JawaPos.com – All Stars Surabaya menunjukkan mental juara saat menyingkirkan All Stars Solo pada perempat final MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All-Stars 2026, Jumat (26/6). Sempat tertinggal lebih dulu lewat gol Ika Wonda, tim besutan Saidong bangkit untuk membalikkan keadaan dan menang 2-1 demi mengamankan tiket semifinal.
Laga berlangsung sengit sejak peluit awal dibunyikan. Solo tampil percaya diri dan mampu mencuri gol lebih dulu melalui Ika Wonda. Gol tersebut sempat membuat Surabaya berada dalam tekanan, terutama di lini tengah yang beberapa kali kalah dalam duel perebutan bola.
Namun, kondisi itu tidak berlangsung lama. Surabaya perlahan menemukan ritme permainan dan mulai mendominasi penguasaan bola. Pola umpan pendek dari kaki ke kaki yang menjadi identitas tim mulai berjalan efektif hingga memaksa Solo lebih banyak bertahan.
Usaha Surabaya membuahkan hasil pada menit ke-11. Emily Zitara dari SDN Manukan Kulon Surabaya berhasil memanfaatkan peluang untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Gol tersebut mengubah jalannya pertandingan. Surabaya tampil semakin agresif dan berani menekan pertahanan Solo. Di tengah cuaca Kudus yang cukup terik, kedua tim terlibat jual beli serangan, namun Surabaya tampil lebih efektif dalam memanfaatkan peluang.
Gol kemenangan akhirnya lahir pada menit ke-24 melalui Jesshica dari SDK Santa Maria Goretti Surabaya. Keunggulan 2-1 berhasil dipertahankan hingga pertandingan usai sekaligus mengantar Surabaya melangkah ke babak semifinal.
Hasil tersebut sekaligus membuktikan prediksi Head Coach MilkLife Soccer Challenge, Jacksen F. Tiago, yang sebelumnya menyebut persaingan perempat final akan berlangsung ketat. Menurut pelatih berlisensi UEFA Pro itu, delapan tim yang lolos memang menunjukkan konsistensi sejak fase grup.
Khusus laga Surabaya kontra Solo, Jacksen menilai duel ini menjadi yang paling menarik karena menjadi satu-satunya pertandingan perempat final yang mempertemukan dua tim yang belum pernah berhadapan sebelumnya. "Di sini kita akan melihat kecerdasan pelatih dalam mengolah tim agar tetap konsisten dan mampu membuat kejutan. Sementara tim yang pernah kalah harus melakukan evaluasi dan mencari momentum kebangkitan. Semua pertandingan punya cerita masing-masing," ujarnya.
Pelatih All Stars Surabaya Saidong mengaku bangga dengan respons para pemainnya yang tidak kehilangan kepercayaan diri setelah tertinggal lebih dulu. "Anak-anak menjalankan instruksi dengan sangat baik. Kami tetap memainkan karakter tim, yaitu penguasaan bola yang kuat. Walaupun ini pertandingan knockout yang penuh tekanan, saya bilang kepada mereka, berani bermain karena inilah sepak bola. Dan itu dilakukan oleh anak-anak," katanya.
Menurut Saidong, gol yang dicetak Solo tidak membuat timnya mengubah pendekatan permainan. Ia meminta para pemain tetap tenang dan konsisten menjalankan skema yang telah dipersiapkan. "Itu bagian dari sepak bola. Lawan memanfaatkan peluang dan mencetak gol. Setelah itu saya hanya meminta anak-anak tetap bermain seperti biasa. Apa pun yang terjadi, tetap main kaki ke kaki," ucapnya.
Saidong juga memberikan apresiasi khusus kepada Emily Zitara yang kembali menjadi salah satu pembeda di lini depan Surabaya. Menurutnya, pemain tersebut memiliki kemampuan membaca ruang yang sangat baik. "Emily punya kemampuan mengambil posisi dengan baik. Dia bisa bermain sebagai striker maupun sayap. Mobilitas dan cara berpikirnya di lapangan sangat bagus," tuturnya.
Sementara itu, kapten tim Surabaya Locita Olahnismara Nismara mengungkapkan para pemain terus menjaga semangat meski sempat tertinggal. "Saya bilang ke teman-teman, ayo mental juara. Kita pasti bisa, ayo kuat, semangat. Kita belum kalah karena waktu masih banyak," ujarnya.
Menghadapi semifinal, Locita menilai tim harus mempersiapkan diri lebih matang, terutama dari sisi fisik dan mental. "Fisik harus dipersiapkan lebih baik lagi karena pertandingan semifinal pasti lebih berat," katanya.
Senada dengan sang kapten, Saidong menilai babak semifinal akan menjadi ujian mental yang sesungguhnya bagi para pemain muda Surabaya. "Kapan kita kuat? Ketika ada tekanan. Kapan kita terlihat hebat? Ketika ada tekanan. Jadi semifinal ini kesempatan mereka untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih kuat," tegasnya.