← Beranda
Liga 4 Memang “Agak Laen”: Kerusuhan Suporter, Tendangan Brutal, hingga Lapor Polisi
Farid S. MaulanaSabtu, 10 Januari 2026 | 15.02 WIB
Tangkapan layar pertandingan antara PS Putra Jaya Pasuruan melawan Perseta 1970 Tulungagung di Liga 4 Jatim, di Stadion Bangkalan, Madura, Senin (5/1). (Naufal Ammar Imaduddin/Antara)

JawaPos.com -  Memang ada tendangan brutal, tekling horor, keputusan wasit janggal, serta tim yang hanya mempersiapkan diri seminggu di Liga 4 musim ini. Namun, kompetisi sepak bola strata terbawah itu juga menyaksikan kian seriusnya klub-klub kampus dan penerapan sport science.

Wasit Ega Bagus, yang memimpin laga Liga 4 DI Jogjakarta antara KAFI Jogja melawan UAD FC, barangkali mengidolakan Howard Webb. Bagi yang masih ingat final Piala Dunia 2010, wasit asal Inggris itu hanya memberi kartu kuning kepada pemain Belanda Nigel de Jong, yang kaki kanannya menerjang dada lawannya dari Spanyol Xabi Alonso.

Ega juga demikian. Dia juga cuma memberi kartu kuning kepada Dwi Pilihanto Nugroho dari KAFI Jogja yang kakinya menyasar kepala pemain UAD FC Amirul Muttaqin.

Kejanggalan keputusan wasit seperti itu hanyalah satu dari sederet hal-hal “agak laen” di Liga 4 di berbagai daerah. Ada pula tendangan brutal, tekling horor, ricuh sampai ruang ganti, yang sampai mendorong orang berkomentar: “Ini apa pemain Liga 4 dari (game pertarungan) Mortal Kombat semua?”

Ada pula pemain yang kena kartu merah tapi mengamuk tak mau meninggalkan lapangan, dan tim yang hanya bisa membayar harian pemainnya. Atau klub yang cuma sepekan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi. Juga, lapangan bak sawah.

Memang Liga 4 adalah kompetisi amatir. Namun, semestinya tak diikuti dan digelar secara amatiran. Bagaimanapun, liga ini adalah bagian dari jenjang pembinaan pemain. Tempat yang tepat untuk banyak bakat muda mengasah kemampuan dan menambah pengalaman.

Akhir Karir

Namun, bagaimana bisa bicara pembinaan jika yang kerap terjadi bukan adu skill, tapi adu pukulan? Jadilah pemain semuda Muhammad Hilmi Gimnastiar, yang baru berusia 20 tahun, pun tega menerjang dada pemain Perseta 1970 Firman Nugraha.

Di usia sebelia itu, kariernya selesai karena dihukum Komdis PSSI Jatim larangan beraktivitas di sepak bola sepanjang hidup. Demikian pula kiprah Firman bersama Perseta 1970 di lanjutan babak 32 besar Liga 4 Piala Gubernur Jatim yang ikut terhenti.

Di luar itu, berbagai tindakan tidak sportif baik pemain maupun official kerap kali terlihat. Ujungnya, kerusuhan pasca pertandingan sering terjadi.

“Semua itu dikarenakan tidak ada pemahaman soal Law of The Game (LOG), baik pemain, pelatih, official, maupun owner dari tim-tim,” kata Ketua Komdis PSSI Jatim Samiadji Makin Rahmat.

Harusnya, lanjut Makin, sebelum kompetisi dimulai, bimbingan teknis atau sering disebut workshop soal LOG harus diberikan, khususnya kepada pihak berkepentingan dalam klub yang akan berpartisipasi.

Baca Juga: Bintang Tarkam King Polo Dikabarkan ke Liga 4! Bos Perselobar Lombok Barat Berikan Jawaban

Menurut Makin, persiapan tim yang mepet untuk berkompetisi juga sangat berpengaruh. Proses seleksi yang cepat membuat klub-klub hanya merekrut pemain berdasarkan skill saja.

“Attitude, kemampuan berpikir, intelektual, pemahaman taktikal, sampai fisik tidak dilihat. Padahal hal-hal ini berpengaruh pada tindakan pemain di lapangan,” ujarnya.

Ya, sebagian besar konstestan Liga 4 memang melakukan persiapan yang sangat pendek. Persegres Gresik, misalnya, hanya melakukan persiapan selama seminggu.

“Pemain senior kami rekrut dari rekomendasi pelatih, yang lain dari hasil seleksi porprov kami panggil lagi, serta informasi ke klub-klub internal untuk mengirimkan pemain terbaik mereka,” ucap Ketua PSSI Kabupaten Gresik Rofiqi.

Wadah Mahasiswa

Namun, yang juga membuat Liga 4 “agak laen”, ujung lorong yang tampak gelap itu, tetap ada sayup-sayup cahaya. Salah satunya, banyaknya klub-klub dari lingkungan pendidikan tinggi berpartisipasi.

Di Liga 4 Piala Gubernur DIJ, contohnya, ada PS HW UMY dan UAD FC. Di Liga 4 Piala Gubernur Jatim, UNESA FC ikut bersaing.

Manajer UNESA FC Afif Dwi Nugraha menuturkan, timnya mayoritas dihuni pemain berstatus mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Bahkan, ofisial tim juga masih berstatus pegawai kampus.

“Kami memang ingin menjadi wadah bagi mahasiswa kami yang ingin berprestasi di sepak bola,” ujarnya.

Fokus timnya, kata Afif, memang pada pembinaan. Namun, kalau ada kesempatan berprestasi, tentu tidak akan dilewatkan. “Target kami sementara memang sama dengan musim lalu, masuk babak 16 besar. Tapi, jika bisa lebih, kenapa tidak,” lanjutnya.

Adapun Malang United memilih menerapkan sport science untuk skuadnya. Salah satunya penggunaan GPS Tracker Vest untuk pencatatan data pemain, baik saat latihan maupun pertandingan.

Manajer Malang United Virdianita mengatakan, pemilik timnya memang ingin fokus pada pembinaan. Mayoritas pemain yang ada dalam skuad usianya masih 17 tahun. “Dari akademi kami sendiri,” katanya.

Karena dihuni banyak pemain muda, Malang United ingin memberikan edukasi soal sport science. “Biar nanti ketika naik atau direkrut klub profesional, mereka sudah terbiasa bermain dengan data dari sport science,” tegasnya. 

Baca Juga: Klaim Tak Sengaja! Kafi FC Jogja Bela Pemain, Usai Insiden Tendangan Kungfu ke Kepala Pemain UAD FC di Liga 4

EDITOR: Hendra