JawaPos.com — PSM Makassar menatap laga tunda Super League 2025/2026 kontra Persebaya Surabaya dengan fokus besar pada satu titik lemah lawan: kebiasaan kebobolan di babak kedua. Pelatih Tomas Trucha menegaskan timnya sudah mengantongi celah itu dan siap memanfaatkannya saat duel digelar di Stadion BJ Habibie, Parepare, Sabtu (6/12/2025) malam.
Data kebobolan Persebaya hingga pekan ke-14 menunjukkan penurunan konsentrasi signifikan setelah jeda, dengan enam gol bersarang pada menit 46–90 dan dua gol lainnya saat injury time.
Trucha melihat pola tersebut sebagai peluang penting untuk menguasai permainan dan mengontrol jalannya pertandingan.
“Tim ini kebobolan terlalu banyak di babak kedua, jadi kami harus cerdas memanfaatkan momen ketika konsentrasi mereka turun,” ujar Trucha saat jumpa pers, Jumat (5/12/2025).
Ia menyebut analisis itu dilakukan bersama staf pelatih dalam evaluasi mendalam usai laga sebelumnya.
Meski begitu, Trucha tetap mengingatkan timnya agar tidak terlena dengan kelemahan Persebaya. Ia melihat Green Force tetap memiliki daya ledak tinggi dan mampu mengubah ritme laga dengan cepat jika diberi ruang.
“Persebaya tetap berbahaya, mereka punya kualitas dan pengalaman,” ucapnya.
Menurut Trucha, stabilitas mental menjadi faktor yang paling menentukan bagi PSM untuk mengamankan tiga poin di kandang.
Trucha juga kembali mengangkat istilah “serangan jantung” yang sempat membuat suporter waswas dalam beberapa laga terakhir. Istilah itu merujuk pada pertandingan penuh ketegangan yang diwarnai jual-beli gol hingga menit akhir.
“Saya tiga kali merasakan serangan jantung dalam pertandingan sebelumnya,” ujar Trucha mengingat laga dramatis melawan Persis Solo yang berakhir 3–4. “Saya tidak mau ini terjadi lagi, dan saya juga tidak mau suporter merasakan hal yang sama.”
Kekalahan dari Persis disebutnya sebagai alarm keras yang tidak boleh diabaikan pemain. Kebobolan tiga gol dalam satu laga memperlihatkan ada masalah koordinasi yang harus diperbaiki segera sebelum menjamu Persebaya.
Begitu kembali ke Parepare, PSM langsung menggelar evaluasi menyeluruh terhadap struktur pertahanan. Trucha menaruh perhatian besar pada transisi bertahan yang dianggap terlalu mudah ditembus saat lawan meningkatkan intensitas serangan.
“Kami kemasukan tiga gol dan kami tidak mau hal ini terjadi lagi dalam pertandingan kandang kali ini,” tegasnya.
Ia meminta pemain menjaga disiplin posisi agar tidak terbawa ritme menyerang lawan.
Di kubu Persebaya, situasi berbeda hadir karena posisi pelatih saat ini diisi caretaker Uston Nawawi.
Meski status caretaker sering dipandang sebagai masa peralihan, Trucha justru melihatnya sebagai potensi kejutan yang harus diwaspadai.
“Tim ini punya banyak pengalaman, dan musim lalu mereka finis di peringkat keempat,” ujar Trucha.
Ia menilai pengalaman Uston sebagai mantan pemain dan figur yang memahami karakter Persebaya bisa membuat Green Force tampil lebih lepas di Parepare.
Trucha juga menyoroti gaya bermain Persebaya yang agresif dalam beberapa fase pertandingan. Menurutnya, pola itu bisa memicu perubahan cepat di papan skor sehingga PSM harus tetap tenang ketika tekanan datang bertubi-tubi.
Ia meminta pemain menjaga pemahaman terhadap rencana permainan agar tidak terpancing tempo tinggi lawan.
PSM diminta memanfaatkan momen ketika ruang terbuka, terutama saat Persebaya mulai kehilangan keseimbangan di babak kedua.
Atmosfer Stadion BJ Habibie diperkirakan kembali penuh oleh dukungan suporter yang ingin melihat PSM bangkit.
Trucha berharap dukungan itu bukan hanya menjadi motivasi, tetapi juga pengingat bagi pemain agar tampil lebih disiplin sejak menit pertama.
PSM ingin menghindari skenario kejar-kejaran gol yang selama ini membuat pertandingan terasa sulit dikendalikan.
Trucha memahami laga seperti itu memang dramatis bagi penonton, tetapi terlalu berisiko dalam persaingan ketat musim ini.
Ia menegaskan PSM harus bermain lebih matang dan memperlihatkan konsistensi penuh selama 90 menit.
Ketika fokus terjaga, PSM diyakini mampu menekan Persebaya dan memanfaatkan kelemahan lawan yang sering muncul di babak kedua.
Persebaya sendiri tentu tak ingin memelihara citra sebagai tim yang mudah runtuh setelah jeda.
Mereka diperkirakan tampil dengan pendekatan lebih konservatif untuk meminimalkan kesalahan yang selama ini menjadi sumber masalah.
Trucha percaya laga akan berjalan intens sejak peluit pertama dibunyikan.
Namun, ia optimistis persiapan matang dan pemahaman terhadap celah lawan bisa menjadi kunci bagi PSM untuk tampil lebih meyakinkan di hadapan publik Parepare.