← Beranda
PSSI Patut Pertimbangkan Alex Pastoor Jadi Pengganti Patrick Kluivert, Shin Tae-yong Solusi Terbaik?
Dimas Ramadhan Wicaksana• Sabtu, 18 Oktober 2025 | 17.00 WIB
Asisten pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor pada pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2026 putaran ketiga Grup C di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (5/6/2025). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
 

JawaPos.com - Tugas berat dimiliki PSSI dalam mencari pengganti Patrick Kluivert sebagai pelatih Timnas Indonesia. Federasi dinilai patut mempertimbangkan Alex Pastoor sebagai nakhoda anyar, alih-alih mengembalikan Shin Tae-yong sebagai solusi terbaik.

Patrick Kluivert telah resmi angkat kaki dari tim kepelatihan Timnas Indonesia menyusul pupusnya mimpi besar lolos ke Piala Dunia 2026. Dia berpisah dengan PSSI beberapa hari setelah Garuda gagal usai menelan dua kekalahan dalam putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.

Skuad Garuda tumbang masing-masing dari Arab Saudi (2-3) dan Irak (0-1). Kekalahan itu dianggap netizen dan penggemar Timnas Indonesia karena ketidakpiawaian Patrick Kluivert dalam meramu skuad terbaik Garuda. Sebab, amunisinya sekarang sudah terbilang yang terbaik dan komplet.

Tuntutan terhadap Patrick Kluivert untuk pergi sebelumnya memang sangat masif. Di media sosial X saja tagar #PatrickOut sempat jadi trending topic selama dua hari sejak kegagalan Timnas Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia 2026.

Perpisahan antara PSSI dan Patrick Kluivert pun akhirnya terjadi pada Kamis (16/10). Juru taktik asal Belanda itu tak lagi menjadi pelatih Garuda setelah mempertimbangkan dinamika internal dan arah strategis pembinaan tim nasional ke depan.

Pengamat sepak bola Supriyono Prima menilai desakan netizen dan masyarakat Indonesia itu merupakan sesuatu yang wajar. Sebab, kesempatan itu jadi momen yang sangat krusial dan sudah lama dinantikan segenap bangsa Indonesia.

"Ya itu kan sesuatu yang wajar ya. Artinya, gini loh, momentum untuk mendapatkan kesempatan lolos, merasakan, dan mencicipi Piala Dunia itu kan enggak gampang ya kan? Waktunya tidak tidak pendek, kemudian juga biayanya tidak mudah, semua sudah dimaksimalkan, pemerintah juga terlibat, karena kan proses naturalisasi memerlukan persetujuan dari pemerintah," kata Supriyono Prima.

"Nah, yang ingin saya katakan adalah permintaan masyarakat. Kekecewaan masyarakat yang menginginkan Patrick Kluivert untuk out, ya karena memang setelah peralihan dari Shin Tae-yong, kemudian memilih Patrick Kluivert sebagai nakhoda," tambahnya saat dihubungi JawaPos.com, Rabu (15/10) pagi.

Supriyono juga mengatakan bahwa permintaan masyarakat itu sebenarnya bukan hanya karena gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Tapi, juga kemampuan teknis Kluivert yang kurang dalam meracik strategi dan permainan Timnas Indonesia yang enak dilihat.

Pengamat yang juga mantan pemain Indonesia Primavera itu mempertanyakan rencana permainan Timnas Indonesia di bawah komando Patrick Kluivert. Hal ini berbeda dengan Shin Tae-yong, yang sejak awal dikenal dengan permainan bertahan dan memanfaatkan serangan balik.

Di mata Supriyono Prima, permainan Timnas Indonesia besutan Shin Tae-yong lebih terstruktur dan jelas. Hasilnya pun tak buruk karena mampu mengantarkan Garuda melaju hingga putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia sebelum dipecat.

"Untuk hal teknis aja, saya sebagai mantan, banyaklah orang-orang awam itu yang mempertanyakan, ini game plan-nya itu mau seperti apa sih? Artinya kan bangsa Indonesia, masyarakat Indonesia itu kan sebenarnya dengan dulu ada Shin Tae-yong yang katanya defense counter," terang Supriyono.

"Lalu, kenapa dengan defense counter itu? Toh nyatanya juga masih bisa ada kesempatan untuk di fase berikutnya, di ronde berikutnya. Nah, sekarang, Patrick Kluivert sistemnya apa? Konsepnya apa? Plan-nya apa? Padahal, kalau berbicara individu, puzzle-puzzlenya di setiap lini itu kan sudah terpenuhi," tambahnya.

Puzzle yang dimaksud Supriyono Prima adalah Timnas Indonesia sekarang sudah banyak diperkuat pemain diaspora, termasuk sejumlah nama tambahan yang belum bergabung saat era Shin Tae-yong.

