← Beranda
Persebaya Surabaya Gak Cocok Pakai Pelatih Spanyol! Josep Gombau dan Eduardo Perez Tak Berdaya
Moch. Rizky Pratama Putra• Minggu, 23 November 2025 | 21.19 WIB
BELUM PERGI: Josep Gombau menanti kepastian dari manajemen Persebaya.

JawaPos.com — Persebaya Surabaya kembali mengambil keputusan besar setelah memutus kerja sama dengan Eduardo Perez usai hasil imbang 1-1 melawan Arema FC. Situasi ini memperkuat kesan Persebaya Surabaya memang tak cocok memakai pelatih asal Spanyol karena dua nama sebelumnya sama-sama tak berdaya.

Pertandingan Derby Jawa Timur di Gelora Bung Tomo seharusnya menjadi momen kebangkitan Green Force. Namun performa tim di bawah Perez tak kunjung stabil hingga penampilan mereka kembali tersendat.

Laga sebenarnya menunjukkan agresivitas Persebaya Surabaya sejak awal babak kedua. Tendangan bebas Dejan Tumbas yang melenceng tipis menandai peluang pertama yang hampir membawa mereka unggul.

Petaka justru hadir ketika Dime Dimov salah mengantisipasi bola hingga berbuah gol bunuh diri. Keunggulan Arema pada menit ke-63 membuat tekanan bagi Perez semakin besar.

Kartu kuning kedua untuk Matheus Blade dua menit kemudian memberi angin segar bagi Persebaya Surabaya. Perez merespons cepat dengan memasukkan Rizky Dwi menggantikan Malik Risaldi agar serangan lebih hidup.

Hasilnya langsung terlihat ketika Bruno Moreira mencetak gol penyama kedudukan lewat sontekan ke tiang jauh. Stadion bergemuruh karena Persebaya Surabaya kembali memiliki momentum untuk membalikkan keadaan.

Meski terus menekan hingga menit ke-89, peluang demi peluang gagal dikonversi menjadi gol kemenangan. Sebaliknya, Arema hampir mencuri tiga poin lewat sontekan Ian Puleillo yang melintas tipis di masa tambahan waktu.

Hasil imbang itu menahan Persebaya Surabaya di posisi kedelapan klasemen dengan 16 poin. Situasi tersebut memperbesar sorotan terhadap performa tim yang tak kunjung konsisten.

Beberapa jam setelah laga, manajemen langsung menjatuhkan keputusan tegas.

“Persebaya hari ini (22/11) memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan Coach Eduardo Perez. Terima kasih atas kerja sama selama enam bulan terakhir,” tulis manajemen dalam pernyataannya.

Mereka juga memberi sinyal kedatangan pelatih baru yang sudah disepakati.

“Perihal pelatih pengganti, Persebaya telah mencapai kesepakatan jangka panjang. Namun, Persebaya akan bersikap profesional menunggu tuntasnya segala urusan legalitas.”

Keputusan tersebut mencatatkan perjalanan Perez hanya bertahan 172 hari dengan 11 pertandingan dan rata-rata poin 1,45.

Angka itu terlihat moderat tetapi tetap dianggap tidak cukup untuk mengangkat Persebaya Surabaya ke persaingan papan atas.

Sebelum Perez, ada nama Josep Gombau yang bahkan lebih singkat masa baktinya. Gombau hanya bertahan 68 hari dengan enam pertandingan dan rata-rata poin 0,67.

Pelatih kelahiran Spanyol itu datang membawa konsep penguasaan bola tetapi tak mampu menghadirkan permainan meyakinkan.

Persebaya Surabaya sering tampil ragu-ragu dan kehilangan ritme yang seharusnya menjadi kekuatan mereka.

Eduardo Perez tak lagi menukangi Persebaya Surabaya. (Persebaya Surabaya
Eduardo Perez tak lagi menukangi Persebaya Surabaya. (Persebaya Surabaya

Baca Juga: Bonek Kaget Harga Pasaran Dime Dimov Tembus Rp 6,8 Miliar! Bek Persebaya Surabaya Sering Bikin Gemes

Dua pelatih Spanyol dengan dua gaya berbeda ternyata mendulang hasil serupa: sama-sama kurang cocok dengan karakter Persebaya Surabaya.

Klub asal Surabaya itu memang terbiasa bermain cepat, agresif, dan penuh intensitas yang tidak selalu cocok dengan pola permainan terstruktur ala Spanyol.

Tekanan besar dari suporter juga menjadi tantangan berat bagi siapa pun yang datang. Setiap pertandingan dianggap penentu masa depan pelatih sehingga adaptasi yang lambat langsung membawa konsekuensi fatal.

Manajemen kini berada pada fase menentukan sosok pengganti yang dianggap benar-benar sejalan dengan kultur tim. Mereka tampaknya belajar dari dua era sebelumnya reputasi luar negeri bukan jaminan kesuksesan.

Pelatih baru nanti akan menghadapi tugas besar untuk memulihkan identitas permainan Persebaya Surabaya. Konsistensi, intensitas, dan kedekatan emosional dengan suporter menjadi aspek yang tak boleh diabaikan lagi.

Dua kegagalan beruntun pelatih Spanyol menjadi pelajaran mahal bagi klub. Persebaya Surabaya seakan menemukan fakta pahit tidak semua filosofi bisa cocok diterapkan di Surabaya meski secara teori terlihat menjanjikan.

Kini harapan publik tertuju pada hadirnya pelatih baru yang disebut telah disepakati. Persebaya Surabaya membutuhkan sosok yang bukan hanya paham taktik tetapi juga mengerti napas perjuangan Green Force.

Musim masih panjang dan peluang memperbaiki posisi tetap terbuka lebar. Namun langkah pertama harus dimulai dari kursi pelatih agar Persebaya Surabaya tidak lagi terjebak dalam lingkaran inkonsistensi.

Dua pelatih Spanyol sudah mencoba peruntungannya tetapi keduanya sama-sama tak berdaya.

Persebaya Surabaya kini berada pada momen penting untuk memastikan pilihan berikutnya menjadi titik balik, bukan ulangan dari cerita yang sama.

EDITOR: Hendra