JawaPos.com - Rencana Malut United memindahkan home base ke Kota Semarang untuk super league musim 2026/2026 mulai memasuki tahap komunikasi dengan berbagai pihak.
Manajemen klub menggelar dialog sekaligus silaturahmi bersama perwakilan suporter PSIS Semarang, Panser Biru dan Snex, PT Mahesa Jenar, serta jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, di Hotel Grand Candi Semarang, Selasa (30/6).
Pertemuan dihadiri Asisten Gubernur Jawa Tengah, Disporapar Jawa Tengah, Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Biro Hukum, serta Plt Wakil Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah Khoirul Anwar beserta jajaran. Sementara dari kubu Malut United hadir Presiden Direktur Sofyan Lestaluhu bersama jajaran pelatih, di antaranya Khoirul Anwar, Resal Octavian, dan Alan Haviludin.
Suasana diskusi berlangsung santai dan hangat, Agenda tersebut menjadi ajang kulonuwun sekaligus memperkenalkan rencana Malut United yang akan berkandang di Stadion Jatidiri, Kota Semarang.
Plt Wakil Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah Khoirul Anwar berharap, kehadiran Malut United tidak hanya sebatas memindahkan markas, tetapi juga mampu memberikan dampak positif terhadap perkembangan sepak bola di Jawa Tengah.
Dia berharap klub tersebut dapat ikut membantu pembinaan sepak bola usia dini serta berkontribusi terhadap peningkatan prestasi sepak bola Jawa Tengah. Termasuk mendukung target masuk tiga besar cabang olahraga sepak bola pada PON 2028.
Baca Juga: Yan Diomande Buka Suara soal Transfer meski Ditahan RB Leipzig: Saya Berharap untuk Pergi
Menanggapi hal tersebut, Presiden Direktur Malut United Sofyan Lestaluhu menyampaikan bahwa pengembangan pemain muda memang menjadi salah satu fokus utama klub. Sesuai nazar pemilik klub, Malut United telah menjalin kerja sama dengan klub asal Portugal, Benfica, untuk mengembangkan akademi usia dini.
“Program ini difokuskan kepada pembinaan anak usia 7 sampai 9 tahun. Nantinya mereka akan masuk ke academy yang memang diprioritaskan bagi anak-anak yatim piatu dan keluarga kurang mampu,” ujar Sofyan.
Dia menjelaskan, fasilitas akademi yang telah dibangun di Ternate terbuka bagi anak-anak berbakat dari Kota Semarang maupun wilayah lain di Jawa Tengah. “Kalau ada pemain muda potensial dari Semarang, tentu bisa kami kirim untuk mengikuti pembinaan di academy tersebut,” tambah Sofyan.
Sesi tanya jawab menjadi bagian yang paling menarik dalam dialog tersebut. Ketua Panser Biru, Kepareng atau yang akrab disapa Wareng, menyampaikan bahwa organisasinya tidak mempermasalahkan kehadiran Malut United di Kota Semarang. Panser Biru sejak awal lahir hanya untuk mendukung PSIS Semarang sehingga kehadiran klub baru tidak mengubah sikap organisasi tersebut.
Meski demikian, dia menyampaikan beberapa harapan kepada manajemen Malut United agar tidak menimbulkan gesekan di kemudian hari. Wareng meminta agar klub tersebut tidak menggunakan nama Semarang dalam identitas barunya.
Selain itu, apabila jadwal pertandingan Malut United dan PSIS berbenturan di Stadion Jatidiri, Malut United diharapkan bersedia menggunakan stadion lain. Panser Biru juga berharap logo baru klub tidak menggunakan elemen yang identik dengan PSIS, termasuk gambar Tugu Muda maupun dominasi warna biru pada jersey.
“Intinya kami tidak menolak adanya Malut United di Semarang. Yang penting tidak membawa identitas yang menyerupai PSIS,” tegas Wareng.
Menanggapi hal tersebut, Sofyan memastikan pihaknya menghormati seluruh masukan yang disampaikan suporter. Dia menegaskan nama baru yang tengah dipersiapkan tidak akan menggunakan unsur Semarang. Begitu pula dengan logo klub yang dipastikan tidak akan memiliki kemiripan dengan identitas PSIS.
“Soal nama sudah ada beberapa pilihan dan dipastikan tidak memakai unsur Semarang. Logo juga tidak akan identik dengan PSIS,” ungkap Sofyan.
Dia juga memastikan apabila jadwal pertandingan Malut United berbenturan dengan PSIS di Stadion Jatidiri, pihaknya siap mengalah dan menggunakan stadion lain sebagai venue pertandingan. Menurut Sofyan, Malut United hadir bukan sebagai pesaing PSIS, melainkan ingin menjadi mitra dalam memajukan sepak bola Jawa Tengah.
“Kami bukan kompetitor PSIS. Kami ingin bersinergi untuk membangun sepak bola Jawa Tengah,” ujar Sofyan.
Hal senada disampaikan Ketua Snex Fredy Chandra. Dia menegaskan komunitas suporter yang dipimpinnya juga tidak merasa terancam dengan kehadiran Malut United. Menurut Fredy, kecintaan anggota Snex tetap hanya diberikan kepada PSIS Semarang.
Baca Juga: Deltras FC Kebanjiran CV Pelatih Berlisensi A Pro, Manajemen Segera Tentukan Head Coach Baru
Menutup dialog tersebut, Soal nama Malut United ada bebeapa opsi nama yang jelas tidak ada nama Semarang.
Sofyan kembali menegaskan visi besar yang ingin diwujudkan Malut United setelah berkandang di Semarang. Dia berharap kehadiran klub dapat ikut mengembalikan Jawa Tengah sebagai salah satu sentra pembinaan pemain muda terbaik di Indonesia melalui kolaborasi dengan seluruh elemen sepak bola di daerah.