Contohnya adalah Emil Audero Mulyadi, Joey Pelupessy, Dean James, Ole Romeny, Miliano Jonathans, hingga Mauro Zijlstra. Namun, Patrick Kluivert nyatanya tak mampu memanfaatkan kehadiran pemain tersebut untuk semakin memantapkan permainan Timnas Indonesia.

"Kenapa kok permainannya nggak bisa dinikmati? Tapi, kok selalu mudah dieksploitasi? Kenapa kok level mereka yang bagus kualitasnya, tapi kenyataannya mereka masih kedodoran? Artinya, ada yang salah di sini," ucap Supriyono.

"Yang salah itu adalah bagaimana dengan puzzle-puzzle ini, dengan bahan-bahan ini, racikan seorang pelatih itu nggak kelihatan. Apalagi, racikannya enggak jelas. Ini yang membuat dinamika bergejolaknya masyarakat untuk meminta Patrick Kluivert harus legowo untuk meninggalkan posnya, meninggalkan kursi kepelatihan," jelasnya menambahkan.

Lantas, bagaimana solusi dari Supriyono Prima setelah Patrick Kluivert kini angkat kaki? Ia menilai Alex Pastoor bisa jadi opsi untuk dipromosikan PSSI untuk menjadi pelatih Timnas Indonesia yang baru. Sebab, rekam jejak Pastoor sebagai asisten terbilang lumayan ketimbang Kluivert sendiri. 

Data mencatat Pastoor pernah membawa tiga klub kompetisi kasta kedua Liga Belanda (Eerste Divisie) promosi ke Eredivisie (kasta tertinggi sepak bola Belanda), yakni Excelsior (2008/2009), Sparta Rotterdam (2015/2016), dan Almere City (2022/2023).

"Itu kan jadi jadi background yang sangat positif, jadi argumen yang kuat untuk dia perlu dicoba di posisi itu (pelatih) gitu loh, apalagi yang agenda terdekat kan ada (Piala) AFF ya. Nah, sambil dilihat bagaimana kinerja, bagaimana racikan, bagaimana performa timnas setelah diambilalih oleh Alex Pastoor, ya mungkin ke depannya bisa lebih ditegaskan yang layak itu siapa," katanya.

Nama Alex Pastoor sendiri memang tak terlalu buruk di mata penggemar Timnas Indonesia, meski menjadi asisten Patrick Kluivert. Sebab, dia sejak awal dianggap sebagai otak strategi skuad Garuda. Namun, pro dan kontra tetap menghampiri pasca kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026.

Bagi netizen, nama yang paling banyak diinginkan untuk gantikan Patrick Kluivert adalah Shin Tae-yong. Mereka ingin PSSI kembali mengontrak pelatih asal Korea Selatan itu untuk memulai lagi kisahnya di Timnas Indonesia.

Terkait itu, Supriyono Prima menyatakan bahwa Shin Tae-yong bisa jadi pertimbangan. Tapi, dirinya lebih memilih sosok lain untuk jadi pelatih Timnas Indonesia berikutnya, yang juga dari Korea Selatan, seperti Park Hang-seo, eks pelatih Timnas Vietnam. 

"Harus mundur lagi dan bangun basic lagi ya (bila Shin Tae-yong kembali). Ya, kalau memang permintaan masyarakat ya why not gitu loh, ya kan?" katanya.

"Tapi, ada satu juga yang aku ingin, opini aku sih Park Hang Seo. Sama-sama Korea Selatan, tapi kita bisa lihat knowledge dan karakter bermainnya bagaimana, tim mudanya juga bisa selinier dengan prestasi senior," jelas Supriyono.

Sementara itu, pengamat sepak bola lain Aun Rahman dengan lantang menyebut bahwa memulangkan Shin Tae-yong bukan opsi terbaik. Sebab, eks pelatih Timnas Korea Selatan itu baru saja dipecat dari klubnya, Ulsan HD FC.

Uniknya, pemecatan Shin Tae-yong disinyalir karena masalah komunikasi. Persoalan itu juga jadi alasan yang sama yang digunakan oleh PSSI saat mencopot dirinya sebagai pelatih Timnas Indonesia.

"Mengembalikan ke pelatih sebelumnya juga enggak serta-merta jadi benar juga. Karena memang dia ternyata di Ulsan HD, yang bersangkutan ada masalah juga kan? Di mana masalah komunikasi tersebut juga kita alami di Timnas Indonesia," kata Aun Rahman.

"Jadi, saya rasa kalau misalnya memang mau mencari perbaikan itu bukan balik lagi ke yang lama juga. Memang, kita harus mencoba untuk menemukan opsi lain," imbuhnya.

EDITOR: Edi Yulianto