← Beranda
Pekerjaan Rumah Persebaya Surabaya Sejak Musim Lalu! Lebih Sering Koleksi Kartu Daripada Gol
Moch. Rizky Pratama PutraSelasa, 21 Oktober 2025 | 22.00 WIB
Persebaya Surabaya wajib berbenah untuk mengurangi kartu pelanggaran agar tak kehilangan pemain di laga penting. (Persebaya Surabaya)
 

JawaPos.com — Performa Persebaya Surabaya musim ini agaknya tidak bisa terlepas dari koleksi kartu pelanggaran, kondisi ini sedikit mirip dengan musim lalu saat ditangani oleh Paul Munster. Green Force seolah belum belajar dari pengalaman, masih sering kehilangan pemain akibat pelanggaran yang sebenarnya bisa dihindari.

Kekalahan 1-3 dari Persija Jakarta pada pekan ke-9 Super League 2025/2026 menjadi pukulan telak bagi tim asal Kota Pahlawan.

Bermain di kandang sendiri, Persebaya Surabaya gagal menjaga fokus dan justru lebih banyak membuat pelanggaran dibanding menciptakan peluang berbahaya.

Pelatih Eduardo Perez tak menutup mata atas situasi tersebut. Ia mengakui hasil itu mengecewakan, tetapi meminta para pemain untuk segera bangkit dan memperbaiki kesalahan mendasar yang membuat tim sering merugi.

“Pada pertandingan hari ini (melawan Persija), tentu saja kami merasa sangat buruk. Tetapi mulai besok, kami harus bersama dan bekerja sangat keras untuk laga berikutnya,” ujar Eduardo seusai laga dengan nada tegas.

Persebaya Surabaya kini menatap laga berikutnya melawan PSBS Biak pada Jumat (24/10/2025) di Stadion Maguwoharjo, Sleman.

Pertandingan itu akan menjadi ujian penting apakah Green Force benar-benar bisa belajar dari kekalahan dan menekan jumlah kartu pelanggaran yang kerap muncul di setiap laga.

Eduardo Perez menyebut timnya punya waktu sekitar sepekan untuk berbenah dan mematangkan strategi. Ia menekankan analisis performa akan menjadi kunci agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi di pertandingan berikutnya.

“Tentu saja kami akan menganalisis pertandingan tersebut. Kami perlu meningkatkan diri,” ujarnya menegaskan niat memperbaiki kondisi tim.

Di balik pernyataan optimistis itu, ada pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan sejak musim lalu.

Persebaya Surabaya masih kesulitan menjaga disiplin permainan, terutama saat tensi pertandingan meningkat dan emosi pemain mudah terpancing.

Musim ini, Persebaya Surabaya sudah mengoleksi 9 kartu kuning dan 2 kartu merah hanya dalam sembilan pertandingan. Nilai fair play mereka menyentuh angka 19, yang menandakan intensitas pelanggaran cukup tinggi di awal musim.

Kondisi tersebut membuat Green Force kembali mendapat sorotan. Para pemain dianggap belum mampu mengontrol diri di situasi genting, sehingga kartu demi kartu terus datang tanpa bisa dihindari.

Musim lalu, situasi ini juga menjadi cerita yang sama.

Saat masih dilatih Paul Munster, Persebaya Surabaya menjadi tim paling tidak fair play nomor dua di Super League 2024/2025 dengan 79 kartu kuning, 2 kartu kuning kedua, dan 4 kartu merah.

Total poin pelanggaran mereka mencapai 105, hanya sedikit di bawah Semen Padang yang mencatat 115 poin. Catatan itu seharusnya menjadi pelajaran berharga agar Persebaya Surabaya lebih berhati-hati musim ini.

Namun, data di awal musim justru menunjukkan pola yang belum berubah. Green Force tetap tampil keras, tapi sering kehilangan keseimbangan antara agresivitas dan kontrol permainan.

Eduardo Perez menyadari hal ini bisa menjadi bumerang jika tidak segera diperbaiki.

Selain merugikan tim di tengah laga, hukuman akumulasi kartu juga berpotensi membuat Persebaya Surabaya kehilangan pemain kunci di momen penting.

Pelatih asal Spanyol itu menekankan pentingnya kekompakan dan mental tangguh agar para pemain tidak mudah terbawa emosi.

“Kami akan belajar dari laga melawan Persija dan bekerja keras untuk pertandingan berikutnya,” tegasnya.

Selain masalah disiplin, mental bertanding juga menjadi sorotan. Kekalahan di kandang sendiri membuat moral tim sempat turun, dan Eduardo harus memastikan para pemainnya tidak larut dalam kekecewaan.

Ia ingin skuad Green Force kembali menunjukkan karakter pantang menyerah seperti identitas Persebaya Surabaya selama ini. Semangat juang dan rasa kebersamaan menjadi modal utama untuk kembali ke jalur kemenangan.

Target terdekat sudah jelas: tiga poin melawan PSBS Biak. Namun lebih dari sekadar kemenangan, Eduardo ingin melihat perubahan nyata dalam cara timnya bermain dan mengontrol diri.

Persebaya Surabaya membutuhkan keseimbangan antara determinasi dan kedisiplinan agar bisa bersaing di papan atas. Jika tidak, koleksi kartu akan terus menjadi bayangan yang menghambat langkah mereka musim ini.

Para Bonek tentu menunggu perubahan nyata dari tim kesayangan mereka. Sebab sehebat apa pun taktik dan strategi, tanpa kontrol emosi dan disiplin, kemenangan akan terus menjauh.

Kini, semua mata tertuju pada laga Jumat nanti di Maguwoharjo.

Mampukah Persebaya Surabaya menekan agresivitas berlebihan dan mulai memperbaiki citra mereka di lapangan? Ataukah Green Force kembali tersandung oleh “penyakit lama” yang tak kunjung sembuh?

Satu hal pasti, jika tidak segera dibenahi, kartu pelanggaran bisa kembali menjadi cerita pahit Persebaya Surabaya musim ini, lebih sering dikoleksi daripada gol yang seharusnya dirayakan.

EDITOR: Edi Yulianto