← Beranda
Puntung Rokok Berceceran Bikin Paul Munster Naik Pitam! Persebaya Surabaya Kecewa Berat Jelang Hadapi PSM Makassar
Moch. Rizky Pratama PutraJumat, 7 Maret 2025 | 16.57 WIB
Paul Munster. (Media Persebaya)

JawaPos.com — Persebaya Surabaya menghadapi tantangan besar sebelum laga melawan PSM Makassar di pekan ke-26 Liga 1 Indonesia 2024/2025. Paul Munster, pelatih Persebaya Surabaya, meluapkan kekecewaannya terhadap kondisi stadion yang dianggap tidak layak.

Green Force saat ini berada di peringkat ketiga klasemen Liga 1 setelah meraih kemenangan telak 4-1 atas Persib Bandung di Stadion Gelora Bung Tomo. Sementara itu, PSM Makassar datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah membungkam Madura United 3-1 di Stadion Gelora Bangkalan.

Namun, persiapan Persebaya Surabaya menuju laga ini terganggu oleh kondisi stadion yang buruk. Paul Munster menyebut lingkungan stadion tidak mendukung kelayakan sebuah pertandingan profesional.

Dalam konferensi pers pada Kamis (6/3/2025), Munster mengungkapkan ketidakpuasannya dengan situasi yang dihadapi timnya. "Persiapan Persebaya Surabaya Bagus. Saya tahu situasi di sini. Saya sangat terkejut. Kami bermain di sini dan ketika kami tiba, kami berada di dalam bus menunggu dan kemudian kami tiba di sini dan tempat ini belum siap," ujarnya.

Pelatih asal Irlandia Utara itu menyoroti fasilitas yang tidak memadai, termasuk tidak adanya AC di ruang ganti. Ia bahkan menyebut pemainnya terpaksa berganti pakaian di lapangan karena ruang ganti tidak bisa digunakan.

“Tidak ada AC, udaranya menjijikkan. Para pemain tidak dapat berganti pakaian di ruang ganti. Kami berganti pakaian di lapangan. Lingkungan, kesehatan, dan keselamatan. Anda melihat saya sekarang,” tegas Paul Munster.

Selain itu, Munster geram dengan banyaknya rokok yang berceceran di area stadion. Asap rokok yang memenuhi udara semakin memperburuk situasi, membuat timnya merasa tidak nyaman.

"Sulit bernapas di dalam. Tidak ada AC. Uh rokok, rokok, tepat sebelum Anda keluar ke lapangan. Masih dalam renovasi. Dan ini memalukan bahwa kami dibawa ke sini untuk bermain. Ini memalukan," kata Munster dengan nada kesal.

Ia menilai kondisi tersebut berbahaya bagi kesehatan para pemain. Menurutnya, stadion yang masih dalam tahap renovasi seharusnya tidak digunakan untuk pertandingan resmi.

"Siapa yang bilang kami bermain di sini? Perlu penyelidikan besar karena ini untuk kesehatan dan keselamatan juga bagi para pemain," tegasnya.

Munster menegaskan pertandingan ini seharusnya dibatalkan atau dipindahkan ke tempat lain. Ia menyebut Bali sebagai salah satu opsi yang lebih layak untuk menggelar laga ini.

"Jelas, saya tidak percaya kami bermain di sini besok. Pertandingan ini harus dibatalkan. Kami seharusnya bermain di Bali atau tempat lain. Jadi, Anda tahu, kami ingin Indonesia menjadi lebih baik tetapi lihat situasinya masih sama. Ini memalukan. Ini Liga 3 atau Liga 4. Ini stadion Liga 4," kata Munster dengan nada kecewa.

Pelatih berusia 42 tahun itu pesimistis akan ada perubahan signifikan dalam waktu dekat. Ia merasa pihak berwenang tidak akan mengambil tindakan untuk memperbaiki kondisi ini.

"Ini memalukan. Tapi tidak akan terjadi apa-apa. Saya tahu itu. Siapa yang akan membuktikan ini? Ya. Siapa yang akan membuktikan?" ujarnya dengan nada sinis.

Persebaya Surabaya sendiri datang ke pertandingan ini dengan modal yang cukup baik. Dari 25 laga yang sudah dimainkan, mereka berhasil meraih 13 kemenangan, 5 hasil imbang, dan 7 kekalahan.

Green Force juga mencatatkan 30 gol dan kebobolan 27 kali sepanjang musim ini. Statistik ini menunjukkan lini pertahanan mereka masih perlu perbaikan jika ingin bersaing di papan atas.

Di sisi lain, PSM Makassar tampil cukup solid meskipun berada di luar empat besar klasemen. Dari 25 pertandingan, mereka meraih 9 kemenangan, 12 hasil imbang, dan hanya 4 kali kalah.

Tim berjuluk Juku Eja itu mampu mencetak 33 gol dan hanya kebobolan 23 kali. Statistik ini menunjukkan mereka memiliki pertahanan yang lebih baik dibandingkan Persebaya Surabaya.

Pertandingan antara dua tim dengan sejarah panjang di era Perserikatan ini dipastikan akan berlangsung sengit. Kedua tim memiliki motivasi tinggi untuk meraih poin penuh demi memperbaiki posisi di klasemen.

Persebaya Surabaya harus menghadapi tantangan besar, bukan hanya dari lawan di atas lapangan, tetapi juga dari kondisi di luar lapangan. Faktor non-teknis seperti fasilitas stadion bisa menjadi gangguan serius bagi performa tim.

Jika kondisi ini tidak segera diperbaiki, hal serupa bisa terjadi lagi di masa depan. Klub-klub yang ingin bermain di level tertinggi seharusnya mendapatkan fasilitas yang layak.

Liga 1 Indonesia sebagai kompetisi sepak bola tertinggi di negeri ini harus memiliki standar yang lebih baik. Tidak hanya dalam kualitas permainan, tetapi juga dalam aspek fasilitas dan infrastruktur.

Kasus seperti ini menyoroti masih banyaknya pekerjaan rumah bagi penyelenggara liga. Regulasi yang lebih ketat harus diterapkan untuk memastikan setiap stadion memenuhi standar yang layak.

Persebaya Surabaya jelas merasa dirugikan dengan situasi ini. Tim yang sedang berusaha bersaing di papan atas tidak seharusnya menghadapi hambatan seperti ini.

Laga ini menjadi ujian mental bagi skuad Green Force. Mereka harus bisa mengesampingkan faktor eksternal dan fokus pada pertandingan di lapangan.

Di sisi lain, PSM Makassar ingin memanfaatkan keunggulan kandang meskipun kondisi stadion kurang ideal. Dukungan suporter bisa menjadi faktor penting dalam pertandingan ini.

Kedua tim memiliki ambisi besar untuk menutup musim ini dengan hasil terbaik. Setiap poin sangat berharga dalam persaingan sengit di papan atas klasemen.

Bagi Paul Munster dan anak asuhnya, tantangan ini harus dihadapi dengan kepala dingin. Profesionalisme harus dijunjung tinggi demi meraih hasil maksimal.

Namun, kritikan dari Munster harus menjadi perhatian serius bagi pihak terkait. Sepak bola Indonesia tidak akan maju jika masalah mendasar seperti ini terus diabaikan.

Laga Persebaya Surabaya melawan PSM Makassar di pekan ke-26 ini bukan hanya soal pertarungan di atas lapangan. Ini juga menjadi cerminan dari tantangan yang masih dihadapi sepak bola Indonesia secara keseluruhan.

Akankah kondisi ini menjadi pemicu perubahan atau justru kembali dilupakan? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

EDITOR: Banu Adikara