← Beranda
Suporter PSS Sleman Sempat Ricuh di Kudus, BCS Sampaikan Permohonan Maaf dan Janji Evaluasi
Andre Rizal HanafiSelasa, 23 September 2025 | 14.37 WIB
BCS memberikan dukungan kepada PSS Sleman. (Twitter: @BCSxPSS_1976)

JawaPos.com - Laga pekan kedua Liga 2 antara Persiku Kudus melawan PSS Sleman di Stadion Wergu Wetan, Minggu (21/9/2025), sempat diwarnai sedikit kericuhan. 

Sejumlah oknum suporter PSS dilaporkan melakukan penjebolan pintu masuk stadion hingga mengeroyok panitia pertandingan. Meski begitu, laga tetap berjalan dan berakhir dengan kemenangan tim tamu PSS Sleman dengan skor 3-1.

Insiden ini langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial. Beberapa video dan foto yang beredar menunjukkan momen pintu gerbang stadion jebol akibat desakan suporter yang ingin masuk. 

Beruntung insiden ini tidak melebar menjadi kericuhan antar suporter yang lebih besar.

Permohonan Maaf BCS

Menanggapi kejadian ini, kelompok suporter PSS Sleman, Brigata Curva Sud (BCS), menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Melalui akun resmi X (Twitter) @BCSxPSS_1976 pada Senin (22/9/2025).

"Selamat Siang Saudaraku. Sehubungan dengan adanya insiden kemarin sore, kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Kudus dan seluruh elemen suporter Persiku Kudus. Semoga ini menjadi pembelajaran bagi kita semua terkait etika ketika bertamu," tulis admin akun tersebut.

Tak hanya itu, BCS juga memberikan apresiasi terhadap sambutan hangat yang sudah mereka terima di Kudus.

"Kami juga menyampaikan banyak terima kasih atas keramahan seluruh masyarakat serta seluruh elemen suporter Persiku Kudus, sampai berjumpa di lain waktu," tambahnya.

Pernyataan resmi ini mendapat respons positif, baik dari warga Kudus maupun Sleman. Banyak warganet menilai langkah BCS cukup bijak dan patut diapresiasi.

Salah satu komentar datang dari akun @fatkhur_ro yang menuliskan, “Info gotong royong ngelas gerbang, Kudus Sleman Sedulur.” Ungkapan ini seolah menekankan semangat persaudaraan meski sempat terjadi kericuhan.

Menariknya, akun resmi BCS menanggapi dengan kalimat ringan: “Info gotong royong ngelas gerbange mas.” Balasan ini dianggap sebagai bukti bahwa kelompok suporter PSS siap bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi.

Beberapa suporter Persiku Kudus juga mengungkapkan apresiasinya. Mereka menilai permintaan maaf yang disampaikan BCS menunjukkan kedewasaan dalam mendukung tim sepak bola, serta membuka ruang rekonsiliasi antarsuporter.

Meski permintaan maaf sudah disampaikan, insiden ini tetap menjadi catatan penting bagi penyelenggara pertandingan dan pihak keamanan. Penjebolan pintu masuk stadion serta pengeroyokan panitia jelas merupakan pelanggaran serius yang tidak bisa dianggap masalah sepele.

Koordinasi antara panitia pelaksana, aparat keamanan, dan kelompok suporter harus lebih diperkuat. Tujuannya agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di laga berikutnya, baik di Kudus maupun di kota lain.

Sepak bola harusnya jadi hiburan sekaligus pemersatu, bukan ajang kericuhan. Permohonan maaf dari BCS sudah tepat, tapi ke depan semua pihak perlu belajar agar atmosfer pertandingan tetap kondusif.

Kemenangan PSS Sleman

Di luar kericuhan, kemenangan PSS Sleman atas Persiku Kudus patut dicatat. Bermain sebagai tim tamu, PSS tampil dominan dan berhasil mencetak tiga gol. Persiku hanya mampu membalas satu gol sehingga laga berakhir dengan skor 3-1 untuk tim Elang Jawa.

Hasil ini membuat PSS memperkokoh langkah mereka di awal kompetisi Liga 2 musim ini. Namun, sorotan publik tetap lebih banyak tertuju pada kericuhan yang terjadi di saat suporter PSS menjebol pintu gerbang dan melakukan pengeroyokan kepada panitia pertandingan.

Permintaan maaf Brigata Curva Sud dan respons positif dari warga Kudus menjadi angin segar di tengah kabar  kekisruhan antarsuporter. 

Meski sempat terjadi gesekan, momen saling menghargai ini diharapkan bisa menjadi pelajaran berharga bagi sepak bola Indonesia.

Karena pada akhirnya, rivalitas di lapangan seharusnya berhenti setelah peluit panjang berbunyi. Di luar stadion, suporter adalah saudara. 

EDITOR: Banu Adikara