← Beranda
Total Denda Persebaya Surabaya Bisa Beli 10 Bus! Bonek Ungkap Unek-unek di Sisa Kompetisi Super League
Moch. Rizky Pratama Putra• Kamis, 12 Maret 2026 | 15.56 WIB
Suporter Persebaya Surabaya saat mendukung tim di Stadion Gelora Bung Tomo saat pertandingan Super League 2025-2026. (Dok. Persebaya)

JawaPos.com — Persebaya Surabaya kembali menjadi sorotan di tengah perjalanan Super League 2025/2026. Kali ini bukan hanya soal performa tim, tetapi juga akumulasi denda yang nilainya terus membengkak sepanjang musim.

Green Force memang menjalani putaran kedua dengan dinamika yang cukup tajam. Dalam lima pertandingan terakhir, Persebaya Surabaya hanya meraih satu kemenangan, satu hasil imbang, dan menelan tiga kekalahan.

Catatan tersebut membuat tekanan terhadap tim semakin terasa. Di saat yang sama, klub juga harus menghadapi konsekuensi disiplin dari federasi akibat beberapa insiden yang terjadi di pertandingan.

Komite Disiplin PSSI menjatuhkan sanksi terbaru kepada Persebaya Surabaya sebesar Rp 250 juta. Hukuman tersebut berkaitan dengan insiden penyalaan petasan dan kembang api oleh suporter saat laga melawan Persib Bandung.

Pertandingan itu berlangsung pada 2 Maret 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya. Insiden terjadi di Tribun Utara dan berlangsung sejak pertandingan berjalan hingga berakhir.

Dalam dokumen keputusan resmi Komdis PSSI dijelaskan kronologi pelanggaran tersebut. Bukti yang dikumpulkan dinilai cukup kuat untuk menegaskan terjadinya pelanggaran disiplin oleh klub.

“Bahwa pada tanggal 02 Maret 2026 bertempat di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya telah berlangsung pertandingan BRI Super League 2025/2026 antara Persebaya Surabaya melawan Persib Bandung, dimana Klub Persebaya Surabaya melanggar Kode Disiplin PSSI Tahun 2025 karena selama pertandingan hingga pertandingan berakhir terjadi penyalaan petasan dan kembang api dalam jumlah banyak yang dilakukan oleh suporter Persebaya Surabaya di Tribun Utara dan diperkuat dengan bukti-bukti yang cukup untuk menegaskan terjadinya pelanggaran disiplin.”

Baca Juga: Janji Ernando Ari Jelang Kontrak Habis! Siap Mati-matian Demi Persebaya Surabaya di Sisa Laga

Berdasarkan pertimbangan tersebut, Komdis PSSI menjatuhkan hukuman tambahan selain denda. Tribun Utara Stadion Gelora Bung Tomo harus ditutup satu pertandingan saat Persebaya Surabaya menjadi tuan rumah.

Dalam keputusan yang ditandatangani Ketua Komdis PSSI DR. Umar Husin pada 9 Maret 2026, sanksi itu juga disertai peringatan keras. Jika pelanggaran serupa kembali terjadi, hukuman yang dijatuhkan bisa lebih berat.

“Merujuk kepada Pasal 70 ayat (1), ayat (2) jo lampiran 1 nomor 5 jo Pasal 138 Kode Disiplin PSSI Tahun 2025, Klub Persebaya Surabaya dikenakan sanksi penutupan sebagian stadion (Tribun Utara) sebanyak 1 (satu) pertandingan saat menjadi tuan rumah, sejak keputusan ini diterbitkan dan berlaku pada pertandingan terdekat.”

Selain itu, Komdis juga menetapkan denda finansial yang cukup besar. “Denda sebesar Rp 250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah).”

Keputusan tersebut masih membuka ruang banding bagi klub. Mekanisme banding bisa diajukan sesuai dengan Pasal 117 Kode Disiplin PSSI.

Di tengah keputusan tersebut, Persebaya Surabaya memberikan respons melalui kanal media sosial resmi klub. Mereka mengajak seluruh elemen suporter untuk lebih bijak dalam mendukung tim.

“Ayo Bersama Kita Jaga Persebaya,” tulis akun resmi klub di Instagram. Ajakan itu menjadi pengingat penting agar dukungan kepada tim tetap berjalan tanpa merugikan klub.

Di sisi lain, diskusi di kalangan Bonek langsung ramai setelah rincian denda musim ini kembali beredar. Salah satu fanbase, akun Instagram @kitabonek, mengunggah rekapitulasi denda yang diterima klub sepanjang musim.

Dalam unggahan tersebut disebutkan beberapa hukuman yang diterima Persebaya Surabaya. Mulai dari denda Rp 250 juta pada Maret 2026 hingga beberapa denda lain pada Februari.

Denda Rp 65 juta dijatuhkan setelah suporter hadir di laga tandang melawan Persijap Jepara. Insiden lain juga melibatkan pelemparan botol serta kartu merah dalam pertandingan tersebut.

Selain itu terdapat dua denda masing-masing Rp 25 juta. Kedua hukuman tersebut terkait kehadiran suporter Persebaya Surabaya di laga tandang melawan Bali United dan PSIM Yogyakarta.

Jika ditarik lebih jauh, akumulasi denda bahkan sempat menyentuh angka fantastis. Pada Januari 2026, totalnya dilaporkan mencapai sekitar Rp 455 juta.

Nilai tersebut membuat banyak suporter mulai melakukan refleksi. Mereka menilai uang sebesar itu sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan klub yang lebih penting.

Akun fanbase @kitabonek bahkan menyinggung perbandingan yang cukup menarik. Mereka menyebut total denda itu bisa digunakan untuk membeli armada bus operasional tim.

“Iki nek dikumpulno mbek dendo tahun-tahun wingi yo iso tuku bus 10. PIKIRKAN SECARA LOGIKA,” tulis akun tersebut.

Baca Juga: Kedalaman Skuad Bagaikan Langit dan Bumi! 3 Pemain Persebaya Surabaya Tersisih di Era Bernardo Tavares

Unggahan itu langsung memicu banyak komentar dari Bonek lainnya. Sebagian besar berharap insiden serupa tidak lagi terjadi di pertandingan berikutnya.

“Semoga kedepannya tidak terulang lagi,” ujar salah satu Bonek. Komentar tersebut mendapat banyak respons dukungan dari pengguna lain.

Ada juga yang mengingatkan pentingnya sikap dewasa dalam mendukung tim. Mereka berharap semua pihak bisa lebih bijak demi menjaga nama besar Persebaya Surabaya.

“Be smart temen temen🙌,” tulis salah satu Bonek. Pesan singkat itu menjadi gambaran harapan agar suporter lebih berhati-hati.

Komentar lain juga menyoroti dampak finansial yang harus ditanggung klub. Mereka menilai denda justru membuat manajemen semakin terbebani.

“Merugikan tim dan management🙈... ayo berbenah lebih baik🤝🐊,” tulis salah satu Bonek.

Di tengah tekanan hasil pertandingan dan sanksi disiplin, Persebaya Surabaya masih memiliki sejumlah laga tersisa di Super League musim ini.

Dukungan positif dari suporter tentu menjadi faktor penting agar tim bisa bangkit di sisa kompetisi.

Momentum ini juga menjadi pengingat bagi seluruh elemen klub. Loyalitas suporter tetap menjadi kekuatan utama, tetapi harus disalurkan dengan cara yang tidak merugikan Green Force.

 

EDITOR: Hendra