← Beranda
Bukan Sekadar Patung, Tiga Singa di Stasiun Kota Baru Malang Simpan Sejarah dan Identitas Arema
Andre Rizal HanafiKamis, 23 Juli 2026 | 02.06 WIB
Patung tiga singa di depan Stasiun Baru Kota Malang. (Ist).

 

 

JawaPos.com - Siapa pun yang baru turun di Stasiun Kota Baru Malang hampir pasti akan langsung melihat tiga patung singa berukuran besar yang berdiri gagah di Taman Trunojoyo. Bagi sebagian orang, patung tersebut menjadi spot foto favorit.

Namun di balik tampilannya yang mencolok, tersimpan kisah panjang tentang sejarah, identitas, dan kebanggaan warga Malang.

Ketiga patung singa itu telah menjadi salah satu ikon yang melekat dengan Kota Malang. Letaknya yang tepat berada di depan stasiun membuatnya menjadi pemandangan pertama yang menyambut para wisatawan maupun penumpang kereta yang datang dari berbagai daerah.

Keberadaan patung tersebut ternyata tidak bisa dipisahkan dari sejarah kawasan Stasiun Kota Baru.

Jalur kereta api menuju Malang mulai dibangun pada era kolonial Belanda sekitar tahun 1870. Stasiun pertama di kota ini diresmikan pada 20 Juli 1879 dan saat itu menghadap ke kawasan militer Belanda di Rampal.

Seiring perkembangan Kota Malang, stasiun kemudian dipindahkan sekitar 100 meter ke arah selatan pada dekade 1930-an.

Bangunan baru yang masih digunakan hingga sekarang mengusung arsitektur kolonial modern bergaya Nieuwe Bouwen dan mulai difungsikan sekitar tahun 1939.

Bangunan bersejarah tersebut juga memiliki nilai historis tinggi. Pada 2018, Pemerintah Kota Malang menetapkannya sebagai Bangunan Cagar Budaya sehingga keberadaannya tetap dilestarikan sebagai bagian dari perjalanan panjang kota.

Sementara itu, Taman Trunojoyo yang berada tepat di depan stasiun diresmikan pada 1 Juni 2014.

Beberapa bulan setelahnya, tepat pada 28 Desember 2014, tiga patung singa resmi diperkenalkan kepada masyarakat.

Patung tersebut merupakan hasil sayembara desain yang digelar Pemerintah Kota Malang. Desain karya dosen Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang, Heppy Jundan Hendrawan, akhirnya terpilih untuk diwujudkan menjadi ikon baru kota.

Masing-masing patung memiliki tinggi dan lebar sekitar tujuh meter sehingga tampil mencolok dari kejauhan. Ukurannya yang besar membuat ketiga singa tersebut mudah dikenali oleh siapa pun yang melintas di kawasan Stasiun Kota Baru.

Pemilihan tiga singa bukan tanpa alasan. Saat itu, Pemerintah Kota Malang menjelaskan bahwa patung tersebut menjadi simbol persatuan tiga wilayah di Malang Raya, yakni Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu.

Selain itu, keberadaan tiga singa juga dianggap mewakili identitas Arema, Aremania, dan Aremanita yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Malang.

Simbol singa sendiri sudah lama melekat dengan Malang. Jejaknya dapat ditelusuri sejak masa Kerajaan Singhasari pada abad ke-13.

Nama Singhasari memiliki makna "singa yang gagah", sementara relief maupun patung singa juga ditemukan di sejumlah peninggalan sejarah seperti Candi Jago dan Candi Kidal.

Dalam perkembangannya, simbol singa semakin kuat ketika menjadi identitas Arema FC yang dikenal dengan julukan Singo Edan.

Karena itu, kehadiran tiga patung singa di depan stasiun seolah menjadi penanda bahwa setiap orang yang datang telah memasuki Kota Malang.

Kini, kawasan Taman Trunojoyo tidak hanya menjadi ruang terbuka hijau, tetapi juga tempat berkumpul masyarakat.

Wisatawan kerap berhenti untuk berfoto, sementara berbagai kegiatan komunitas hingga perayaan Aremania juga sering digelar di lokasi tersebut.

Perpaduan antara bangunan bersejarah Stasiun Kota Baru dan tiga patung singa menciptakan wajah khas Kota Malang.

Baca Juga: Berguinho Tak Sabar Reuni dengan Mariano Peralta di Persib Bandung, Yakin Bisa Wujudkan Target Musim Ini

Satu menghadirkan cerita masa lalu, sementara yang lain menjadi simbol identitas yang terus hidup hingga sekarang.

Tak heran jika tiga singa di depan stasiun kini menjadi salah satu landmark yang paling mudah dikenali sekaligus membanggakan bagi warga Malang.

 

EDITOR: Kuswandi