← Beranda
Umar Husein Blak-blakan! Ketua Komdis PSSI Siapkan Hukuman Berat untuk Muhammad Hilmi
Moch. Rizky Pratama PutraSelasa, 6 Januari 2026 | 17.23 WIB
Komisi Disiplin PSSI akan memberikan hukuman berat kepada pemain Putra Jaya, Muhammad Hilmi. (istimewa)

JawaPos.com — Umar Husein akhirnya buka suara terkait insiden tendangan horor yang mengguncang Liga 4 Jawa Timur. Ketua Komite Disiplin PSSI itu menegaskan pihaknya menyiapkan tindakan keras terhadap Muhammad Hilmi, pemain Putra Jaya Kabupaten Pasuruan yang melakukan pelanggaran brutal.

Insiden tersebut terjadi dalam laga Putra Jaya Kabupaten Pasuruan melawan Perseta 1970 Tulungagung. Pertandingan berlangsung di Stadion Gelora Bangkalan pada Senin (5/1/2026) pukul 13.00 WIB.

Laga itu merupakan bagian dari Grup CC Liga 4 PSSI Jawa Timur putaran 32 besar. Putra Jaya tampil dengan jersey kuning, sementara Perseta mengenakan seragam hijau.

Pertandingan yang awalnya berjalan normal berubah mencekam setelah terjadi pelanggaran serius. Momen tersebut terekam jelas melalui siaran langsung di kanal YouTube PSSI Jawa Timur.

Insiden bermula saat Firman Nugraha, pemain Perseta 1970 Tulungagung, berusaha merebut bola. Secara tiba-tiba, Muhammad Hilmi menendang dengan brutal dan sengaja tepat mengenai dada Firman.

Firman langsung terjatuh dan ambruk di lapangan akibat tendangan keras tersebut. Wasit tanpa ragu mencabut kartu merah untuk Muhammad Hilmi yang mengenakan nomor punggung 23.

Situasi sempat memanas setelah pemain Perseta tidak terima dengan tindakan itu. Beberapa pemain mengejar Hilmi yang kemudian diarahkan rekan setimnya untuk segera keluar lapangan demi menghindari bentrok fisik.

Firman Nugraha harus mendapatkan penanganan medis serius. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit untuk memastikan kondisinya aman usai menerima tendangan berbahaya.

Insiden ini pun langsung menyita perhatian publik sepak bola Jawa Timur. Banyak pihak menyoroti aspek keselamatan pemain yang kembali terancam di level kompetisi daerah.

Menanggapi kejadian tersebut, Umar Husein memberikan pernyataan tegas. Ia menekankan isu keselamatan atlet menjadi prinsip utama dalam seluruh cabang olahraga, termasuk sepak bola.

“Ya, jadi isu tentang keselamatan atlet ini tidak hanya monopoli keluarga sepak bola. Jadi semua olahraga itu harus menjamin keselamatan atletnya,” ujar Umar Husin dari rilis yang diterima JawaPos.com, Selasa (6/1/2025).

Ia menjelaskan pertandingan bisa ditunda, dibatalkan, bahkan ditutup jika mengancam keselamatan atlet dan pihak terkait.

Menurutnya, ketentuan itu diatur jelas dalam Undang-Undang Keolahragaan Nasional Nomor 11 Tahun 2022.

“Jadi pertandingan bisa ditunda, bisa dibatalkan, bisa ditutup kalau mengancam keselamatan atlet dan pihak-pihak yang terlibat,” lanjutnya. Umar menegaskan atlet yang sakit atau cedera tidak boleh dipaksa untuk bermain.

Dalam konteks sepak bola, aturan keselamatan atlet juga tertuang dalam Kode Disiplin. Regulasi tersebut dirancang untuk mencegah tindakan brutal agar tidak terus berulang.

“Turunannya khusus sepak bola itu ada di Kode Disiplin gitu ya. Memang untuk mencegah berulangnya tindakan-tindakan brutal, memang harus ditegakkan secara tegas,” katanya.

Umar menyebut Komdis PSSI memiliki komitmen menjaga iklim sepak bola tetap sehat dan kondusif. Ia menilai tindakan keras diperlukan agar kompetisi berkembang tanpa merugikan pihak lain.

“Artinya bagaimana sepak bola itu berkembang dengan sehat, dengan baik, dan tidak merugikan pihak lain,” ucap Umar. Menurutnya, pelanggar harus ditertibkan melalui sanksi yang jelas.

Ia menegaskan pihak yang mengancam atmosfer sehat sepak bola akan mendapatkan hukuman. Sanksi bisa berupa teguran, denda, hingga larangan beraktivitas di dunia sepak bola.

“Nah, pihak-pihak yang mengancam atmosfer yang sehat ini, yang ini yang mesti ditertibkan,” tegas Umar.

Komdis, katanya, bertugas melindungi atlet dan menjaga fair play.

Umar juga mengingatkan peran penting panitia disiplin di semua level kompetisi. Ia meminta tidak ada keraguan dalam menjatuhkan hukuman bagi pelanggaran keras dan brutal.

“Kami menghimbau kepada teman-teman yang menjadi Panitia Disiplin atau berperan sebagai Komite Disiplin di semua tingkatan liga untuk tidak ragu-ragu menghukum,” ujarnya.

Ia menekankan jaminan keselamatan atlet juga dilindungi Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional. Hal ini menjadi dasar kuat bagi Komdis daerah untuk bertindak tegas.

“Jadi itu penegasannya, agar Komdis di tingkat daerah ataupun Pandis itu bisa bertindak tegas tanpa ragu-ragu,” kata Umar.

Semua langkah diambil demi melindungi sepak bola dan atlet.

Terkait kasus Muhammad Hilmi, Umar menilai sanksi berat layak diberikan. Ia bahkan menyebut kemungkinan hukuman ekstrem demi memberi efek jera.

“Terkait kejadian tersebut kami rasa harus dihukum seberat-beratnya, seperti larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup,” tutup Umar Husin.

Pernyataan ini menjadi sinyal keras bagi pelaku pelanggaran brutal di lapangan hijau.

EDITOR: Edi Yulianto