JawaPos.com — Timnas Indonesia dipastikan memiliki lini pertahanan yang sangat tangguh dan mewah pada gelaran FIFA Series 2026. Nilai pasar para pemain belakang bahkan tembus angka fantastis hingga Rp 412,38 miliar, menjadikannya salah satu yang paling berkelas di Asia.
Kekuatan ini tak lepas dari kombinasi pemain yang merumput di Eropa dan talenta lokal yang terus berkembang pesat.
Di era kepelatihan John Herdman, fondasi lini belakang benar-benar dibangun dengan standar tinggi dan pengalaman internasional.
Nama Jay Idzes menjadi sorotan utama sebagai pemain dengan nilai pasar tertinggi di skuad Garuda. Bek andalan US Sassuolo itu memiliki market value mencapai Rp 173,82 miliar.
Musim ini, performa Jay Idzes terbilang luar biasa konsisten di Liga Italia. Hingga pekan ke-29, ia sudah mencatatkan 28 pertandingan, hanya sekali absen sepanjang musim.
Dominasi tersebut membuatnya menjadi tulang punggung tak tergantikan di lini belakang klubnya. Konsistensi itu pula yang kini dibawa ke Timnas Indonesia untuk memperkuat pertahanan Garuda.
Selain Jay Idzes, ada nama Kevin Diks yang tak kalah bersinar di Eropa. Ia kini membela Borussia Monchengladbach dan tampil impresif sepanjang musim 2025/2026.
Kevin Diks sudah mencatatkan 26 pertandingan di semua kompetisi bersama klub Bundesliga tersebut. Menariknya, ia juga dipercaya sebagai algojo penalti tim, menunjukkan kepercayaan besar dari pelatih.
Nilai pasar Kevin Diks kini mencapai Rp 86,91 miliar dan terus berpotensi meningkat. Performa stabilnya membuat lini belakang Timnas Indonesia semakin solid dengan pengalaman dari Liga Jerman.
Tak hanya itu, kekuatan lini belakang juga diperkuat oleh Calvin Verdonk yang bermain untuk LOSC Lille. Dengan nilai Rp 52,14 miliar, ia menjadi salah satu bek kiri modern yang punya kualitas menyerang dan bertahan seimbang.
Kemudian ada Dean James bersama Go Ahead Eagles yang memiliki nilai Rp 34,76 miliar. Kecepatannya di sisi sayap membuatnya jadi opsi penting dalam skema permainan modern.
Nama lain yang turut melengkapi kekuatan ini adalah Justin Hubner di Fortuna Sittard dan Nathan Tjoe-A-On bersama Willem II. Keduanya memberikan kedalaman skuad yang sangat dibutuhkan di level internasional.
Selain pemain diaspora, Timnas Indonesia juga masih memiliki Sandy Walsh yang kini memperkuat Buriram United. Pengalamannya di berbagai kompetisi Asia menjadi nilai tambah tersendiri.
Kehadiran Elkan Baggott juga membuat lini belakang semakin komplet. Bek jangkung yang kini bermain untuk Ipswich Town itu kembali masuk dalam radar skuad Garuda.
Di sisi lain, pemain lokal tetap memberikan kontribusi signifikan dalam komposisi tim. Rizky Ridho menjadi salah satu bek terbaik dari kompetisi domestik bersama Persija Jakarta.
Selain Rizky Ridho, ada juga nama-nama seperti Dony Tri Pamungkas dan Fajar Fathurrahman yang terus menunjukkan perkembangan positif. Keduanya menjadi aset masa depan lini belakang Timnas Indonesia.
Tak ketinggalan Muhammad Ferrari dari Bhayangkara FC serta Yance Sayuri bersama Malut United. Mereka menambah kedalaman dan variasi opsi di sektor pertahanan.
Jika ditotal, seluruh nilai pasar lini belakang Timnas Indonesia mencapai Rp 412,38 miliar. Angka tersebut menunjukkan betapa mewah dan kompetitifnya sektor pertahanan Garuda saat ini.
Dengan kombinasi pengalaman Eropa dan kekuatan lokal, Timnas Indonesia kini punya modal besar untuk bersaing di level Asia bahkan dunia.
Lini belakang yang solid menjadi kunci utama dalam menghadapi tekanan lawan di ajang internasional.
Era John Herdman bisa menjadi titik balik kebangkitan Timnas Indonesia di pentas global. Jika konsistensi terjaga, bukan tidak mungkin Garuda akan menjadi kekuatan baru yang disegani di Asia.