JawaPos.com — Harapan Timnas Indonesia tampil di Asian Games 2026 terancam sirna. Komite Olimpiade Indonesia (KOI) kini meminta Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) bekerja lebih keras memperjuangkan kesempatan tersebut.
Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari menegaskan federasi sepak bola nasional perlu bersikap proaktif. Ia berharap PSSI tidak hanya menunggu keputusan otoritas sepak bola Asia, tetapi ikut bersuara secara tegas.
Raja Sapta Oktohari menyampaikan imbauan itu saat ditemui awak media di Jakarta pada Jumat (13/3/2026). Menurutnya, upaya diplomasi harus terus dilakukan agar sepak bola Indonesia tetap memiliki peluang tampil di Asian Games 2026.
"Kami mengimbau kepada PSSI supaya proaktif dan menyuarakan secara lantang (terkait penerapan aturan yang membuat Timnas Sepak Bola Indonesia) tidak tampil di Asian Games 2026)," kata Raja Sapta Oktohari.
Ancaman absennya Timnas Indonesia di Asian Games 2026 muncul akibat perubahan regulasi. Aturan baru dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan Badan Olimpiade Asia (OCA) membatasi jumlah peserta sepak bola putra.
Jika sebelumnya lebih banyak negara bisa ikut serta, kini hanya 16 tim yang diperbolehkan tampil. Kebijakan itu membuat persaingan menjadi jauh lebih ketat dibanding edisi sebelumnya.
Baca Juga: 5 Pemain Termahal Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares! Total Nilainya Tembus Rp 28,24 Miliar
Lebih dari itu, hanya negara yang lolos ke putaran final AFC U-23 Asian Cup 2026 yang berhak tampil. Dengan kata lain, turnamen tersebut dijadikan jalur kualifikasi menuju Asian Games 2026.
Situasi ini otomatis membuat banyak negara kehilangan kesempatan berpartisipasi. Indonesia termasuk salah satu negara yang terdampak oleh perubahan aturan tersebut.
Padahal Asian Games menjadi panggung penting bagi perkembangan sepak bola nasional. Turnamen multi-cabang olahraga terbesar di Asia itu sering dimanfaatkan sebagai ajang pembuktian generasi muda.
Asian Games 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung di Nagoya, Jepang pada Oktober mendatang. Sepak bola selalu menjadi salah satu cabang olahraga paling bergengsi dalam ajang tersebut.
Merasa dirugikan, KOI tidak tinggal diam. Raja Sapta Oktohari mengungkapkan pihaknya telah mengirimkan protes resmi kepada otoritas terkait.
Protes itu disampaikan karena perubahan regulasi dinilai tidak adil bagi banyak negara. Sosialisasi aturan baru disebut dilakukan setelah ajang AFC U-23 berlangsung.
Hal tersebut membuat sejumlah federasi sepak bola tidak memiliki kesempatan menyesuaikan diri. Indonesia pun termasuk negara yang merasakan dampak langsung dari kebijakan tersebut.
Menurut Raja Sapta Oktohari, perubahan aturan yang terlambat disampaikan menimbulkan ketidakpastian. Negara yang sebelumnya berharap tampil di Asian Games tiba-tiba kehilangan peluang.
Meski begitu, hingga kini KOI belum menerima respons dari OCA. Pihaknya masih menunggu tanggapan resmi terkait protes yang telah disampaikan.
"Jadi kami menyampaikan kepada masyarakat sepak bola Indonesia bahwa per hari ini belum ada perubahan dan kami terus menyuarakan bersama dengan negara-negara lain dirugikan dengan kebijakan itu," kata Raja Sapta Oktohari.
Baca Juga: Persaingan Ketat di Persebaya Surabaya, Pemain Minim Menit Bermain Berpotensi Dievaluasi
Ia menegaskan perjuangan belum berakhir. KOI terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak untuk mencari solusi terbaik.
Namun Raja Sapta Oktohari menilai peran federasi sepak bola nasional sangat penting. PSSI dianggap sebagai pihak yang paling berkepentingan dalam persoalan ini.
Menurutnya, federasi sepak bola dari negara-negara lain juga menghadapi situasi serupa. Karena itu, kerja sama antar federasi menjadi langkah strategis untuk memberi tekanan kepada otoritas Asia.
Raja Sapta Oktohari berharap PSSI bisa mengambil peran sebagai penggerak utama. Indonesia dinilai memiliki kekuatan diplomasi yang cukup besar di kawasan Asia.
Jika komunikasi dilakukan secara terorganisasi, suara dari berbagai negara bisa menjadi lebih kuat. Tekanan kolektif diharapkan mampu membuka peluang evaluasi terhadap regulasi tersebut.
"Kalau komunikasi dibangun secara sporadis dan ini bisa disuarakan secara masif, saya rasa tekanan-tekanan itu bisa diberikan dan penggeraknya dari Indonesia," kata Raja Sapta Oktohari.
Baca Juga: Persebaya Surabaya Sah Berstatus Tim Terbaik Jawa Timur Padahal Keteteran di Klasemen Super League
Situasi ini membuat masa depan Timnas Indonesia di Asian Games 2026 masih belum pasti. Semua pihak kini menunggu langkah konkret yang akan diambil oleh PSSI.
Jika perjuangan diplomasi berhasil, peluang tampil di Asian Games masih bisa terbuka. Namun jika tidak ada perubahan aturan, Timnas Indonesia kemungkinan harus absen dari salah satu panggung olahraga terbesar di Asia tersebut.
Kini perhatian publik sepak bola nasional tertuju pada upaya yang akan dilakukan PSSI. Apakah federasi mampu memperjuangkan kesempatan Timnas Indonesia, atau justru harus menerima kenyataan pahit absen di Asian Games 2026.