JawaPos.com — Semen Padang FC memasuki fase krusial yang bisa menentukan nasib mereka di Super League 2025/2026. Jelang menghadapi Persib Bandung, pelatih Imran Nahumarury justru membuka sisi personalnya lewat “sesi curhat” yang jadi kunci kebangkitan tim.
Aura positif mulai terasa sejak Imran Nahumarury datang menggantikan posisi pelatih sebelumnya di tengah tekanan besar.
Kemenangan atas PSBS Biak dalam laga debut menjadi titik awal kepercayaan diri Kabau Sirah untuk keluar dari jerat degradasi.
Situasi klasemen memang belum berpihak pada Semen Padang FC yang masih tertahan di peringkat ke-17 dengan 20 poin. Namun, momentum kebangkitan mulai terlihat, terutama dari cara tim bermain yang lebih berani dan terorganisir.
Imran Nahumarury tak sekadar datang membawa strategi di atas lapangan, tetapi juga pendekatan personal kepada pemain.
Ia mengaku memilih untuk memahami kondisi tim secara menyeluruh sebelum melakukan perubahan besar.
“Memang kalau seorang pelatih itu datang di penghujung kompetisi. Waktu itu dia ada dua aspek. Pertama dia bisa mengubah semuanya, kedua dia akan pelan-pelan mengubah,” kata Imran.
Pendekatan yang diambil Imran bukan tanpa alasan karena waktu yang tersisa sangat terbatas. Ia memilih jalur observasi mendalam untuk memastikan setiap keputusan yang diambil tepat sasaran.
“Kalau saya tipikal orang yang ketika saya datang, saya akan observe. Saya panggil satu-satu pemain. Apa sih yang menjadi kelemahan yang masih menjadi masalah, kemudian apa yang menjadi kekuatan,” sebutnya.
Metode ini terbukti efektif untuk membangun komunikasi dan kepercayaan antara pelatih dan pemain. Para pemain merasa lebih dihargai karena dilibatkan secara langsung dalam proses evaluasi tim.
Tak hanya soal teknis, Imran juga menaruh perhatian besar pada aspek mentalitas pemain. Ia menilai karakter menjadi fondasi utama untuk bisa bertahan di kompetisi yang semakin ketat.
“Ada beberapa hal yang paling penting yang saya selalu sampaikan buat mereka, ada attitude. Bagaimana saat di lapangan. Sifat yang tidak mau kalah, walaupun kita sudah ketinggalan. Tetap kita fight sampai 90 menit,” tuturnya.
Mentalitas pantang menyerah menjadi nilai yang terus ditekankan dalam setiap sesi latihan. Imran ingin timnya memiliki identitas sebagai pejuang yang tidak mudah runtuh dalam tekanan.
Selain attitude, ia juga menyoroti pentingnya agresivitas yang tetap terkontrol di lapangan. Menurutnya, agresif bukan berarti bermain kasar, tetapi bagaimana pemain mampu memenangkan duel dengan cerdas.
“Kedua bagaimana mereka harus agresif, tapi tidak kasar. Yang ketiga adalah konsisten, keempat adalah mereka harus cleansheet. Itu yang paling penting,” bebernya.
Konsistensi menjadi tantangan besar bagi Semen Padang FC yang sepanjang musim kerap tampil naik turun. Imran ingin timnya mampu menjaga performa stabil dalam setiap pertandingan sisa.
Ia juga menekankan pentingnya mencatatkan clean sheet sebagai dasar membangun kemenangan. Dengan pertahanan yang solid, peluang mencuri poin akan semakin terbuka lebar.
“Satu hal yang harus mereka lakukan adalah intensitas. Jadi itu yang paling penting dalam sepak bola,” tambahnya.
Intensitas tinggi menjadi ciri permainan yang ingin diterapkan Imran di Semen Padang FC. Ia percaya, dengan kerja keras tanpa henti selama 90 menit, hasil positif akan mengikuti.
Laga melawan Persib Bandung menjadi ujian sesungguhnya bagi perubahan yang dibawa Imran. Tim lawan datang sebagai pemuncak klasemen dengan 58 poin dan kualitas skuad yang merata di semua lini.
Namun, kondisi ini justru menjadi motivasi tambahan bagi Semen Padang FC untuk tampil lepas tanpa beban. Mereka sadar, setiap poin sangat berharga dalam perjuangan keluar dari zona merah.
Persaingan di papan bawah memang semakin panas dengan selisih poin yang tipis antar tim. Kesalahan kecil bisa berakibat fatal bagi tim yang sedang berjuang bertahan di kasta tertinggi.
Semen Padang FC saat ini sejajar poinnya dengan Madura United FC yang berada satu tingkat di atas. Situasi ini membuat setiap pertandingan terasa seperti final bagi Kabau Sirah.
Di sisi lain, tekanan juga datang dari PSBS Biak yang terus mengintai di posisi juru kunci. Artinya, tidak ada ruang bagi Semen Padang FC untuk kehilangan fokus dalam sisa kompetisi.
Imran Nahumarury tampaknya memahami betul situasi genting tersebut. Ia memilih membangun tim dari dalam dengan pendekatan emosional dan mental sebagai fondasi utama.
Pendekatan ini bukan hanya tentang taktik, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan pemain. Ketika pemain merasa didengar, mereka akan memberikan segalanya di atas lapangan.
Kini, harapan itu kembali menyala di kubu Semen Padang FC. Sesi “curhat privat” ala Imran bisa jadi senjata tak terlihat yang mengubah nasib tim di akhir musim.
Jika mampu mempertahankan intensitas, konsistensi, dan mentalitas, bukan tidak mungkin mereka keluar dari zona degradasi. Duel melawan Persib Bandung akan menjadi pembuktian nyata dari semua proses yang telah dibangun.