← Beranda
Jersey Baru Timnas Indonesia Dihujani Kritik! Coach Justin: Harganya Bisa Disesuaikan dengan Daya Beli Masyarakat
Moch. Rizky Pratama Putra• Selasa, 17 Maret 2026 | 20.12 WIB
Jersey baru Timnas Indonesia produksi Kelme menuai kritik tajam, terutama soal harga yang dinilai terlalu mahal. (Instagram @coachjustinl)

 

JawaPos.com — Peluncuran jersey baru Timnas Indonesia langsung memantik perdebatan panas di kalangan pecinta sepak bola nasional. Bukan sekadar desain, harga seragam anyar produksi Kelme justru jadi sorotan utama.

Seragam terbaru skuad Garuda ini hadir dengan tampilan berbeda dari edisi sebelumnya. Namun, respons publik ternyata terbelah sejak pertama kali diperkenalkan ke publik.

Pengamat sepak bola yang dikenal vokal, Coach Justin, menjadi salah satu yang paling keras mengkritik. Ia mengaku sempat mencoba melihat peluncuran tersebut secara objektif sebelum akhirnya melontarkan kritik tajam.

“Impression pertama dari IG, sekali lagi dari IG, is not bad. It’s not bad,” ujar Coach Justin. Pernyataan itu menunjukkan secara visual, jersey tersebut masih bisa diterima.

Baca Juga: Jangan Tukar Prestasi dengan Harga Diri! Atlet Kickboxing Putri Indonesia Speak Up Soal Dugaan Pelecehan yang Menimpanya

Namun, pandangannya berubah setelah membaca komentar netizen yang membandingkan desain jersey dengan cabang olahraga lain. Ia bahkan melakukan pencarian sendiri untuk memastikan penilaian tersebut.

“Gue googling dong. Gue googling. I have to say netizen benar. Ini lebih mirip ke jersey badminton,” ujarnya. Komentar itu langsung memperkuat perdebatan soal estetika desain jersey terbaru Timnas Indonesia.

Baca Juga: Karier Patrick Kluivert Jeblok di Timnas Indonesia, Tapi Jalan ke Piala Dunia 2026 Justru Malah Terbuka Lebar!

Meski begitu, Coach Justin menegaskan soal desain masih sangat subjektif. Selera tiap orang berbeda, sehingga pro dan kontra menjadi hal yang wajar dalam peluncuran produk baru.

Fokus kritiknya justru mengarah ke harga jersey yang dinilai terlalu tinggi. Ia menilai banderol Rp 1,5 juta untuk versi player issue sangat sulit diterima oleh mayoritas masyarakat Indonesia.

“Tapi harganya untuk gua enggak make sense. 1,5 juta itu tidak masuk akal,” tegasnya. Pernyataan tersebut menjadi titik utama kritik yang kemudian ramai diperbincangkan di media sosial.

Coach Justin kemudian membandingkan harga tersebut dengan jersey dari brand global ternama seperti Adidas.

Ia menyebut jersey tim nasional kelas dunia memang memiliki harga lebih tinggi, namun tetap kontekstual dengan daya beli masyarakatnya.

“Gua buka adidas.co.id, gua cek jerseynya Jerman sama Argentina yang player issue, 2 juta,” katanya. Perbandingan ini menjadi dasar argumennya dalam menilai harga jersey Timnas Indonesia.

Menurutnya, harga Rp 2 juta di Eropa atau Amerika masih tergolong wajar. Hal itu karena rata-rata pendapatan masyarakat di sana jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

“Di negaranya sendiri, di Eropa lah atau Amerika, 2 juta itu kecil. Orang Jerman gajinya average mungkin 2.500 euro. Beli jersey 2 juta itu nothing,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya melihat harga dari perspektif ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Gacor! Bintang Timnas Indonesia Menggila di Eropa: Calvin Verdonk Menang, Clean Sheet, hingga Drama Kekalahan Jay Idzes

Kondisi tersebut sangat berbeda dengan Indonesia yang memiliki standar upah minimum lebih rendah. Perbandingan ini kemudian menjadi sorotan utama dalam kritiknya.

Coach Justin menyinggung UMR Jakarta yang berada di kisaran Rp 6 juta. Dengan harga jersey Rp 1,5 juta, artinya pembelian tersebut bisa mencapai sekitar 25 persen dari penghasilan bulanan.

