← Beranda
PSIS Kena Sanksi FIFA, Ketua Panser Biru Kritik Alasan Yoyok Sukawi Soal Subsidi PT LIB
Andre Rizal HanafiSelasa, 2 Juni 2026 | 19.35 WIB
Panser Biru. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Sanksi yang dijatuhkan FIFA kepada PSIS Semarang terus memicu protes di kalangan suporter Laskar Mahesa Jenar.

Setelah mantan CEO PSIS, Yoyok Sukawi, memberikan penjelasan terkait penyebab terjadinya tunggakan gaji pemain dan pelatih, respons keras justru datang dari Ketua Panser Biru, Kepareng atau yang akrab disapa Wareng.

Sebelumnya, FIFA menjatuhkan larangan aktivitas transfer kepada PSIS Semarang selama tiga periode bursa transfer atau setara satu setengah musim kompetisi. Sanksi tersebut diberikan setelah adanya laporan terkait tunggakan gaji yang belum diselesaikan oleh klub.

Baca Juga: Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan

Diketahui, dua mantan pemain asing PSIS, Ruxi dan Evandro, melaporkan persoalan tersebut ke FIFA. Laporan itu kemudian berujung pada hukuman yang membuat PSIS tidak bisa mendaftarkan pemain baru hingga kewajiban kepada pihak yang bersangkutan diselesaikan.

Menanggapi situasi tersebut, Yoyok Sukawi menyebut salah satu faktor yang memengaruhi kondisi keuangan klub adalah belum cairnya dana subsidi dari PT Liga Indonesia Baru (LIB).

Namun alasan itu tidak diterima begitu saja oleh Wareng. Melalui akun Instagram pribadinya @Kepareng_wareng, ia mempertanyakan logika di balik penjelasan tersebut.

Baca Juga: Bek Persib Bandung Frans Putros Cetak Sejarah! Jadi Pemain Aktif Liga Indonesia Pertama yang Main di Piala Dunia!

Menurutnya, banyak klub lain yang juga mengalami keterlambatan pencairan subsidi dari PT LIB, tetapi tetap mampu memenuhi kewajiban pembayaran gaji pemain dan pelatih karena memiliki manajemen keuangan yang sehat.

Wareng bahkan menilai alasan subsidi yang belum turun tidak bisa dijadikan pembenaran atas tunggakan yang berujung laporan ke FIFA.

Ia juga menyoroti fakta bahwa yang melaporkan kasus tersebut baru pemain asing. Menurutnya, apabila seluruh pihak yang merasa dirugikan berani menempuh jalur yang sama, persoalan yang dihadapi klub bisa saja lebih besar.

Tidak hanya mengkritik penjelasan Yoyok Sukawi, Wareng turut membagikan pengalaman pribadinya saat masih menjadi bagian dari tim suksesnya pada tahun 2019.

Dalam unggahannya, ia mengaku pernah mendapatkan janji bonus ketika membantu perjuangan tertentu pada tahun tersebut. Namun bonus yang dijanjikan tidak diterima secara penuh dan justru dicicil hingga bertahun-tahun sebelum akhirnya dianggap selesai.

Meski demikian, Wareng mengaku selama ini memilih diam karena menganggap hal tersebut sebagai bentuk dukungannya kepada sosok yang dinilai pernah berkontribusi untuk PSIS Semarang.

Baca Juga: Obrigado, Bruno Moreira! Kapten Persebaya Dirumorkan Hengkang dari Surabaya, Gabung Klub ACL Elite?

Sikapnya berubah setelah melihat kondisi PSIS yang menurutnya mengalami kemunduran hingga akhirnya harus terdegradasi dari kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

"Dilogika saja. Kepada tim sukses saja bisa ingkar janji, apalagi kepada pemain atau pekerja," tulis Wareng dalam salah satu unggahannya.

Tak berhenti di situ, Wareng kembali mengungkit pernyataan yang pernah disampaikan Yoyok Sukawi saat masih aktif mengelola klub. Ia menilai alasan yang digunakan terkait pembayaran utang kepada pemain terus berubah dari waktu ke waktu.

Menurut Wareng, ketika masih berada di dalam manajemen klub, alasan yang digunakan berkaitan dengan penjualan aset keluarga atau deposito.

Sementara setelah menjual kepemilikam sahamnya di PSIS Semarang, alasan yang muncul bergeser kepada subsidi PT LIB yang belum dibayarkan.

Pernyataan tersebut sontak mendapat perhatian luas dari pendukung PSIS di media sosial. Sebagian suporter mendukung kritik yang disampaikan Wareng karena menganggap persoalan tunggakan gaji tidak seharusnya terjadi di klub profesional.

Di sisi lain, ada pula yang berharap polemik ini tidak berlarut-larut dan fokus utama tetap diarahkan pada upaya penyelesaian masalah yang sedang dihadapi PSIS.

Saat ini, sanksi FIFA masih berlaku dan akan membatasi pergerakan PSIS di bursa transfer. Klub berjuluk Mahesa Jenar itu baru bisa kembali mendaftarkan pemain baru apabila seluruh kewajiban terkait tunggakan gaji yang menjadi dasar hukuman telah diselesaikan.

Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah besar bagi manajemen PSIS. Selain harus memulihkan kondisi finansial klub, mereka juga dituntut mengembalikan kepercayaan suporter yang dalam beberapa waktu terakhir terus mempertanyakan transparansi dan pengelolaan keuangan tim.

EDITOR: Banu Adikara