JawaPos.com - Suasana menjelang FIFA Matchday Juni 2026 menghadirkan pemandangan yang cukup berbeda bagi pencinta sepak bola nasional.
Jika dalam beberapa tahun terakhir tiket pertandingan Timnas Indonesia hampir selalu habis dalam waktu singkat, kondisi kali ini justru menunjukkan tren yang berlawanan.
Menjelang laga uji coba melawan Oman pada 5 Juni dan Mozambik pada 9 Juni di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), tiket pertandingan masih tersedia dan belum menunjukkan lonjakan permintaan seperti biasanya.
Baca Juga: Hasil Piala AFF U-19 2026: Timnas Indonesia U-19 Gasak Timor Leste U-19, Jaga Asa ke Semifinal
Situasi ini memunculkan berbagai tanggapan dari kalangan suporter yang menilai ada beberapa faktor yang memengaruhi menurunnya minat untuk hadir langsung ke stadion.
Salah satu faktor yang paling banyak menjadi sorotan adalah harga tiket yang dianggap cukup tinggi untuk pertandingan persahabatan.
Tiket kategori tribun utara dan selatan dijual mulai Rp 300 ribu, sementara kategori VIP dibanderol Rp 500 ribu dan VVIP mencapai Rp 750 ribu.
Bagi sebagian pendukung, harga tersebut dinilai kurang sebanding dengan status pertandingan yang hanya berlabel laga uji coba.
Kondisi ekonomi serta kebutuhan lain juga menjadi pertimbangan bagi banyak suporter dalam menentukan apakah akan datang langsung ke stadion atau memilih menyaksikan pertandingan melalui siaran televisi dan platform digital.
Selain persoalan harga, keputusan untuk membatasi kapasitas stadion juga ikut menuai perhatian. PSSI hanya menyediakan sekitar 35 ribu tiket dan menutup seluruh tribun atas SUGBK.
Kebijakan tersebut membuat kapasitas stadion berkurang cukup signifikan dibandingkan potensi maksimal yang biasa digunakan pada pertandingan besar Timnas Indonesia.
Pembatasan kapasitas ini memunculkan kekhawatiran bahwa atmosfer khas Gelora Bung Karno yang selama ini dikenal meriah dan penuh dukungan tidak akan terasa maksimal.
Padahal, dukungan suporter selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu kekuatan utama yang membantu membangun semangat para pemain di lapangan.
Di sisi lain, menurunnya antusiasme juga dikaitkan dengan hasil yang belum memuaskan dalam perjalanan Timnas Indonesia pada agenda kompetitif sebelumnya.
Kekecewaan sebagian pendukung disebut masih terasa sehingga berdampak pada minat mereka untuk kembali memenuhi stadion dalam waktu dekat.
Fenomena ini menjadi sinyal penting bagi federasi untuk melakukan evaluasi terhadap berbagai kebijakan yang berkaitan dengan pengalaman suporter.
Mulai dari penetapan harga tiket, distribusi kursi penonton, hingga strategi membangun kembali kepercayaan publik menjadi aspek yang perlu mendapat perhatian.
FIFA Matchday sejatinya dapat menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara Timnas Indonesia dan para pendukungnya.
Namun jika antusiasme terus menurun, tribun yang tidak terisi penuh di GBK bisa menjadi pesan yang cukup jelas bahwa suporter menginginkan pendekatan yang lebih dekat dan lebih ramah bagi mereka.