← Beranda
Sepak Bola Indonesia Berduka, Memori Legenda Persija Jakarta Mendiang Wahyu Hidayat yang Tak Pernah Padam
Moch. Rizky Pratama Putra• Selasa, 10 Februari 2026 | 21.59 WIB
Mendiang Wahyu Hidayat saat mengenang momen bersejarahnya bersama Persija Jakarta. (Persija)

JawaPos.com–Sepak bola Indonesia berduka. Persija Jakarta ditinggal mendiang legenda Wahyu Hidayat, sosok yang namanya lekat dengan kejayaan Macan Kemayoran di era perserikatan.

Kabar duka ini diumumkan Persija Jakarta pada Selasa (10/2), sontak menggugah emosi pencinta sepak bola Tanah Air. Kepergian mendiang Wahyu Hidayat bukan hanya kehilangan bagi Persija, tetapi juga bagi sejarah sepak bola nasional. Sosoknya dikenang sebagai gelandang petarung yang penuh dedikasi dan loyalitas saat membela panji ibu kota.

”Keluarga besar Persija mengucapkan belasungkawa terdalam atas berpulangnya Wahyu Hidayat, salah satu gelandang legendaris Macan Kemayoran di era perserikatan,” tulis Persija Jakarta.

Klub juga mengajak seluruh pihak mengirimkan doa terbaik untuk almarhum dan keluarga yang ditinggalkan.

”Mari sejenak kita panjatkan doa terbaik untuk almarhum dan semoga keluarga yang ditinggalkan selalu diberikan ketabahan,” lanjut pernyataan resmi tersebut.

Ungkapan ini mencerminkan duka mendalam yang dirasakan seluruh elemen Persija. Mendiang Wahyu Hidayat tercatat sebagai salah satu pemain penting saat Persija Jakarta meraih gelar juara ke-9 pada 20 Januari 1979. Momen bersejarah itu menjadi salah satu tonggak emas perjalanan Macan Kemayoran.

Partai penentuan gelar mempertemukan Persija Jakarta dengan PSMS di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Laga tersebut menjadi saksi mental baja dan semangat juang tinggi para pemain Persija.

Menjelang laga krusial itu, Persija sebenarnya tak berada dalam kondisi ideal. Dari tujuh pertandingan sebelumnya, Persija mencatat empat kemenangan, satu hasil imbang, dan dua kekalahan.

Catatan tersebut berbanding terbalik dengan PSMS yang hanya membutuhkan hasil imbang untuk memastikan gelar juara. Situasi ini membuat tekanan justru berada di kubu Persija Jakarta.

Namun kondisi yang kurang menguntungkan itu tidak membuat Persija gentar. Semangat juang para pemain justru semakin menyala saat menghadapi laga hidup mati.

Hal tersebut disampaikan mendiang Wahyu Hidayat, yang kala itu menjadi salah satu pilar penting di lini tengah. Dia mengenang bagaimana ambisi besar menyelimuti seluruh skuad Persija.

”Saat itu semangat para pemain berlipat ganda. Saat menginjak rumput GBK dan melihat banyaknya penonton, kami menekankan diri harus menang. Saya ingat betul momen itu,” ujar mendiang di situs resmi Persija Jakarta.

Pernyataan tersebut menggambarkan atmosfer luar biasa yang menyelimuti Stadion Gelora Bung Karno kala itu. Dukungan puluhan ribu penonton menjadi bahan bakar tambahan bagi para pemain.

Mendiang Wahyu Hidayat dikenal kerap mengenakan nomor punggung 14 saat membela Persija. Nomor tersebut kini memiliki makna emosional tersendiri bagi Jakmania.

Pertandingan berlangsung ketat sejak menit awal dan Persija sempat menemui kesulitan di babak pertama. PSMS tampil disiplin dan mencoba mengontrol jalannya laga.

Kebuntuan akhirnya pecah pada pertengahan babak kedua. Andi Lala berhasil mencetak gol yang menggetarkan Stadion Gelora Bung Karno.

Gol tersebut menjadi satu-satunya gol di laga penentuan itu. Persija Jakarta pun memastikan diri menjadi juara berkat kemenangan tipis namun penuh makna.

Tim asuhan pelatih asal Polandia Marek Jonata, akhirnya mengangkat trofi juara dengan penuh kebanggaan. Keberhasilan itu menjadi buah dari kerja keras, mental juara, dan kekompakan tim.

Mendiang Wahyu Hidayat kembali mengenang semangat luar biasa yang muncul saat mengenakan jersey Persija. Dia menegaskan rasa memiliki terhadap klub menjadi faktor penting kemenangan.

”Saat sudah memakai jersey Persija, semangat pemain bertambah. Kami tidak mau kalah. Apalagi saat itu banyak pemain yang asli dari Jakarta ataupun binaan Persija,” tambah Wahyu.

Ucapan tersebut memperlihatkan betapa kuatnya ikatan emosional para pemain dengan Persija Jakarta. Klub bukan sekadar tempat bermain, tetapi rumah yang diperjuangkan sepenuh hati.

Kepergian Mendiang Wahyu Hidayat meninggalkan duka mendalam bagi Jakmania. Media sosial pun dipenuhi ungkapan belasungkawa dari para pendukung setia Persija.

”Al fatihah????,” ujar salah satu suporter. Doa singkat namun sarat makna itu menjadi simbol penghormatan terakhir.

”Alfatihah untuk babeh Wahyu Hidayat,Husnul Khatimah beh????????,” tulis suporter lainnya. Ungkapan ini mencerminkan kedekatan emosional Jakmania dengan sang legenda.

”turut berduka cita????,” ucap seorang pendukung. Rasa kehilangan terasa nyata di setiap komentar yang mengalir.

”Alfatihah turut berduka cita????,” tulis suporter lainnya. Doa-doa tersebut terus mengalir sebagai tanda cinta dan penghormatan.

”Al-Fatihah, turut berdukacita ????????,” demikian ungkapan terakhir dari Jakmania. Kepergian Mendiang Wahyu Hidayat menutup satu bab penting sejarah Persija, namun semangat dan jasanya akan terus hidup di hati sepak bola Indonesia.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah