JawaPos.com — Cerita Nehar Sadiki menyebut sang pelatih sebagai sosok “gila” justru menjadi sinyal bahaya bagi para pesaing, termasuk Persebaya Surabaya. Di balik pernyataan unik itu, tersimpan performa Bhayangkara Presisi Lampung FC yang tengah menanjak dan berpotensi jadi mimpi buruk dalam perebutan posisi elite klasemen Super League 2025/2026.
Bek andalan Bhayangkara Presisi Lampung FC, Nehar Sadiki, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya usai kemenangan dramatis atas Persija Jakarta.
Hasil 3-2 di Stadion PKOR Sumpah Pemuda, Bandar Lampung, menjadi titik balik penting yang mengangkat posisi tim ke peringkat kelima klasemen sementara.
Baca Juga: Ketinggalan 9 Poin! Persija Jakarta Ngotot Kejar Persib Bandung, Mauricio: Belum Saatnya Menyerah
Kemenangan itu bukan sekadar tiga poin biasa bagi Bhayangkara Presisi Lampung FC. Tambahan angka tersebut membuat mereka semakin percaya diri menatap persaingan ketat di papan atas yang kini semakin padat.
Nehar Sadiki menegaskan, kunci keberhasilan timnya terletak pada kerja keras kolektif yang terus dijaga sepanjang laga.
Ia menyebut mentalitas tim yang selalu mengincar kemenangan menjadi fondasi utama performa impresif mereka.
"Kami melakukan pekerjaan yang hebat, jadi Alhamdulillah. Saat kami memainkan permainan kami, target kami selalu untuk meraih tiga poin. Kami sangat senang dengan hasil ini," ujar Nehar penuh semangat.
Pernyataan itu mencerminkan kondisi ruang ganti Bhayangkara Presisi Lampung FC yang sedang dalam atmosfer positif. Kepercayaan diri tinggi membuat mereka tak ragu memasang target lebih ambisius di sisa musim ini.
Menembus lima besar klasemen dianggap Nehar sebagai pencapaian yang pantas diraih timnya. Namun, ambisi mereka tidak berhenti di sana karena peluang menembus empat besar bahkan tiga besar masih terbuka lebar.
"Menurut saya kami layak mendapatkannya, terutama setelah apa yang kami tunjukkan di paruh kedua musim ini. Kami akan terus melaju, mungkin untuk mengejar posisi tiga atau empat besar," tambahnya.
Ambisi tersebut tentu menjadi peringatan keras bagi tim lain, termasuk Persebaya Surabaya. Dengan selisih poin yang tipis, setiap kemenangan di sisa laga akan sangat menentukan arah klasemen akhir.
Selain faktor kolektif, Nehar juga menyoroti peran besar sang pelatih dalam membentuk karakter tim. Meski menyebut metode latihan yang keras, ia justru menilai pendekatan tersebut sebagai kunci perkembangan performa tim.
"Pelatih itu yang terbaik. Terkadang dia 'gila' dalam menekan kami, tapi itu karena dia sangat bagus. Kami semua mencintainya," kata Nehar.
Ungkapan “gila” yang dimaksud bukanlah kritik, melainkan bentuk apresiasi terhadap intensitas latihan yang diterapkan Paul Munster yang juga mantan pelatih Persebaya Surabaya.
Tekanan tinggi itu justru membuat para pemain tampil lebih disiplin dan konsisten di lapangan.
Tak hanya pelatih, satu nama lain yang mencuri perhatian adalah Moussa Sidibe. Pemain ini disebut Nehar sebagai sosok yang mampu mengubah jalannya pertandingan dengan kualitas individunya.
Baca Juga: Akademi Persib Putri U-12 Juara JSSL 2026, Tumbangkan Tuan Rumah Lion City Sailors 2-0 di Final!
"Saya pikir dia pemain terbaik di Indonesia, bahkan di Asia. Bersama Moussa Sidibe, segalanya menjadi mudah di dalam tim kami," ungkapnya.
Pujian tersebut bukan tanpa alasan karena kontribusi Sidibe memang terlihat signifikan dalam permainan Bhayangkara Presisi Lampung FC.
Kehadirannya memberi dimensi berbeda dalam serangan dan membuat tim semakin sulit dihentikan.
Dengan delapan laga tersisa, Bhayangkara Presisi Lampung FC berada dalam momentum terbaiknya. Konsistensi akan menjadi faktor penentu apakah mereka mampu menembus zona empat besar atau bahkan lebih tinggi.
Situasi ini tentu berdampak langsung pada Persebaya Surabaya yang kini berada di posisi keenam klasemen. Selisih dua poin membuat persaingan semakin panas dan tidak ada ruang untuk kesalahan.
Jika Bhayangkara Presisi Lampung FC terus melaju sesuai ambisi Nehar, maka peluang Persebaya Surabaya untuk menembus lima besar akan semakin berat.
Green Force harus tampil lebih konsisten jika tidak ingin tertinggal dalam persaingan.
Berdasarkan klasemen sementara, Persib Bandung masih kokoh di puncak dengan 61 poin dari 26 pertandingan. Disusul Borneo FC Samarinda di posisi kedua dengan 57 poin dan Persija Jakarta di peringkat ketiga dengan 52 poin.
Malut United FC menempati posisi keempat dengan 46 poin, sementara Bhayangkara Presisi Lampung FC menguntit di posisi kelima dengan 44 poin. Persebaya Surabaya berada tepat di bawahnya dengan koleksi 42 poin.
Persaingan enam besar juga diwarnai sejumlah fakta menarik yang menunjukkan karakter masing-masing tim. Malut United FC menjadi tim paling produktif dengan 52 gol sepanjang musim ini.
Sementara itu, Persib Bandung tampil sebagai tim dengan pertahanan terbaik setelah hanya kebobolan 14 gol. Di sisi lain, Persebaya Surabaya menjadi tim yang paling sering bermain imbang dengan total sembilan hasil seri.
Baca Juga: Resmi Perpanjang Kontrak, Harry Maguire Tegaskan Tekad Raih Trofi di Manchester United
Fakta tersebut menunjukkan setiap tim memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Namun dalam fase krusial seperti sekarang, konsistensi menjadi faktor paling menentukan.
Dengan kondisi yang ada, perburuan posisi papan atas dipastikan berlangsung hingga pekan terakhir. Setiap laga akan menjadi penentu nasib, termasuk bagi Persebaya Surabaya yang kini berada dalam tekanan.
Cerita Nehar Sadiki tentang pelatih “gila” ternyata bukan sekadar candaan. Itu adalah gambaran nyata bagaimana Bhayangkara Presisi Lampung FC sedang membangun mental juara yang bisa mengancam siapa saja.