← Beranda
Bernardo Tavares Akhirnya Jujur! Persebaya Surabaya Cetak Rekor Kekalahan Terbesar di Era Super League
Moch. Rizky Pratama PutraRabu, 18 Maret 2026 | 15.49 WIB
Ekspresi kecewa pemain Persebaya Surabaya usai menelan kekalahan telak 1-5 dari Borneo FC Samarinda di laga tandang. (Persebaya)

 

JawaPos.com — Persebaya Surabaya menutup periode sebelum jeda kompetisi dengan catatan pahit yang sulit dilupakan. Kekalahan telak 1-5 dari Borneo FC Samarinda menjadi sorotan tajam sekaligus alarm keras bagi tim Green Force.

Jeda kompetisi Super League 2025/2026 sekitar dua pekan dimanfaatkan pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, untuk membenahi kondisi timnya.

Dia ingin masa rehat ini menjadi momentum bagi para pemain untuk memulihkan tenaga sekaligus menguatkan kembali mental setelah menjalani rangkaian pertandingan yang padat.

Baca Juga: Kontroversi Piala Afrika 2026: Maroko Jadi Juara Setelah Kemenangan Senegal Dibatalkan!

"Kami memutuskan untuk memberikan waktu kepada para pemain sebelum kembali mempersiapkan diri. Target kami adalah kembali lebih kuat, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara mental,” jelas Tavares.

Pelatih asal Portugal itu tak menampik kekalahan besar tersebut meninggalkan bekas mendalam di ruang ganti tim. Namun di balik kekecewaan itu, ia melihat ada semangat baru yang mulai tumbuh dari para pemainnya.

Baca Juga: Libur Panjang Persija Jakarta Jadi Kunci Kebangkitan? Ini Sinyal Bahaya untuk Bhayangkara FC!

Tavares mengakui kekalahan telak yang dialami Persebaya Surabaya saat bertandang ke markas Borneo FC Samarinda menjadi pukulan berat.

Meski begitu, ia percaya situasi ini justru bisa menjadi titik balik untuk bangkit lebih kuat.

"Kekalahan 1-5 tentu menjadi pelajaran yang berat bagi kami, dan saya percaya semua pemain ingin bangkit dan menjadi lebih kuat," ucapnya.

Fakta yang tak kalah mengejutkan, hasil tersebut ternyata bukan sekadar kekalahan biasa. Laga itu resmi tercatat sebagai kekalahan terbesar Persebaya Surabaya sejak era Super League dimulai.

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, pola kekalahan besar ini memiliki benang merah yang cukup mencolok. Semua terjadi saat Persebaya Surabaya bermain di kandang lawan atau laga tandang.

Baca Juga: Gol Eze dan Rice Bawa Arsenal Kalahkan Bayer Leverkusen di Liga Champions

Borneo FC

Kekalahan paling anyar terjadi pada 7 Maret 2026 saat menghadapi Borneo FC Samarinda. Dalam laga pekan ke-25 itu, Persebaya Surabaya harus menyerah dengan skor mencolok 5-1.

Persik Kediri

Sebelumnya, pada 27 Oktober 2023, Persebaya Surabaya juga mengalami kekalahan telak saat bertandang ke markas Persik Kediri. Mereka tak mampu mencetak gol dan harus pulang dengan kekalahan 4-0.

Baca Juga: PSG Sukses Hancurkan Chelsea di Liga Champions dengan Agregat 8-2

Bali United

Hasil serupa juga terjadi pada 18 Februari 2023 ketika menghadapi Bali United FC. Lagi-lagi, Persebaya Surabaya takluk dengan skor identik 4-0 di laga tandang.

Arema FC

Memori buruk lainnya datang dari musim 2019 saat menghadapi Arema FC pada 15 Agustus. Dalam pertandingan tersebut, Persebaya Surabaya kembali harus menerima kekalahan 4-0.

Baca Juga: PSG Sukses Hancurkan Chelsea di Liga Champions dengan Agregat 8-2

PSMS Medan

Lebih jauh lagi ke belakang, tepatnya 1 Desember 2018, Persebaya Surabaya juga pernah dipermalukan PSMS Medan. Skor akhir 4-0 menjadi bukti betapa sulitnya mereka keluar dari tekanan saat bermain di luar kandang.

Menariknya, seluruh kekalahan terbesar ini memiliki kesamaan mencolok. Karena tempat pertandingan menunjukkan semuanya terjadi di laga tandang.

Hal ini menjadi catatan penting bagi tim pelatih Persebaya Surabaya ke depan. Evaluasi tak hanya menyentuh aspek teknis, tetapi juga kesiapan mental saat bermain di bawah tekanan suporter lawan.

Bernardo Tavares tampaknya menyadari betul persoalan tersebut. Karena itu, fokus pembenahan selama jeda kompetisi tak hanya soal fisik, tetapi juga mental bertanding.

Baca Juga: Comeback Sempurna! Hajar Bodo/Glimt 5-0, Sporting CP Melaju ke Perempat Final Liga Champions

Situasi ini menjadi tantangan besar bagi Persebaya Surabaya jika ingin bersaing di papan atas Super League. Konsistensi di laga tandang bisa menjadi pembeda antara tim juara dan sekadar pesaing.

Kini, semua mata tertuju pada bagaimana respons para pemain setelah jeda kompetisi berakhir. Apakah mereka mampu menjawab tantangan atau kembali terjebak dalam pola lama.

Yang jelas, kekalahan 1-5 dari Borneo FC Samarinda sudah menjadi bagian dari sejarah kelam yang tak bisa dihapus begitu saja. Namun dari titik terendah itu, peluang untuk bangkit selalu terbuka lebar.

Persebaya Surabaya punya waktu, punya pelatih, dan punya pemain untuk membalikkan keadaan. Tinggal bagaimana mereka memanfaatkan momen ini untuk menulis cerita yang berbeda di sisa musim.

EDITOR: Banu Adikara