JawaPos.com — Persebaya Surabaya memantau kebugaran seluruh pemain menggunakan dua instrumen khusus menjelang 99th Anniversary Game melawan PSIS Semarang di Stadion Gelora Bung Tomo, Minggu (19/7/2026).
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan setiap pemain berada dalam kondisi fisik dan mental terbaik sehingga mampu menjalani program latihan sesuai target sekaligus menekan risiko cedera.
Persiapan Green Force memang tidak hanya berpusat pada aspek teknis, taktis, maupun fisik di lapangan. Di balik setiap sesi latihan, tim medis bekerja bersama staf pelatih memanfaatkan pendekatan sports science agar kondisi pemain terus terpantau dari hari ke hari.
Bagaimana Persebaya Surabaya Memantau Kondisi Pemain Setiap Hari?
Persebaya Surabaya menerapkan dua jenis kuesioner yang wajib diisi pemain sebelum dan sesudah latihan. Instrumen tersebut adalah wellness questionnaire sebelum latihan serta Rate of Perceived Exertion (RPE) setelah latihan selesai.
Dokter tim Persebaya Surabaya, dr. Hansel, menjelaskan kedua instrumen itu menjadi bagian penting dalam memonitor kondisi pemain secara menyeluruh. Hasilnya kemudian digunakan sebagai dasar evaluasi oleh tim medis dan staf pelatih sebelum mengambil keputusan terkait program latihan.
"Di Persebaya, setiap pemain mengisi dua jenis kuesioner secara rutin. Yang pertama adalah wellness questionnaire sebelum latihan, dan yang kedua adalah kuesioner RPE setelah latihan,” ujar dr. Hansel dikutip dari laman resmi Persebaya.id, Sabtu (18/7/2026).
“Secara umum, kedua instrumen ini digunakan untuk memantau kondisi pemain sebelum dan sesudah menjalani sesi latihan.
Pendekatan tersebut membuat kondisi pemain tidak hanya dinilai dari pengamatan di lapangan. Tim pelatih juga memperoleh data objektif yang berasal dari laporan langsung para pemain sehingga proses pengambilan keputusan menjadi lebih akurat.
Apa Fungsi Wellness Questionnaire dan RPE?
Wellness questionnaire digunakan untuk mengetahui tingkat kesiapan pemain sebelum latihan dimulai. Melalui instrumen ini, setiap pemain memberikan penilaian mengenai kualitas tidur, tingkat kelelahan, kondisi otot, suasana hati, hingga proses pemulihan setelah menjalani aktivitas sebelumnya.
Seluruh data tersebut kemudian dianalisis oleh tim medis bersama tim pelatih. Dari hasil itu, staf dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi fisik maupun mental pemain sebelum mengikuti sesi latihan dengan intensitas yang telah ditentukan.
Sementara itu, RPE atau Rate of Perceived Exertion digunakan setelah latihan selesai. Skala yang digunakan berada pada angka satu hingga sepuluh, di mana nilai yang lebih tinggi menunjukkan beban latihan yang dirasakan pemain semakin berat.
"Kuesioner wellness yang diisi pemain sebelum latihan digunakan oleh tim medis dan tim pelatih untuk mengetahui tingkat kesiapan pemain dalam menjalani sesi latihan,” ucapnya.
“Melalui data tersebut, kami bisa melihat bagaimana proses pemulihan yang dilakukan pemain di rumah, apakah ada keluhan tertentu, serta bagaimana kondisi fisik mereka sebelum memasuki lapangan.”
"Kuesioner RPE digunakan untuk mengukur tingkat kelelahan atau beban latihan yang dirasakan pemain setelah menjalani sesi latihan. Penilaian ini sepenuhnya berasal dari persepsi pemain terhadap intensitas latihan yang mereka jalani," tambahnya.
Dengan mengombinasikan dua instrumen tersebut, Green Force memiliki gambaran lengkap mengenai kondisi pemain sebelum dan sesudah latihan. Hal itu membuat proses pemantauan tidak hanya bergantung pada tes fisik, tetapi juga memperhitungkan kondisi subjektif yang dirasakan masing-masing pemain.
Mengapa Data Ini Penting bagi Tim Pelatih?
Dr. Hansel menjelaskan hasil dari kedua instrumen tersebut membantu staf pelatih mengevaluasi apakah beban latihan yang diberikan sudah sesuai dengan target program. Data harian itu juga menjadi acuan dalam mengukur efektivitas latihan yang sedang dijalankan selama masa persiapan.
Sebagai contoh, apabila tim pelatih merancang sesi latihan dengan intensitas rendah tetapi mayoritas pemain memberikan nilai RPE yang tinggi, kondisi tersebut menjadi indikator adanya faktor lain yang perlu dievaluasi.
Faktor tersebut bisa berupa kelelahan, kurangnya proses pemulihan, atau kondisi fisik yang belum sepenuhnya optimal.
"Apabila dari hasil wellness questionnaire diketahui ada pemain yang belum berada dalam kondisi optimal untuk berlatih, maka tim pelatih dapat menyesuaikan program latihan secara individual, baik dengan menurunkan intensitas maupun mengurangi volume latihan sesuai kebutuhan pemain tersebut," katanya.
Penyesuaian latihan secara individual menjadi salah satu keuntungan dari penerapan sports science. Setiap pemain memiliki respons tubuh yang berbeda terhadap beban latihan sehingga pendekatan personal dinilai lebih efektif dibanding memberikan program yang sama kepada seluruh pemain.
Persiapan Green Force Semakin Detail Jelang Hadapi PSIS Semarang
Penerapan wellness questionnaire dan RPE menunjukkan persiapan Persebaya Surabaya kini semakin detail menjelang menghadapi PSIS Semarang pada 99th Anniversary Game. Tim pelatih tidak hanya mengejar peningkatan performa, tetapi juga menjaga agar seluruh pemain tetap berada dalam kondisi ideal hingga hari pertandingan.
Menurut dr. Hansel, data yang dikumpulkan setiap hari memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan antara peningkatan performa dan kondisi fisik pemain. Seluruh informasi tersebut menjadi bahan evaluasi penting sebelum menentukan program latihan berikutnya.
"Data ini sangat penting karena tim pelatih sudah merancang setiap sesi latihan dengan target intensitas tertentu,” jelasnya.
“Setelah latihan selesai, pemain akan memberikan penilaian apakah intensitas yang mereka rasakan sesuai dengan yang direncanakan atau tidak.”
Pendekatan tersebut menjadi bukti Green Force semakin serius memanfaatkan ilmu pengetahuan olahraga dalam proses persiapan.
Di tengah antusiasme menyambut laga spesial di Stadion Gelora Bung Tomo, kolaborasi tim pelatih dan tim medis diharapkan mampu memastikan seluruh pemain tampil dalam kondisi terbaik saat menghadapi PSIS Semarang di hadapan ribuan Bonek dan Bonita.