JawaPos.com — Langkah pemain diaspora menerima paspor Indonesia justru menuai sorotan tajam dari pengamat Belanda. Bahkan, mereka disebut bertindak tanpa perhitungan matang yang bisa berdampak panjang pada karier profesional.
Pengamat sepak bola asal Belanda, Tijmen van Wissing, melontarkan kritik keras terhadap fenomena naturalisasi pemain keturunan untuk memperkuat Timnas Indonesia.
Ia menilai keputusan sejumlah pemain menerima paspor WNI terlalu gegabah dan berpotensi merugikan diri sendiri.
Langkah agresif PSSI dalam menaturalisasi pemain memang membawa dampak positif bagi performa Timnas Indonesia. Namun di sisi lain, kebijakan ini mulai memunculkan persoalan serius, terutama terkait regulasi di kompetisi Eropa.
Baca Juga: Chelsea Hukum Enzo Fernandez usai Komentar soal Real Madrid
Masalah mencuat di Eredivisie, liga kasta tertinggi Belanda yang memiliki aturan ketat untuk pemain non-Uni Eropa.
Status kewarganegaraan baru para pemain diaspora membuat mereka tidak lagi dihitung sebagai pemain lokal atau Uni Eropa.
Kasus terbaru melibatkan Dean James yang menjadi sorotan usai tampil bersama Go Ahead Eagles. Penampilannya dipermasalahkan oleh NAC Breda yang kalah telak 0-6 dan mengajukan protes resmi.
Baca Juga: Besaran Gaji Lamine Yamal di Barcelona Terungkap: Masih di Bawah Mbappe dan Vinicius Jr
NAC Breda menilai Dean James tidak memenuhi syarat sebagai pemain lokal karena telah berstatus WNI. Hal ini memicu tuntutan agar pertandingan tersebut diulang karena dianggap melanggar regulasi.
Masalah serupa juga menimpa Nathan Tjoe-A-On saat membela Willem II. Klub TOP Oss bahkan ikut mengajukan keberatan setelah kalah 1-3 dalam laga yang turut melibatkan pemain tersebut.
Menurut Van Wissing, situasi ini sebenarnya bisa diprediksi sejak awal oleh pemain dan agen mereka. Ia menilai kurangnya pertimbangan matang menjadi penyebab utama munculnya polemik ini.
“Saya pikir itu jauh lebih bodoh dari para pemain dan agen. Mereka seharusnya memikirkannya matang-matang,” ujar Van Wissing dalam kritiknya.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan karena regulasi di Eropa memang sangat ketat untuk pemain non-Uni Eropa. Salah satu dampak paling signifikan adalah aturan gaji minimum yang sangat tinggi.
Di Eredivisie, pemain non-Uni Eropa harus menerima gaji minimum sekitar 608 ribu euro per tahun. Angka tersebut setara dengan sekitar Rp11,9 miliar, nominal yang tidak semua klub mampu penuhi.
Baca Juga: Barcelona Incar Striker Muda Bundesliga untuk Gantikan Lewandowski
Kondisi ini membuat klub-klub Belanda berpikir dua kali untuk mempertahankan atau merekrut pemain berstatus non-Uni Eropa. Akibatnya, pemain diaspora Indonesia justru berisiko kehilangan peluang bermain di level tertinggi.
Nama lain seperti Mees Hilgers juga disebut berpotensi terdampak aturan tersebut. Padahal sebelumnya, pemain-pemain ini memiliki prospek cerah di kompetisi Eropa.
Van Wissing juga menyoroti faktor emosional yang dinilai terlalu dominan dalam keputusan para pemain. Euforia membela Timnas Indonesia dianggap membuat mereka mengabaikan konsekuensi jangka panjang.
Baca Juga: Erick Thohir Apresiasi Keberlanjutan Bali 7s 2026 sebagai Magnet Sport Tourism Indonesia
Ia bahkan menyinggung kasus Tim Geypens yang menghadapi situasi serupa di FC Emmen. Menurutnya, fenomena ini menunjukkan pola yang sama dan berpotensi terus berulang.
Menanggapi polemik tersebut, PSSI memastikan seluruh proses naturalisasi pemain berjalan sah dan sesuai aturan hukum di Indonesia.
Federasi menegaskan tidak ada pelanggaran dalam perubahan status kewarganegaraan para pemain diaspora.
Ketua Badan Tim Nasional, Sumardji, menegaskan seluruh pemain yang membela Timnas Indonesia telah melalui prosedur resmi.
Ia menyebut nama-nama seperti Dean James, Justin Hubner, dan Nathan Tjoe-A-On telah sah menjadi WNI tanpa masalah hukum.
“Seluruh pemain keturunan yang telah membela Tim Nasional Indonesia, termasuk di dalamnya Dean James, Justin Hubner, dan Nathan Tjoe-A-On telah sah menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) dan dipastikan tidak ada masalah hukum Indonesia,” kata Sumardji.
Ia menambahkan, keputusan para pemain bukan sekadar formalitas administrasi, melainkan bentuk kecintaan terhadap Indonesia.
Baca Juga: Ambisi Besar Kiper Persib Teja Paku Alam Pulang Ke Tanah Kelahiran untuk Kalahkan Semen Padang!
Banyak dari mereka lahir dan besar di luar negeri, tetapi tetap memilih membela tanah leluhur.
“Mereka banyak yang lahir, besar, hidup dan memiliki keluarga di luar Indonesia. Jadi dengan mereka memutuskan menjadi WNI, bukti mereka punya kecintaan serta pengabdian terhadap tanah air,” lanjutnya.
Sumardji juga menyoroti konsekuensi besar yang harus diterima para pemain setelah berganti kewarganegaraan. Salah satunya adalah keharusan mengurus izin tinggal dan kerja di negara seperti Belanda.
“Bukan hanya terbukti dari kerja keras mereka dalam latihan dan pertandingan Tim Nasional, tapi terbukti juga bahwa dengan menjadi Warga Negara Indonesia banyak fasilitas yang harus mereka lepaskan,” jelasnya.
Baca Juga: Skuad Timnas Futsal Indonesia untuk Piala AFF 2026 Resmi Dirilis, Ini Daftar 14 Pemain Terpilih
Ia bahkan mengapresiasi kiprah pemain Indonesia di Eropa yang tetap mampu bersaing di level tinggi. Salah satu contoh yang disorot adalah Maarten Paes yang disebut tampil impresif di klub besar.
Sumardji menyebut keberadaan pemain Indonesia di klub top Eropa menjadi bukti kualitas yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Hal ini sekaligus membantah anggapan naturalisasi merugikan karier pemain.
“Ini merupakan bentuk nyata pengorbanan yang diambil oleh pemain-pemain kita. Kami juga sangat bersyukur, bahwa pemain Timnas Indonesia masih dipercaya mengambil peran penting di klub-klub level teratas Eropa,” ungkapnya.
Terkait polemik di Liga Belanda, PSSI menilai hal tersebut murni persoalan teknis administrasi setempat. Federasi memastikan status pemain untuk Timnas Indonesia tidak akan terdampak.
Baca Juga: Skuad Timnas Futsal Indonesia untuk Piala AFF 2026 Resmi Dirilis, Ini Daftar 14 Pemain Terpilih
“Mengenai permasalahan yang ada di klub-klub Eredivisie, maka itu masalah teknis administrasi yang berkaitan dengan hukum dan peraturan di Belanda,” tutup Sumardji.
Di tengah perdebatan ini, pemain diaspora kini berada di persimpangan antara idealisme dan realitas karier. Pilihan membela negara memang membanggakan, tetapi konsekuensinya juga tidak ringan.