← Beranda
Dari Simon Kjaer ke Alfan Suaib! Ganesha Putera Bongkar Resep Rahasia Persebaya Future Lab
Moch. Rizky Pratama PutraRabu, 11 Februari 2026 | 15.44 WIB
Ganesha Putera saat memimpin latihan Persebaya Future Lab. (Persebaya)

JawaPos.com–Ganesha Putera bongkar resep melahirkan talenta berbakat seperti Alfan Suaib di Persebaya Future Lab, sebuah proses panjang yang tidak instan dan penuh evaluasi berani. Cerita ini menegaskan pembinaan pemain muda bukan soal siapa yang terlihat paling menonjol hari ini, tetapi siapa yang diberi ruang untuk tumbuh besok.

Inspirasi itu berangkat dari kisah legendaris Simon Kjaer di Akademi FC Midtjylland, Denmark. Seorang pemain yang nyaris tak diperhitungkan, bahkan tak masuk prediksi pelatih berlisensi UEFA Pro, justru tumbuh menjadi bek elite Eropa.

Kala itu, Simon Kjaer masuk akademi hanya karena ada satu slot kosong di tim U-16. Tak satu pun pelatih memprediksi dia bakal menjadi pemain profesional, apalagi bintang dunia.

Empat tahun kemudian, Kjaer dijual ke Palermo seharga 4 juta euro dan menjelma ikon sepak bola Denmark. Kisah itu menegaskan satu hal penting, talenta berkembang secara non linear dan tak bisa dinilai terlalu dini.

Prinsip itulah yang menjadi fondasi Persebaya Future Lab sejak berdiri. Klub memasang target ambisius, 30 persen menit bermain tim utama harus diisi pemain binaan sendiri pada 2027.

Target mulia itu menuntut perubahan cara pandang dalam pembinaan usia muda. Bukan sekadar mengejar hasil cepat, tetapi membangun ekosistem yang memberi kesempatan adil untuk belajar dan bermain.

Musim pertama menjadi fase eksplorasi dan pembelajaran bagi PFL. Meski Persebaya U-16 menembus final EPA 2024/2025, evaluasi internal justru menemukan banyak catatan penting.

Salah satu temuan krusial ialah distribusi menit bermain yang belum proporsional. Dampaknya, angka early exit pemain muda meningkat dan kolam talenta justru menyempit.

PFL juga menyadari latihan terlalu berat di Rencana Permainan dibanding Prinsip Permainan Fundamental dan Prinsip Permainan per Posisi. Akibatnya, pemain tampak solid sebagai tim, tetapi belum matang sebagai individu.

Chemistry kolektif sering menutupi kekurangan kualitas individu di pertandingan. Padahal, saat naik ke tim utama, pemain muda harus siap tampil tanpa pernah berlatih bersama sebelumnya.

Evaluasi itu menjadi titik balik di musim kedua. Klub sepakat mengubah kebijakan dengan memberi kesempatan berlatih dan bermain yang lebih proporsional untuk semua pemain.

Rotasi skuad diterapkan secara konsisten di setiap akhir pekan. Penambahan jumlah pertandingan menjadi 32 laga dimanfaatkan sebagai ruang belajar emas.

Strategi kedua ialah memainkan pemain terbaik di level usia yang lebih tinggi. Pemain U-16 naik ke U-18 atau U-20, sementara pemain U-20 terbaik dipinjamkan ke Liga 2.

Hasilnya terasa signifikan dalam aspek pembelajaran. Pemain muda dipaksa beradaptasi dengan intensitas, fisik, dan kecepatan yang lebih tinggi.

Latihan juga direformasi total dengan porsi besar pada PPF dan PPP. Hari Selasa difokuskan pada prinsip fundamental, sementara Rabu menjadi sesi intensif penguasaan peran posisi.

Pendekatan ini bertujuan mengejar standar teknis tim utama. Chemistry tak lagi menjadi prioritas utama dibanding kualitas individu.

Pesan Bernardo Tavares mempertegas arah pembinaan ini. ”Tugas kalian adalah mencetak pemain dengan menit main di Tim Utama, tugas memenangkan pertandingan adalah tugas kami!” ujar dia lugas.

Bernardo ingin pemain muda Persebaya Surabaya lapar dan memiliki etos kerja tinggi. Kekurangan teknik boleh ada, tetapi kemauan berlari dan menekan lawan tak bisa ditawar.

Hasilnya mulai terlihat di Super League 2025/2026. Persebaya Surabaya kembali memunculkan talenta muda dari jalur internal, kali ini lewat sosok Alfan Suaib.

Alfan mencuri perhatian saat menghadapi Bali United di Gianyar. Masuk sebagai pemain pengganti, dia langsung mencetak gol pada menit ke-69.

Gol itu melengkapi kemenangan Persebaya Surabaya 3-1. Momen tersebut menjadi simbol keberhasilan proses panjang di balik layar PFL.

Alfan merupakan jebolan SSB Binter dan sempat berlaga di Liga TopSkor 2021. Dia lalu meniti jalan di Persebaya U-20 dan debut di Liga 1 musim 2023/2024.

Bernardo Tavares memberi apresiasi penuh pada Alfan. ”Percayalah pada impian kalian dan teruslah berjuang,” ucap dia memberi pesan ke pemain akademi.

Bernardo menegaskan konsistensi menjadi kunci agar pemain muda bertahan di level tertinggi. Dia juga mendorong PFL terus menjaga regenerasi tim.

Alfan sendiri tak mampu menyembunyikan rasa syukur. ”Alhamdulillah saya bisa memberikan kemenangan hari ini,” kata dia penuh emosi.

Kisah Alfan Suaib menjadi Simon Kjaer-nya Persebaya Surabaya. Bukti resep Ganesha Putera di Persebaya Future Lab mulai membuahkan hasil nyata.

 

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah