JawaPos.com — Di balik mimpi besar seorang anak, selalu ada langkah panjang yang tak terlihat banyak orang. Itulah yang dijalani Artha Erlangga Gibran Arief, bocah 11 tahun yang tak pernah lelah menempuh perjalanan demi berlatih di Persebaya Academy.
Bersama sang ayah, Arief Marfianto, Erlangga rutin melakukan perjalanan dari Magetan ke Surabaya. Waktu tempuhnya tak sebentar, bahkan bisa mencapai empat jam hanya untuk sekali jalan.
Perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat, tetapi bagian dari perjuangan menjaga mimpi tetap hidup. Setiap langkah yang diambil menjadi bukti keseriusan seorang anak dalam mengejar cita-cita di dunia sepak bola.
Semua bermula dari hal sederhana, yakni media sosial yang memperkenalkan keluarga Erlangga pada Persebaya Academy.
Dari situlah muncul keyakinan tempat tersebut bisa menjadi wadah terbaik untuk mengembangkan bakatnya.
Tanpa ragu, sang ibu Wulan Sari langsung mengambil keputusan penting. Ia mendaftarkan Erlangga meski sadar jarak Magetan ke Surabaya bukan perjalanan yang ringan untuk dijalani secara rutin.
Sebelum bergabung, Erlangga sudah lebih dulu mengasah kemampuan di Mitra Soccer Academy Magetan. Di sana, bakatnya mulai terlihat dengan sejumlah prestasi yang berhasil diraih di level usia dini.
Ia pernah meraih juara pertama di ajang Grass Root Regional Blora. Selain itu, Erlangga juga membantu timnya finis di posisi ketiga dalam turnamen Piala Wali Kota Madiun.
Prestasi tersebut membuat keluarganya berpikir lebih serius soal masa depan sepak bolanya. Mereka mulai mencari tempat pembinaan yang lebih kompetitif dan mendukung perkembangan jangka panjang.
Sempat muncul opsi untuk melanjutkan pembinaan hingga ke Jakarta. Namun jarak yang terlalu jauh membuat keluarga akhirnya memilih Persebaya Surabaya sebagai tujuan yang lebih realistis.
Keputusan itu tentu bukan tanpa konsekuensi. Erlangga dan sang ayah harus menjalani perjalanan panjang setiap kali jadwal latihan tiba.
Perjalanan dimulai dengan sepeda motor dari Magetan menuju Madiun selama sekitar satu jam. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menggunakan Kereta Logawa menuju Surabaya.
Dalam beberapa kesempatan, mereka bahkan harus menginap demi menyesuaikan jadwal latihan. Semua dilakukan agar Erlangga tetap bisa mengikuti program di Persebaya Academy tanpa hambatan.
Tantangan terbesar justru datang dari faktor yang tak bisa dikendalikan, seperti cuaca. Hujan yang turun di tengah perjalanan kerap membuat kondisi jalan menjadi licin dan berbahaya.
Meski begitu, semangat tak pernah surut. “Kadang kalau hujan kita harus berangkat lebih awal. Tapi kalau anaknya sudah ingin latihan, ya tetap kita jalan,” ujar Arief.
Kisah ini sempat menarik perhatian publik setelah dibagikan oleh Imama Lavi di media sosial. Ia melihat perjuangan Erlangga sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar perjalanan jauh.
“Saya melihat ini tidak soal perjalanan jauh, tapi tentang mental dan konsistensi. Disiplin seperti ini jarang dimiliki anak seusianya,” ujar Imama. “Membentuk karakter dan mental di usia dini juga penting untuk kedepannya,” sambungnya.
Baca Juga: Persebaya Surabaya Banyak Kesalahan, Rachmat Irianto Minta Evaluasi Total Jelang Lawan Madura United
Imama juga menilai lingkungan sepak bola di Surabaya memberi dampak besar terhadap perkembangan pemain muda. Menurutnya, Persebaya Academy bukan hanya tempat latihan, tetapi juga ruang pembentukan karakter.
“Ekosistem sepak bola di Surabaya sudah sangat baik. Di Persebaya Academy, anak-anak tidak hanya dibentuk secara skill, tapi juga karakter. Mereka belajar disiplin, tanggung jawab, sekaligus memperluas networking sejak usia dini,” tambahnya.
Ia pun memberikan pesan kepada Erlangga agar tetap menikmati proses yang dijalani. “Terus jaga disiplin, nikmati setiap prosesnya. Perjalanan seperti ini akan jadi cerita berharga di masa depan,” tutupnya.
Kini, sudah sekitar empat bulan Erlangga menjadi bagian dari Persebaya Academy. Di usianya yang masih belia, ia mulai terbiasa dengan rutinitas yang jauh lebih padat dibandingkan anak seusianya.
Ia harus membagi waktu antara sekolah dan latihan. Di satu sisi, ia tetap menjalankan kewajibannya sebagai pelajar di Islamic International School Magetan.
Di sisi lain, ia juga dituntut menjaga kondisi fisik dan disiplin latihan. Ritme hidup seperti ini perlahan membentuk mentalnya menjadi lebih kuat.
Bagi Arief, memilih Persebaya Academy bukan sekadar soal tempat latihan. Ia melihat ada nilai lebih dalam program pembinaan yang diberikan.
“Programnya bagus. Anak-anak tidak hanya belajar teknik bermain, tapi juga diajarkan memahami proses dalam sepak bola. Mereka belajar tentang usaha, kerja keras, dan bagaimana menghadapi hasil pertandingan,” ungkapnya.
Nilai-nilai itu menjadi alasan utama keluarga tetap bertahan meski harus menjalani perjalanan melelahkan. Mereka percaya proses ini akan membentuk Erlangga menjadi pemain yang tidak hanya berbakat, tetapi juga berkarakter.
Disiplin menjadi fondasi utama dalam perjalanan ini. Setiap perjalanan panjang dan latihan yang dijalani menjadi bagian dari proses membangun mental seorang atlet muda.
Bagi Erlangga, disiplin bukan hanya soal datang tepat waktu. Ia belajar menjaga komitmen terhadap mimpi yang ingin diraihnya di masa depan.
Perjalanan dari Magetan ke Surabaya mungkin akan terus menjadi rutinitas berat. Namun bagi Erlangga dan ayahnya, itu bukan penghalang, melainkan bagian dari cerita perjuangan.
Di setiap perjalanan, ada keyakinan yang terus dijaga. Mimpi besar memang sering menuntut langkah yang lebih jauh dan pengorbanan yang tidak sedikit.
Selama disiplin tetap terjaga, langkah kecil Erlangga hari ini bisa menjadi awal dari perjalanan besar di dunia sepak bola Indonesia. Dan dari gerbong kereta itulah, mimpi itu terus bergerak mendekati kenyataan.