← Beranda
Ketatnya Persaingan Zona Degradasi Liga 1: 6 Tim Bertaruh Nyawa di 5 Laga Terakhir!
Moch. Rizky Pratama PutraSelasa, 22 April 2025 | 22.54 WIB
Riko Simanjuntak diharapkan memberikan pengalamannya dalam membantu PSS Sleman lepas dari jerat degradasi Liga 1 musim ini. (Media PSS)
 

JawaPos.com — Pekan ke-29 Liga 1 Indonesia 2024/2025 telah selesai, namun drama belum benar-benar dimulai. Jika di papan atas klub-klub elit masih berburu mahkota juara, maka di papan bawah suasananya jauh lebih mencekam.

Ada enam tim yang kini saling sikut untuk menghindari mimpi buruk terdegradasi ke Liga 2. Dengan hanya lima laga tersisa, tiap poin jadi barang langka, tiap gol bisa menyelamatkan atau menenggelamkan.

Persis Solo berada di posisi ke-13 dengan torehan 29 poin, unggul head to head atas Barito Putera yang menguntit di posisi ke-14. Kedua tim memiliki poin yang sama, namun posisi Persis lebih baik karena menang pertemuan langsung.

Di bawah mereka, Madura United menempati peringkat ke-15 dengan 27 poin, hanya terpaut dua angka dari zona merah. Situasi ini membuat mereka belum bisa bernapas lega meski saat ini berada di atas garis degradasi.

Zona merah sendiri dihuni oleh PSIS Semarang dan Semen Padang FC yang masing-masing berada di peringkat ke-16 dan 17.

Namun selisih poin yang hanya empat angka dari posisi ke-13 membuat harapan mereka untuk selamat masih terbuka.

Di dasar klasemen, PSS Sleman belum menyerah meski baru mengoleksi 22 poin dari 29 laga. Klub berjuluk Super Elja itu memang dalam posisi kritis, tapi belum benar-benar habis.

Dengan 15 poin maksimal yang masih bisa diraih, PSS secara matematis masih punya peluang selamat. Namun tentu saja, kemenangan beruntun dan hasil dari tim lain akan sangat menentukan nasib mereka.

Pertarungan menuju akhir musim bakal berlangsung seperti drama penuh ketegangan. Satu hasil imbang saja bisa fatal, dan satu kesalahan bisa menghancurkan perjuangan selama semusim penuh.

Jadwal yang menanti pun bukan sembarangan. Beberapa tim akan menghadapi lawan berat yang sedang berburu juara, sementara lainnya harus saling bunuh dengan tim sesama penghuni papan bawah.

PSS Sleman misalnya, masih harus berhadapan dengan Persib Bandung pada 26 April 2025, laga yang akan sangat berat bagi tim asal Yogyakarta itu.

Barito Putera juga masih harus bersua Dewa United pada 2 Mei dan menghadapi Persib Bandung pada 9 Mei.

Semen Padang FC yang masih terdampar di zona degradasi harus melawat ke markas Persebaya Surabaya pada 9 Mei, laga yang akan menentukan nasib mereka.

Persis Solo juga punya agenda sulit menghadapi Dewa United dan Persib Bandung di dua laga terakhir musim ini.

Tak hanya itu, laga-laga yang mempertemukan tim-tim zona bawah akan menjadi penentu hidup-mati. PSIS Semarang akan menjamu PSS Sleman pada pekan ke-32, pertandingan yang bisa disebut sebagai duel final degradasi.

Pekan terakhir Liga 1 juga akan sangat menentukan karena terjadi laga langsung antar tim papan bawah. Madura United akan menjamu PSS Sleman dan PSIS akan berhadapan dengan Barito Putera, semua di tanggal 24 Mei 2025.

Kondisi klasemen sementara membuat siapa pun bisa selamat atau justru terjerembab. Empat poin yang memisahkan posisi ke-13 dan ke-17 membuat setiap pertandingan jadi seperti partai final.

Tim-tim yang sudah nyaman di papan atas boleh jadi mulai memikirkan strategi untuk playoff dan juara. Namun di papan bawah, aroma kepanikan dan tensi tinggi sudah lebih dulu terasa.

Suporter pun kini menahan napas setiap pekan. Bukan untuk selebrasi, tapi untuk menyaksikan apakah klub kecintaan mereka bisa bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Tak ada ruang untuk kesalahan dalam lima laga terakhir ini. Fokus, mental baja, dan keberuntungan akan menjadi pembeda antara bertahan atau turun kasta.

Setiap poin akan diperebutkan mati-matian hingga peluit panjang di pekan ke-34 dibunyikan. Dan hingga saat itu tiba, belum ada satu pun tim dari enam penghuni dasar klasemen yang benar-benar aman.

Inilah zona neraka Liga 1 musim ini. Tempat di mana enam tim bertarung bukan untuk kejayaan, tapi untuk bertahan hidup.

EDITOR: Edi Yulianto