JawaPos.com — Kritik keras mulai mengarah pada kebijakan transfer Persebaya Surabaya, khususnya dalam merekrut pemain asing. Bonek menilai Green Force terlalu sering “berjudi” dengan pemain yang belum punya pengalaman di Liga Indonesia.
Sorotan ini mencuat setelah sebuah fanbase @onlinepersebaya membeberkan pola rekrutmen dalam beberapa musim terakhir. Mereka menilai manajemen belum belajar dari kegagalan berulang dalam memilih pemain asing.
“Lebih baik keluar sedikit lebih banyak untuk membajak pemain dari tim lawan yang sudah terbukti, daripada tiap tahun gambling ambil pemain dari luar Liga Indonesia,” tulis mereka.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran kekecewaan suporter terhadap arah kebijakan klub. Apalagi, pola ini disebut sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa perubahan signifikan.
“Apakah salah ambil pemain asing dari luar Liga Indonesia? Tidak. Tapi kalian sudah bertahun-tahun gagal.”
Dalam data yang diunggah, terlihat jelas banyaknya pemain asing Persebaya Surabaya yang direkrut tanpa pengalaman di kompetisi domestik.
Nama-nama tersebut datang dengan harapan tinggi, namun tidak semuanya mampu menjawab ekspektasi.
Beberapa pemain memang berhasil tampil menonjol dan memberi kontribusi nyata bagi tim. Di antaranya Aryn Williams, Mahmoud Eid, Alie Sesay, Taisei Marukawa, Bruno Moreira, Sho Yamamoto, Yan Victor, dan Slavko Damjanovic.
Namun, jumlah pemain yang gagal memenuhi harapan juga tidak sedikit. Hal ini memperkuat anggapan kebijakan transfer masih belum berjalan efektif.
Sebaliknya, fanbase tersebut menilai rekrutan yang sudah pernah bermain di Liga Indonesia justru lebih konsisten. Faktor adaptasi menjadi kunci penting yang membuat mereka lebih cepat menyatu dengan permainan tim.
Nama-nama seperti Robertino Pugliara, David Da Silva, Otavio Dutra, Makan Konate, Ze Valente, hingga Mohammed Rashid disebut sebagai contoh sukses. Mereka dinilai mampu memberikan kontribusi besar sejak awal bergabung.
Hanya segelintir yang dianggap kurang maksimal dari kategori ini. Selebihnya menunjukkan kualitas yang lebih stabil dibanding pemain yang benar-benar baru di Indonesia.
Baca Juga: Buntut Tendangan Kungfu Fadly Alberto! I.League Kirim Surat Cinta ke Klub, Masa Depan jadi Taruhan
Fenomena ini memperlihatkan adanya pola yang seharusnya bisa menjadi bahan evaluasi manajemen. Pengalaman di Liga Indonesia terbukti memberi pengaruh besar terhadap performa pemain asing.
Kritik ini terasa semakin relevan jika melihat performa terbaru Persebaya Surabaya di lapangan. Saat menghadapi Madura United, dominasi permainan tidak mampu diubah menjadi kemenangan.
Persebaya Surabaya memang tampil menekan dengan penguasaan bola mencapai 72 persen. Mereka juga mencatatkan 23 tembakan, namun hanya enam yang tepat sasaran.
Efektivitas kembali menjadi masalah klasik yang belum teratasi. Kondisi ini seolah memperkuat kritik kualitas lini depan belum benar-benar optimal.
Pelatih Bernardo Tavares juga mengakui persoalan tersebut. Ia menyebut timnya masih kesulitan dalam penyelesaian akhir meski mampu menciptakan banyak peluang.
“Memang ini menjadi masalah ketika kami tidak bisa mencetak gol. Kami menciptakan banyak peluang, tetapi akurasinya masih kurang. Itu yang harus kami perbaiki,” ujarnya.
Ia menambahkan permainan tim sebenarnya sudah berkembang dengan baik. Namun, faktor keberuntungan dan ketajaman menjadi pembeda hasil akhir.
“Di babak kedua saya pikir kami menciptakan banyak peluang dan dinamika permainan yang baik. Tetapi terkadang kami kurang beruntung. Ada tembakan yang diblok, ada yang keluar, atau peluang yang tidak berbuah gol,” lanjutnya.
Kekalahan tersebut akhirnya menjadi pelengkap dari keresahan yang lebih besar. Bukan sekadar hasil pertandingan, tetapi juga cerminan dari persoalan yang lebih mendasar.
Bagi Bonek, masalah ini tidak bisa terus dianggap kebetulan. Mereka melihat ada benang merah antara kebijakan transfer dan performa tim di lapangan.
Jika terus bergantung pada pemain yang butuh waktu adaptasi panjang, risiko inkonsistensi akan selalu menghantui. Sementara kompetisi menuntut hasil instan dan stabilitas performa.
Persebaya Surabaya kini berada di persimpangan penting dalam menentukan arah kebijakan ke depan. Evaluasi menyeluruh menjadi hal yang tidak bisa ditunda lagi.
Manajemen dituntut lebih cermat dalam memilih pemain asing. Rekam jejak di Liga Indonesia bisa menjadi pertimbangan utama untuk meminimalkan risiko.
Tekanan dari suporter juga menjadi sinyal kuat agar perubahan segera dilakukan. Bonek ingin melihat Persebaya Surabaya kembali kompetitif, bukan terus terjebak dalam pola yang sama.
Dengan tantangan berat yang sudah menanti di laga berikutnya, keputusan yang diambil dalam waktu dekat akan sangat menentukan. Apakah Persebaya Surabaya berani berubah, atau kembali mengulang cerita lama.