JawaPos.com — Dominasi kiper Persib Bandung Teja Paku Alam di Super League 2025/2026 belum tergoyahkan hingga pekan ke-24. Penjaga gawang andalan Maung Bandung itu makin menegaskan statusnya sebagai yang terbaik di bawah mistar.
Catatan kebobolan yang hanya menyentuh angka 11 gol menjadi bukti nyata konsistensinya sepanjang musim.
Angka tersebut bahkan menjadikannya sebagai kiper dengan rasio kebobolan paling rendah dibandingkan seluruh rival di liga.
Baca Juga: AS Tegaskan Serangan ke Lebanon Tidak Termasuk Kesepakatan Gencatan Senjata dengan Iran
Tak hanya soal kebobolan, jumlah clean sheet yang dibukukan juga sangat impresif sepanjang kompetisi berjalan. Total 16 laga tanpa kebobolan membuat performa Teja Paku Alam terlihat begitu dominan dan sulit disaingi.
Kokohnya lini pertahanan Persib Bandung memang tak bisa dilepaskan dari kontribusi besar sang kiper utama. Ketangguhan ini menjadi salah satu faktor utama tim tetap bertengger di papan atas klasemen.
Di bawah Teja Paku Alam, ada nama Carlos Eduardo yang juga tampil cukup solid bersama Persija Jakarta. Ia mencatatkan 13 kebobolan dari 17 pertandingan, meski sempat kehilangan posisi utama di beberapa laga.
Selain itu, Alan dari Malut United juga menunjukkan performa cukup stabil. Ia kebobolan 15 gol dari 14 pertandingan, namun rotasi pemain membuat jumlah penampilannya lebih sedikit.
Menariknya, perbandingan jumlah pertandingan menjadi faktor penting dalam menilai performa para kiper tersebut. Teja Paku Alam tetap unggul karena konsisten tampil sebagai pilihan utama tanpa tergantikan.
Di sisi lain, sorotan juga mengarah pada kiper Persebaya Surabaya, yakni Ernando Ari. Ia berada di posisi ke-11 dalam daftar kebobolan dengan total 27 gol dari 23 pertandingan.
Jumlah tersebut memang tidak terlalu buruk, namun masih tertinggal cukup jauh dibandingkan para kiper papan atas. Meski begitu, Ernando Ari tetap menunjukkan kontribusi penting dengan mencatatkan tujuh cleansheet.
Performa Ernando Ari menjadi gambaran naik turunnya lini pertahanan Persebaya Surabaya sepanjang musim ini. Kadang tampil solid, namun di beberapa laga masih terlihat celah yang dimanfaatkan lawan.
Jika melihat lebih luas, daftar kiper Super League musim ini menunjukkan persaingan yang cukup ketat. Beberapa nama seperti Nadeo Argawinata dan Aqil Savik juga tampil cukup konsisten.
Nadeo Argawinata mencatatkan 26 kebobolan dari 26 pertandingan bersama Borneo FC. Sementara Aqil Savik membukukan 24 kebobolan dengan sembilan cleansheet bersama Bhayangkara FC.
Nama lain seperti Igor Rodrigues dan Miswar Saputra juga masuk dalam daftar dengan catatan kebobolan identik, yakni 24 dan 26 gol. Namun jumlah pertandingan dan cleansheet menjadi pembeda performa mereka.
Di papan tengah, ada Cahya Supriadi serta Sonny Stevens yang sama-sama mencatatkan 31 kebobolan. Hal ini menunjukkan betapa kompetitifnya kualitas kiper di liga musim ini.
Namun, kondisi berbeda justru dialami beberapa kiper di papan bawah yang kebobolannya cukup tinggi. Salah satunya adalah Kadu dari PSBS Biak.
Kadu menjadi kiper dengan jumlah kebobolan terbanyak musim ini setelah kemasukan 52 gol dari 25 pertandingan. Catatan ini menjadi yang terburuk dibanding seluruh penjaga gawang lainnya di Super League 2025/2026.
Perbedaan angka kebobolan yang cukup jauh ini menunjukkan adanya kesenjangan kualitas lini pertahanan antar tim. Faktor organisasi permainan hingga konsistensi menjadi penentu utama dalam menjaga gawang tetap aman.
Kembali ke Persib Bandung, dominasi Teja Paku Alam tak hanya soal statistik semata. Ia juga menjadi sosok penting dalam membangun kepercayaan diri tim di setiap pertandingan.
Ketenangan, refleks cepat, dan kemampuan membaca arah bola menjadi keunggulan utama yang dimilikinya. Tak heran jika ia terus menjadi pilihan utama tanpa tergeser hingga saat ini.
Dengan performa seperti ini, peluang Persib Bandung untuk terus bersaing di jalur juara semakin terbuka lebar. Solidnya lini belakang menjadi fondasi kuat dalam menghadapi tekanan di sisa musim.
Sementara itu, Persebaya Surabaya masih harus melakukan evaluasi terutama di sektor pertahanan. Posisi Ernando Ari di peringkat ke-11 bisa menjadi alarm untuk memperbaiki koordinasi tim.
Super League 2025/2026 pun semakin menarik dengan persaingan ketat di berbagai lini, termasuk posisi penjaga gawang. Statistik kebobolan menjadi salah satu indikator penting yang menentukan kekuatan sebuah tim.