← Beranda
182 Sepak Pojok Terbuang Percuma! Striker Persebaya Surabaya Layak Dievaluasi Musim Depan
Moch. Rizky Pratama PutraSenin, 11 Mei 2026 | 17.34 WIB
Striker Persebaya Surabaya Bruno Paraiba saat berduel melawan pemain Persis Solo di Stadion Manahan. 182 sepak pojok Persebaya terbuang percuma (Dok. Persebaya)

JawaPos.com — Persebaya Surabaya menjadi tim dengan jumlah sepak pojok terbanyak kedua di Super League 2025/2026 dengan torehan 182 corner dari 32 pertandingan. Namun, melimpahnya peluang itu belum sebanding dengan produktivitas dua striker murni Green Force, Mihailo Perovic dan Bruno Paraiba, yang total baru mencetak enam gol sepanjang musim.

Rentetan tiga kemenangan beruntun Persebaya Surabaya akhirnya terhenti setelah ditahan Persis Solo tanpa gol di Stadion Manahan, Sabtu malam (9/5/2026).

Hasil imbang 0-0 itu kembali memperlihatkan masalah klasik Green Force, yakni buruknya penyelesaian akhir meski mampu menciptakan banyak peluang sepanjang pertandingan.

Banyak Sepak Pojok, Minim Gol Penyerang

Persebaya Surabaya sejauh ini termasuk tim paling agresif dalam menghasilkan peluang dari sisi sayap dan bola mati.

Statistik Super League 2025/2026 mencatat Green Force sudah memperoleh 182 sepak pojok atau rata-rata 5,69 corner per laga hingga pekan ke-32.

Jumlah tersebut hanya kalah dari Persija Jakarta yang mengoleksi 200 sepak pojok dari 32 pertandingan.

Bahkan Persebaya Surabaya masih unggul dibanding Persib Bandung yang mengemas 171 sepak pojok maupun PSM Makassar dengan 176 corner.

Sayangnya, derasnya suplai peluang itu belum mampu dimaksimalkan lini depan Green Force. Dua striker murni era Bernardo Tavares, Mihailo Perovic dan Bruno Paraiba, justru tampil jauh dari ekspektasi sebagai ujung tombak utama tim.

Mihailo Perovic yang menjadi striker utama baru mencetak lima gol dari 26 pertandingan musim ini.

Baca Juga: Bonek Kecewa! Persebaya Surabaya Disalip Dewa United, Kans Tembus 4 Besar Kian Menipis

Penyerang asal Montenegro itu juga hanya menyumbang satu assist dari total 1.627 menit bermain bersama Persebaya Surabaya.

Sementara Bruno Paraiba yang didatangkan untuk menambah daya gedor juga belum menunjukkan kontribusi signifikan.

Dari sembilan pertandingan, striker asal Brasil tersebut baru mencetak satu gol dan dua assist dalam 292 menit bermain.

Jika digabung, dua striker murni Green Force hanya menghasilkan enam gol sepanjang musim.

Jumlah itu dinilai belum sebanding dengan banyaknya peluang maupun dominasi permainan yang sering diperlihatkan Persebaya Surabaya.

Dominasi Persebaya Surabaya Tak Berujung Kemenangan

Masalah efektivitas kembali terlihat saat menghadapi Persis Solo di Stadion Manahan. Meski bermain tandang, Persebaya Surabaya mampu tampil dominan terutama sepanjang babak pertama pertandingan.

Bruno Moreira dan kolega beberapa kali sukses membongkar pertahanan Persis Solo melalui kombinasi serangan cepat maupun umpan dari sisi lapangan. Total lima tembakan tepat sasaran berhasil dilepaskan Green Force sepanjang laga.

Pelatih Bernardo Tavares menilai anak asuhnya sebenarnya tampil cukup baik dalam mengontrol pertandingan. Menurut dia, Persebaya Surabaya memiliki peluang lebih banyak dibanding tuan rumah pada fase awal laga.

“Menurut saya pertandingan berjalan sangat intens. Pada babak pertama, kami sebenarnya memiliki lebih banyak peluang dibanding lawan. Hingga sekitar 15 menit pertama kami mampu mengontrol permainan dengan cukup baik,” ujar Tavares.

Pelatih asal Portugal tersebut melihat Persis Solo sengaja bermain lebih menunggu sambil mengandalkan serangan balik cepat.

Strategi itu membuat pertandingan berjalan ketat dan mempersulit Green Force mengembangkan permainan secara maksimal.

“Persis lebih banyak menunggu dan mencoba memanfaatkan situasi transisi. Mereka juga berusaha menutup ruang agar kami sulit mengembangkan permainan,” imbuhnya.

Penyelesaian Akhir Jadi PR Besar Bernardo Tavares

Bernardo Tavares secara terbuka mengakui Persebaya Surabaya memiliki banyak peluang yang gagal dimanfaatkan menjadi gol.

Kondisi itu membuat Green Force kembali kehilangan poin penting dalam persaingan papan atas klasemen.

Menurut dia, hasil pertandingan bisa saja berbeda apabila para pemain tampil lebih efektif di depan gawang lawan. Buruknya finishing menjadi salah satu faktor utama Persebaya Surabaya gagal mencetak gol di Manahan.

“Jika kami bisa memaksimalkan peluang-peluang di babak pertama maupun kedua, mungkin hasilnya akan berbeda dan kami punya peluang lebih besar untuk memenangkan pertandingan,” ucapnya.

Ucapan Tavares seolah mempertegas persoalan utama Green Force musim ini. Persebaya Surabaya sebenarnya cukup konsisten menciptakan peluang, tetapi produktivitas penyerang belum mampu menjawab kebutuhan tim.

Statistik sepak pojok menjadi bukti nyata agresivitas permainan Green Force sepanjang musim.

Dengan rata-rata hampir enam corner per pertandingan, Persebaya Surabaya sebenarnya memiliki banyak kesempatan membangun peluang dari bola mati.

Namun, minimnya kontribusi striker membuat banyak kesempatan itu terbuang percuma. Situasi tersebut mulai memunculkan tuntutan evaluasi terhadap komposisi lini depan Green Force untuk menghadapi musim depan.

Baca Juga: Bonek Kecewa! Persebaya Surabaya Disalip Dewa United, Kans Tembus 4 Besar Kian Menipis

Bomber Persebaya Mihailo Perovic saat menghadapi Persis Solo pada putaran pertama Super League. (Dok. Antara)
Bomber Persebaya Mihailo Perovic saat menghadapi Persis Solo pada putaran pertama Super League. (Dok. Antara)

Satu Poin Tetap Disyukuri Persebaya Surabaya

Meski gagal mempertahankan tren kemenangan, Bernardo Tavares tetap mengapresiasi perjuangan para pemainnya di Stadion Manahan.

Dia menilai satu poin tetap menjadi hasil penting mengingat Persis Solo sangat kuat saat bermain di kandang sendiri.

“Tentu kami ingin menang, tetapi satu poin di stadion yang sulit seperti ini tetap harus disyukuri. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada para pemain yang sudah berjuang keras,” pungkasnya.

Tambahan satu poin membuat Persebaya Surabaya tetap menjaga posisi di papan atas klasemen Super League 2025/2026.

Namun, penyelesaian akhir dan ketajaman striker tampaknya bakal menjadi pekerjaan rumah besar yang wajib dibenahi sebelum musim baru dimulai.

EDITOR: Hendra