← Beranda
Bonek Perlu Tahu, Presiden Persebaya Azrul Ananda Bocorkan 4 Elemen Pendapatan Klub, Pemasukan Tiket yang Terpenting
Ardha Ihsan Asy'Ari• Sabtu, 24 Mei 2025 | 14.14 WIB
Presiden Persebaya Surabaya Azrul Ananda. (Media Persebaya)

JawaPos.com–Klub-klub Liga 1 membutuhkan dana hingga puluhan miliar untuk bisa berlaga selama satu musim. Dana tersebut digunakan untuk biaya-biaya operasional klub serta saat bertanding.

Setiap tim harus dalam kondisi finansial yang kuat agar bisa terus bertahan di Liga 1. Tidak hanya dari aspek posisi klasemen, tetapi juga memenuhi seluruh kebutuhan klub, salah satunya gaji pemain.

Presiden klub Persebaya Azrul Ananda membocorkan sejumlah aspek yang dibutuhkan sebagai sumber pemasukan bagi klub. Termasuk bagi Persebaya sendiri.

Mengutip dari akun YouTube Persebaya Surabaya, setidaknya ada empat aspek atau sumber pemasukan bagi klub. Yakni sponsor, apparel dan merchandise, hak siar, dan tiket pertandingan.

1. Sponsor

Sponsor bisa menjadi sumber pemasukan terbesar klub. Tidak cukup jika hanya memiliki satu sponsor saja, sehingga jersey klub peserta Liga 1 tak jarang terpampang banyak iklan.

"Klub membutuhkan dana lebih dari lima miliar untuk biaya operasional klub. Jadi jangan heran kalau pada jersey klub-klub di Indonesia banyak terpampang sponsor bahkan sampai di bagian belakang jersey, karena memang membutuhkan dana yang banyak untuk memenuhi biaya operasional," ujar Azrul.

Dia menerangkan, perusahaan atau produk menjadi sponsor klub juga tergantung dari sejumlah faktor. Sulai dari seberapa besar klub tersebut, dari wilayah mana asalnya, hingga reputasi suporter.

"Kalau klub punya nama besar, tapi tidak punya penggemar, nilai sponsornya juga tidak besar. Lalu kalau klubnya bermarkas di kota besar, punya banyak penggemar, tapi penggemarnya suka bikin rusuh, sponsor juga tidak terlalu tertarik menyeponsori," terang Azrul.

2. Apparel dan Merchandise 

Klub dengan apparel terkenal juga bukan jaminan akan menghasilkan dana yang besar. Menurut Azrul, hal itu juga tergantung dari pihak apparel.

Baca Juga: Persebaya Surabaya Siap Gaet Pep Munoz, Persib dan Arema Cemas

"Jika klub memakai apparel merek terkenal, itu juga belum tentu pihak apparel menyuntikkan dana yang besar. Karena bisa saja dana yang diberikan tidak terlalu besar, sehingga dalam hal ini, apparel tersebut lebih cenderung sebagai gengsi (meningkatkan value klub pengguna apparel tersebut)," imbuh Azrul.

Dia menjelaskan, nilai pemasukan dari penjualan merchandise juga tidak terlalu besar, karena penjualannya tidak terlalu besar.

"Jika ingin penjualan merchandise banyak, merchandise yang dijual juga harus banyak dan tersebar secara masif, dan untuk melakukannya perlu biaya produksi yang besar," kata Azrul.

Selain itu, banyak merchandise tidak resmi yang dijual juga turut mempengaruhi jumlah penjualan merchandise resmi.

"Itu hak setiap fans untuk membeli merchandise yang resmi atau non-ofisial, tetapi jika mereka membeli yang non-ofisial, hasil penjualannya tidak menjadi pemasukan klub tersebut," terang Azrul lagi.

Menurut dia, jika klub bisa menghasilkan Rp 1 miliar dari apparel dan penjualan merchandise resmi, itu sudah sangat bagus.

3. Subsidi Liga dan Hak Siar

Liga di Indonesia masih cukup beruntung karena pihak pengelola memberi subsidi bagi klub peserta. Meskipun tidak besar, tapi itu cukup membantu.

"Jumlahnya tidak besar dan bervariasi, sehingga tidak bisa dijadikan pemasukan utama," jelas Azrul.

Selain itu, ada juga pemasukan dari hak siar televisi. Nominalnya juga bervariasi. Namun karena Persebaya merupakan klub legendaris, potensi penonton di televisi juga besar sehingga berpengaruh juga pada pemasukan hak siar.

"Tetapi sekali lagi, karena nominal dari hak siar juga tidak pasti besarannya, ini juga tidak bisa menjadi pemasukan utama. Jadi menurut saya, pemasukan dari ini anggaplah sebagai bonus," imbuh Azrul.

4. Tiket

Penjualan tiket menjadi andalan utama pemasukan setiap klub. Sebab, hampir bisa dihitung secara pasti dengan melihat kapasitas stadion dan harga jual tiket.

Namun, itu juga tergantung dari klub. Jika punya penonton banyak dan mau mendukung langsung di stadion, hasil penjualan tiket bisa menjadi andalan.

Misalnya Persebaya, pada laga home musim ini yaitu sebanyak 19 pertandingan, diperkirakan bisa menghasilkan pemasukan sekitar Rp 40 miliar. Tetapi pemasukan itu belum dikurangi biaya operasional saat pertandingan, dan juga biaya lainnya yang di luar perhitungan.

"Semakin banyak penonton, biaya operasional pertandingan makin tinggi, belum lagi jika ada kerusakan, atau denda, bisa menambah pengeluaran hingga ratusan juta," beber Azrul.

Dari sini terlihat bahwa operasional klub Liga 1 membutuhkan biaya yang besar, sehingga klub juga dituntut menghasilkan pemasukan yang besar pula. Para fans diharapkan tidak melakukan tindakan yang merugikan klub. Misalnya melakukan perusakan bagian dari stadion, hingga melanggar aturan yang membuat klub harus membayar denda kepada pengelola liga.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah