JawaPos.com - Juni adalah bulan kelahiran dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila. Juni juga dikenang sebagai bulan Soekarno karena Presiden Indonesia pertama itu lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya.
Namun bagi Bonek, Juni adalah bulannya Persebaya Surabaya. Sebab, pada 18 Juni, klub kebanggaan arek-arek Surabaya itu merayakan hari lahirnya.
Sebagai bentuk perayaan ulang tahun Persebaya yang tahun ini berusia 99 tahun, Bonek pun menyambutnya dengan berbagai cara. Dari pantauan Jawa Pos.com pada Senin (1/6), spanduk raksasa dengan tema Persebaya dibentangkan di berbagai titik kota.
Baca Juga: FIFA Ubah Aturan Cegah Taktik Bola Mati Ala Inggris di Piala Dunia
Mulai dari jembatan penyeberangan di area Menanggal, lalu di depan UIN Sunan Ampel, kawasan Wonokromo, area Basuki Rahmat, hingga Jalan Tunjungan. Dalam spanduk-spanduk tersebut para Bonek menyematkan harapannya.
Misalnya Kami Rindu Juara yang terpasang di jembatan penyeberangan Basuki Rahmat. Kemudian ada juga spanduk bertuliskan Kutantang Prestasimu di area Wonokromo. Lalu ada juga Meski Bumi Berguncang Kau Tetap Persebayaku di kawasan Kedungdoro.
Selain spanduk, komunitas-komunitas Bonek juga membuat mural. Salah satunya yang dilakukan kelompok Bonek Radikal x Sobat Kotor. Sejak Senin (1/6) sekitar pukul 10.00 WIB, tiga Bonek sudah membuat mural di tembok yang ada di Jalan Embong Malang.
Baca Juga: Reaksi Veda Ega usai Finis Posisi 8 Moto3 Italia 2026
Mereka adalah M. Imron, Andri Setiawan, dan Setyo Tri Wintoro. Pengerjaan mural pada tembok sepanjang 7 meter dengan tinggi sekitar 2 meter itu rampung sekitar pukul 15.00 WIB.
Dalam mural yang dibuat di tembok seberang Hotel 88 itu, Imron dkk mengabadikan dua pemain legendaris Persebaya, Bejo Sugiantoro dan Eri Irianto. Kedua pemain tersebut kini telah tiada. Eri berpulang pada 3 April 2000. Sedangkan Bejo pada 25 Februari 2025.
Untuk memperingati ulang tahun ke-99 Persebaya di 2026 ini, Imron dkk juga membuat tetenger khusus dalam muralnya. Hal itu bisa terbaca dalam teks mural tersebut, TUKAN99EDOR PERSEBAYA SURABAYA. Atau dibaca Tukang Gedor Persebaya Surabaya.
"Jadi, almarhum Haji Bejo juga almarhum Eri ini adalah tukang gedor Persebaya. Meski posisi bermainnya adalah bek dan gelandang, mereka berhasil mencetak gol dan memberikan kejayaan bagi Persebaya," kata Imron.
Dalam mural itu Bejo hadir memakai jersi Persebaya musim 2002. Kemudian Eri digambar ketika membela Persebaya musim 1998-1999. Di samping kedua pemain tersebut tercantum tahun kelahiran serta meninggal keduanya.
Bagi Imron dkk, mural adalah ekspresi kecintaan kepada Persebaya. Mural adalah upaya membuat Persebaya abadi, kata Imron. Sejak usia belasan, Imron sudah membuat mural Persebaya. Pada awal tahun 2000-an, Imron menggambari tembok-tembok yang ada di pinggir jalur kereta api. Salah satunya tembok perlintasan kereta api yang ada di dekat Stasiun Sepanjang, Sidoarjo.
Baca Juga: Zverev Diuji Jodar Si Bintang Muda dalam Perempat Final French Open
Imron mengatakan sekitar dua pekan lalu dirinya dihubungi dan diminta bantuan menggambar mural oleh Bonek Kedungturi. Area membuat mural ini ada di kawasan tinggal Bonek Kedungturi.
"Saya sudah senang dimintai tolong arek-arek mas. Mural ini saya anggap sebagai bentuk rasa cinta kepada Persebaya sepanjang hayat saya," ujar Imron.
Setelah menggarap di kawasan Jalan Embong Malang pada awal Juni ini, Imron berencana menghasilkan mural berikutnya. Jika tidak ada aral melintang, proyek mural berikutnya Imron dkk terletak di tembok kawasan Wonokromo.
Dalam membuat mural, Imron menggunakan kombinasi cat tembok serta cat minyak. Cat tembok untuk memberi warna dasar pada mural yang akan dibuat. Kemudian untuk gambar utama, digunakanlah cat minyak.
Warna-warna dalam mural ini, Imron memakai warna hijau yang notabene warna kebesaran Persebaya. Kemudian dikombinasikan dengan warna putih, hitam, dan kuning.
Bagus, salah satu Bonek Kedungturi, mengatakan rencana mural ini sudah dimatangkan di internal komunitasnya. Untuk pembiayaan mural seperti kebutuhan cat, kuas, logistik selama pengerjaan mural diambilkan dari kas. Setiap bulan, tiap anggota Bonek Kedungturi patungan untuk kas komunitas sebesar Rp 10 ribu.
Baca Juga: Khvicha Kvaratskhelia Dinobatkan Sebagai Pemain Terbaik Liga Champions 2025/26
"Untuk kebutuhan mural ini, misal cat, kuas, dan lain-lain habis sekitar Rp 450 ribu sampai Rp 500 ribu. Dan itu kami ambilkan dari uang kas kami di Bonek Kedungturi ini," ujar Bagus.