion di Jawa dan Bali. Setelah fase grup, pertandingan semifinal hingga final berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar.
Selain persaingan, turnamen turut menghadirkan sejumlah momen sportivitas. Rivalitas yang berlangsung sengit di lapangan tetap diikuti sikap saling menghormati setelah pertandingan.
Dengan berakhirnya Piala Presiden 2026, turnamen ini kembali menegaskan posisinya sebagai ajang pramusim yang bukan hanya memberi ruang bagi klub menguji kekuatan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun sepak bola yang lebih profesional dan transparan.