JawaPos.com–Persebaya Surabaya kembali bersiap menghadapi laga panas kontra Arema FC pada pekan ke-30 Super League 2025/2026. Duel sarat gengsi itu akan digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Selasa (28/4) tanpa kehadiran penonton.
Situasi tanpa suporter pada lanjutan super league, justru mengingatkan publik pada rivalitas panjang Persebaya vs Arema FC yang kerap memanas di lapangan. Salah satu cerita paling membekas datang dari bek asing Persebaya Surabaya, Leo Lelis, yang pernah merasakan langsung atmosfer ekstrem di Stadion Kanjuruhan.
Momen itu terjadi pada 1 Oktober 2022 saat Persebaya Surabaya menang dramatis 3-2 atas Arema FC. Namun, kemenangan tersebut berubah menjadi kenangan kelam karena berujung pada Tragedi Kanjuruhan yang mengguncang sepak bola Indonesia.
Baca Juga: Pemkab Jember Hapus Denda Sejumlah Pajak hingga Juni 2026
Leo Lelis menjadi bagian penting dalam laga tersebut dengan berduet bersama Rizky Ridho di lini belakang. Di bawah arahan pelatih Aji Santoso, dia tampil solid menjaga pertahanan tim Green Force dari gempuran tuan rumah.
”Sejak saya datang ke Persebaya, saya selalu dengar tentang pertandingan melawan Arema adalah pertandingan yang spesial. Dan momen pertandingan ini tiba saat kita kalah tiga kali beruntun lalu kita menghadapi Arema,” ungkap Leo Lelis di kanal resmi Persebaya Surabaya.
Tekanan besar sudah terasa bahkan sebelum pertandingan dimulai. Lelis mengakui seluruh tim memiliki motivasi berlipat untuk bangkit dari tren negatif sekaligus membuktikan kualitas di laga penuh gengsi tersebut.
Baca Juga: Nico Paz Siap Pulang ke Real Madrid Musim Depan
”Itu membuat pertandingan ini penting bagi kami, sejak pekan pertama, kita merasa ingin cepat bermain di pertandingan ini. Kami ingin sekali bermain di laga lawan Arema ini secepatnya, kami mempersiapkan diri sangat keras,” lanjut Leo Lelis.
Persiapan matang itu berbuah hasil di lapangan. Persebaya Surabaya tampil disiplin dan mampu menjaga fokus hingga peluit akhir dibunyikan.
”Dan saat itu tiba, lebih siap untuk menghadapi pertandingan ini,” kata Leo Lelis singkat.
Namun, ketegangan tak hanya datang dari permainan di atas lapangan. Lelis juga mengalami insiden tidak menyenangkan saat berada di pinggir lapangan.
”Saya salah satu pemain yang dilempari, dua botol mengarah ke saya saat saya dirawat di pinggir lapangan. Tapi saya tidak bereaksi pada lemparan karena saya sangat fokus dengan pertandingan agar bisa segera kembali ke lapangan dan menjaga keunggulan untuk kita,” beber Leo Lelis.
Situasi tersebut menunjukkan betapa panasnya atmosfer rivalitas Persebaya Surabaya dan Arema FC. Meski mendapat tekanan dari luar, Lelis tetap memilih menjaga profesionalitasnya sebagai pemain.
Baca Juga: Arda Guler Pernah Tolak Dortmund Demi Real Madrid, Kini Harus Buktikan Pilihannya
Dia menegaskan fokus utama saat itu adalah mempertahankan keunggulan tim. Komunikasi antar pemain belakang menjadi kunci untuk meredam serangan lawan.
”Fokus di belakang dan bertahan sangat tinggi. Sangat bagus. Kami terus berkomunikasi, khususnya saya dengan Ridho,” jelas Leo Lelis.
Setelah peluit panjang berbunyi, suasana semakin emosional. Lelis mengaku sempat kebingungan menghadapi situasi di stadion yang mulai tidak kondusif.
Baca Juga: Ayah Endrick Blak-blakan: Kurang Menit Bermain di Real Madrid Hambat Perkembangan
”Saya kebingungan, saya benar-benar bingung, saya tidak tahu mau kemana dan harus bagaimana, saya hanya sangat senang, saya senang sekali,” tutur Leo Lelis.
Perasaan bahagia karena kemenangan bercampur dengan kewaspadaan tinggi. Dia sadar tidak bisa merayakan kemenangan secara bebas di hadapan suporter tuan rumah.
”Tapi saya tahu saya tidak bisa dekat-dekat dengan suporter karena saya pasti dapat lemparan botol. Jadi saya hanya merayakan dengan teman-teman dan itu menyenangkan,” lanjut Leo Lelis.
Baca Juga: Benzema Bongkar Masalah Real Madrid Musim Ini: Mereka Tidak Bermain Sebagai Tim
Selebrasi pun dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Lelis memilih tetap berada di area aman demi menghindari risiko yang lebih besar.
”Saya sangat ingin selebrasi tapi saya tahu saya tidak bisa terlalu dekat dengan tribun penonton. Saya mau merayakan tapi di area aman,” ungkap Leo Lelis.
Pengalaman tersebut semakin menegaskan betapa besar rivalitas antara kedua tim. Lelis bahkan menyebut duel Persebaya Surabaya melawan Arema FC sebagai salah satu yang terbesar.
”Rivalitas ini sangat besar, saya bisa berpendapat rivalitas Persebaya Surabaya dan Arema ini salah satu yang terbesar. Karena begitu banyak orang menantikan pertandingan ini, banyaknya yang hadir baik ketika digelar di Malang atau Surabaya,” tegas Leo Lelis.
Baca Juga: Fermin Lopez Beri Komentar Soal Barcelona yang Makin Dekat ke Gelar La Liga
Kini, saat kedua tim kembali bertemu di Bali tanpa penonton, nuansa laga jelas akan berbeda. Namun, tensi pertandingan diyakini tetap tinggi mengingat sejarah panjang dan gengsi yang melekat.
Kondisi stadion yang kosong justru bisa menjadi keuntungan bagi pemain untuk lebih fokus pada permainan. Tidak ada tekanan langsung dari tribun, tetapi semangat rivalitas tetap membara di dalam lapangan.
Di laga besok, Leo Lelis pun berpotensi turun untuk menghadapi Arema FC di bawah komando pelatih Bernardo Tavares.
Pengalaman Leo Lelis menjadi pengingat laga ini bukan sekadar pertandingan biasa. Ada emosi, tekanan, dan sejarah panjang yang selalu menyertai setiap pertemuan Persebaya Surabaya dan Arema FC.
Dengan segala cerita yang pernah terjadi, duel kali ini tetap layak dinantikan. Meski tanpa penonton, tensi panas dipastikan tetap terasa hingga peluit akhir berbunyi.