JawaPos.com — Pro-kontra peran krusial Toni Firmansyah di lini tengah Persebaya Surabaya bersama pelatih Eduardo Perez di Super League 2025/2026. Pemain muda ini baru saja menjadi sorotan usai tampil keras ketika Green Force menghadapi tuan rumah Persib Bandung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Jumat (12/9/2025).
Aksi Toni langsung memantik reaksi dari dua kelompok suporter terbesar di Indonesia, Bobotoh dan Bonek. Keduanya terlibat perang komentar di media sosial terkait gaya bermain gelandang bertahan 19 tahun itu.
Bobotoh geram dengan permainan Toni yang dinilai terlalu keras saat berusaha menghentikan serangan balik Maung Bandung.
Bahkan, beberapa akun pendukung Persib menyebut Toni sebagai pemain tarkam yang hanya bisa mengandalkan fisik.
Di sisi lain, Bonek justru memberikan dukungan penuh terhadap aksi pemain muda andalan mereka itu.
Menurut mereka, apa yang dilakukan Toni adalah bagian dari tugas penting seorang gelandang bertahan yang harus memutus alur serangan lawan.
Dukungan itu terlihat jelas di akun Instagram fanbase Bonek, @onlinepersebaya. Mereka menilai Toni sudah melakukan perannya dengan baik tanpa ada niat mencederai pemain lawan.
“Ketika seorang gelandang bertahan menjalankan tugasnya untuk memutus serangan balik lawan dengan memenangkan duel tanpa niat mencederai, instagramnya diserbu dan disebut pemain tarkam,” tulis @onlinepersebaya.
“Lanjutkan, Toni,” lanjut mereka memberi semangat.
Bonek pun kompak membela Toni dari serangan komentar Bobotoh yang ramai di kolom Instagram. Menurut mereka, media sosial memang penuh perbedaan sudut pandang sehingga sering memicu keributan antar suporter.
Salah satu komentar Bonek menegaskan Toni tetap layak diapresiasi meski Persebaya Surabaya kalah dari Persib.
“Tetep semangat Toni..., Meskipun Persebaya kalah tapi kalah terhormat tetep tegak kan kepala, kalian tetap di hati Bonek Bonita,” tulis seorang Bonek.
Ada pula komentar lain yang mengapresiasi fisik dan keberanian Toni menghadapi tekanan di lini tengah.
“@tonii.firmansyah cilik arek'e tapi WANI NGEYEL body balance kuat Joss cocok dadi divender...gass trus cak,” tulis akun lain.
Tidak sedikit pula yang menilai gaya permainan Toni adalah cermin khas Arek Suroboyo. “Yo iki ciri khas arek suroboyo nyelll...jossssss,” tulis salah satu komentar dukungan di Instagram.
Namun beberapa Bobotoh tetap menyoroti permainan keras Toni sebagai tindakan berlebihan. “Pemain tarkam,” tulis singkat seorang Bobotoh yang merasa Toni tak layak dipuji.
Terlepas dari pro-kontra tersebut, statistik Toni dalam laga melawan Persib memang menarik perhatian. Bermain selama 46 menit, ia mencatatkan 9 sentuhan bola dan hanya 3 operan akurat dari 5 percobaan atau 60 persen.
Toni tercatat kalah dalam 6 duel darat dan 2 duel udara yang dilakoninya. Ia juga kehilangan bola sebanyak 3 kali, melakukan 4 pelanggaran, serta menerima 1 kali dilanggar pemain lawan.
Meski begitu, Toni tetap memberi kontribusi dengan 3 kali sapuan, 1 tekel sukses, dan sempat dilewati lawan sebanyak 2 kali.
Statistik tersebut menunjukkan bahwa Toni memang masih dalam tahap adaptasi menghadapi tekanan laga besar.
Sebagai gelandang bertahan, tugas utama Toni memang memutus serangan lawan agar tidak dengan mudah mengacak pertahanan. Dalam posisi tersebut, benturan fisik dan duel keras kerap tak terhindarkan.
Pelatih Eduardo Perez tampaknya sadar betul dengan peran vital Toni di lini tengah Persebaya Surabaya. Kepercayaan menit bermain yang diberikan menunjukkan harapan besar terhadap perkembangan pemain muda ini.
Persebaya Surabaya membutuhkan sosok jangkar tangguh yang berani bertarung di tengah lapangan. Toni diproyeksikan menjadi salah satu pilar masa depan yang bisa menjaga keseimbangan tim antara bertahan dan menyerang.
Kontroversi gaya bermain Toni seakan menjadi bumbu panas rivalitas Persebaya Surabaya dan Persib. Setiap duel kedua tim memang selalu menghadirkan drama, baik di dalam maupun luar lapangan.
Bagi Bonek, Toni adalah simbol keberanian khas Surabaya yang pantang mundur. Sedangkan bagi Bobotoh, ia dianggap terlalu berlebihan dalam melakukan duel hingga merugikan permainan Persib.
Apapun komentar yang muncul, Toni kini semakin dikenal di kancah sepak bola nasional. Kritik dan pujian akan menjadi pelajaran penting baginya untuk berkembang lebih matang.
Super League 2025/2026 masih panjang dan perjalanan Toni di Persebaya Surabaya baru saja dimulai. Peran krusialnya di bawah arahan Eduardo Perez akan terus ditunggu oleh pecinta sepak bola tanah air.
Apakah Toni Firmansyah akan berkembang menjadi gelandang bertahan tangguh yang diidolakan Bonek atau tetap menuai cibiran dari rival?
Jawabannya akan terungkap dalam laga-laga berikutnya bersama Green Force di pentas liga musim ini.