JawaPos.com — Kekalahan telak langsung memantik reaksi keras dari suporter setia. Persebaya Surabaya kini berada dalam sorotan tajam setelah tumbang 0-3 dari Persija Jakarta pada pekan ke-27 Super League 2025/2026.
Hasil pahit di Stadion Utama Gelora Bung Karno itu tak sekadar soal skor. Lebih dari itu, kekalahan tersebut memicu kegelisahan mendalam dari Bonek yang mulai mempertanyakan arah klub kebanggaan mereka.
Persebaya Surabaya memang harus mengakui keunggulan Persija Jakarta dalam laga tersebut. Green Force terlihat kesulitan mengimbangi permainan lawan hingga akhirnya menyerah tanpa balas.
Kondisi ini menjadi alarm serius bagi tim. Apalagi, laga kandang melawan Madura United sudah menanti di Stadion Gelora Bung Tomo pada Jumat (17/4/2026) mendatang.
Namun, bukan hanya performa di lapangan yang disorot. Kritik tajam justru mengarah ke manajemen klub, terutama kepada Presiden Persebaya Surabaya, Azrul Ananda.
Salah satu fanbase Bonek, @onlinepersebaya, secara terbuka menyampaikan unek-unek mereka. Nada yang digunakan tak lagi sekadar kritik biasa, melainkan sudah menjadi bentuk ultimatum.
“Kepercayaan yang dahulu begitu kuat, kini perlahan mulai memudar,” tulis @onlinepersebaya. Kalimat ini menjadi pembuka yang menggambarkan kekecewaan mendalam dari suporter.
Mereka menegaskan selama ini selalu berada di belakang manajemen. Dukungan itu diberikan sejak 2017 dengan harapan setiap kebijakan membawa Persebaya Surabaya menuju kejayaan.
“Akun ini merupakan salah satu pihak yang selama ini konsisten mendukung berbagai keputusan manajemen Persebaya Surabaya, khususnya di bawah kepemimpinan Azrul Ananda. Sejak tahun 2017, kami berupaya melihat dan menyampaikan sisi positif dari setiap kebijakan yang diambil, dengan harapan semua itu merupakan bagian dari proses menuju kejayaan klub.”
Namun memasuki tahun 2026, nada optimisme itu berubah menjadi keraguan. Mereka mulai melihat banyak keputusan yang dinilai tidak konsisten dan sulit dipahami.
“Namun memasuki tahun 2026, kami justru melihat adanya sejumlah keputusan yang menimbulkan tanda tanya besar. Alih-alih menunjukkan arah yang semakin jelas, kebijakan yang diambil terkesan tidak konsisten dan sulit dipahami dalam konteks membangun tim yang kompetitif.”
Salah satu sorotan utama adalah keputusan penunjukan pelatih. Fanbase tersebut menilai langkah itu tidak rasional dan jauh dari standar klub profesional.
“Penunjukan seorang pelatih kiper sebagai pelatih kepala tim utama, misalnya, merupakan keputusan yang sangat sulit untuk dipahami secara rasional. Kami memahami adanya keinginan untuk membangun identitas permainan tertentu, seperti gaya tiki-taka ala Spanyol. Namun, pendekatan tersebut seharusnya didukung oleh sosok dengan rekam jejak dan kompetensi yang relevan di posisi pelatih kepala.”
Tak hanya soal pelatih, pola transfer pemain juga menjadi bahan kritik. Mereka melihat adanya siklus yang terus berulang tanpa arah jelas.
“Selain itu, pola keluar-masuk pemain yang terus berulang setiap musim juga menjadi perhatian serius. Klub terlihat kesulitan mempertahankan pemain yang telah terbukti memberikan kontribusi signifikan. Sebaliknya, pendekatan yang diambil cenderung spekulatif dengan mendatangkan pemain baru, khususnya dari luar Liga Indonesia, yang tidak jarang berujung pada hasil yang tidak sesuai harapan.”
Baca Juga: Mantan Kiper Persebaya Rendy Oscario Siap Tampil Maksimal di 8 Laga Pamungkas Bersama Semen Padang
Pergantian pelatih di tengah musim pun dianggap sebagai solusi instan yang tidak efektif. Situasi ini justru dinilai memperburuk stabilitas tim.
“Pergantian pelatih di tengah musim pun seolah menjadi solusi instan yang terus diulang, dengan harapan pelatih baru dapat secara cepat mengubah keadaan. Padahal, kondisi skuad yang tidak dibentuk sejak awal oleh pelatih tersebut tentu menjadi kendala besar dalam membangun performa tim yang solid.”
Puncaknya, mereka melontarkan pertanyaan yang menggugah. Sebuah pertanyaan yang mencerminkan kejenuhan terhadap situasi yang berulang.
“Pertanyaannya, sampai kapan siklus seperti ini akan terus berlangsung?”
Meski keras, kritik tersebut bukan tanpa harapan. Bonek tetap ingin melihat Persebaya Surabaya bangkit dengan arah yang lebih jelas.
“Kami menyampaikan ini bukan sebagai bentuk penolakan semata, melainkan sebagai wujud kepedulian dan harapan agar Persebaya Surabaya dapat dikelola dengan arah yang lebih jelas, konsisten, dan berorientasi jangka panjang.”
Optimisme pun masih tersisa di tengah kekecewaan. Mereka percaya perubahan masih mungkin terjadi jika manajemen berani melakukan evaluasi.
“Kami percaya, dengan evaluasi yang tepat dan keberanian untuk berbenah, Persebaya dapat kembali ke jalur yang seharusnya.”
Kini, tekanan berada di pundak manajemen Persebaya Surabaya. Respons terhadap kritik ini akan sangat menentukan arah klub di sisa musim.
Laga melawan Madura United bukan hanya soal tiga poin. Pertandingan itu juga menjadi momen pembuktian apakah Green Force mampu bangkit atau justru semakin terpuruk.