Baca Juga: Jelang Laga Panas Real Madrid Hadapi Manchester City, Antonio Rudiger Beri Pujian Setinggi Langit ke Erling Haaland

“Gua cek UMR di Jakarta hampir 6 juta, which sekitar 25 persenan dengan harga 1,5 juta yang player issue,” ungkapnya. Angka tersebut dinilai sudah cukup membebani bagi sebagian masyarakat.

Situasi bahkan lebih berat jika melihat daerah lain di Indonesia. Ia mencontohkan kota-kota dengan UMR lebih rendah yang membuat harga jersey terasa semakin tidak masuk akal.

Di Solo, misalnya, UMR berada di kisaran Rp 2,5 juta sehingga harga jersey bisa mencapai sekitar 60 persen dari gaji bulanan. Sementara di Yogyakarta dengan UMR sekitar Rp 2,6 juta, nilainya berkisar 50 hingga 55 persen.

Perbandingan ini membuat Coach Justin semakin yakin harga tersebut sulit dijangkau oleh mayoritas masyarakat. Ia menilai tidak rasional jika seseorang harus mengeluarkan setengah gaji hanya untuk satu jersey.

Selain faktor daya beli, ia juga menyoroti posisi Kelme di industri apparel global. Menurutnya, brand tersebut tidak berada di level tertinggi seperti Nike, Adidas, atau Puma.

Hal ini dinilai penting dalam menentukan harga pasar sebuah produk. Brand positioning menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan nilai jual di mata konsumen.

Coach Justin juga menyinggung aspek produksi yang dinilai seharusnya bisa menekan harga. Ia menyebut sebagian besar produksi Kelme dilakukan di China dengan biaya tenaga kerja yang relatif rendah.

Baca Juga: Persib Bandung Liburkan Skuadnya Selama Sepekan

“Kelme ini 80 persen milik China. Artinya pabriknya di China. Harusnya labor cost itu murah banget,” ujarnya. Pernyataan ini semakin memperkuat argumennya soal harga yang dinilai tidak rasional.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, ia menilai harga Rp 1,5 juta sulit untuk dibenarkan dari berbagai sisi. Mulai dari produksi, citra brand, hingga daya beli masyarakat dinilai tidak mendukung angka tersebut.

“1,5 juta itu enggak bisa di-justify sama sekali. Tidak dari sisi produksi, tidak dari sisi image internasional, tidak dari sisi daya beli orang Indonesia,” tegasnya. Kritik ini kemudian menjadi viral dan memicu diskusi luas.

Baca Juga: Standar Tinggi Marc Klok! Tak Puas Persib Bandung Ditahan Imbang, Janji Kembalikan Senyum Bobotoh

Ia pun berharap pihak produsen bisa mempertimbangkan ulang harga tersebut. Menurutnya, harga yang lebih terjangkau justru akan meningkatkan minat beli masyarakat terhadap jersey resmi.

“Gua pengin rakyat Indonesia sebanyak mungkin bisa beli jersey timnas baru yang player issue. Harusnya di bawah sejuta menurut gua,” katanya. Harapan itu mencerminkan keinginan agar produk Timnas Indonesia lebih inklusif.

Sementara itu, jersey terbaru Timnas Indonesia resmi diperkenalkan dalam acara Leave Your Mark di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 12 Maret 2026.

Peluncuran tersebut menjadi momen penting dalam kerja sama jangka panjang antara PSSI dan Kelme.

Seragam kandang tetap mengusung warna merah dengan aksen putih di kerah dan lengan. Sementara jersey tandang didominasi warna putih dengan sentuhan merah sebagai identitas nasional.

Kerja sama ini akan berlangsung hingga 2030 dan mencakup seluruh tim nasional Indonesia. Mulai dari sepak bola hingga futsal akan menggunakan apparel dari Kelme.

Baca Juga: Persib Bandung Resmi Lebaran di Puncak! Jarak 4 Poin Jadi Alarm Bahaya untuk Para Pesaing di Super League 2025/2026

Jersey anyar ini dijadwalkan menjalani debut pada ajang FIFA Series 2026 akhir Maret mendatang. Momen tersebut akan menjadi ujian pertama, baik dari sisi performa maupun penerimaan publik.

Perdebatan soal harga dan desain pun dipastikan belum akan mereda dalam waktu dekat. Justru, polemik ini menjadi bukti tingginya antusiasme publik terhadap Timnas Indonesia.

EDITOR: Banu Adikara