JawaPos.com–Timnas Indonesia terus mempersiapkan diri jelang menghadapi Jepang di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Laga tersebut akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jumat (15/11) pukul 19.00 WIB.
Sebagai pemuncak klasemen grup C, Jepang terus memantau apa saja fakta unik, perkembangan dan pemain yang patut diwaspadai dari Timnas Indonesia. Melansir dari laman resmi Japan Football Association, Rabu (13/11), berikut lima hal menarik Jepang terhadap Timnas Indonesia.
- Tampil baik meskipun berada di peringkat 130
Di peringkat FIFA per 24 Oktober 2024, Timnas Indonesia berada di posisi ke 130 yang merupakan peringkat terendah dari enam tim di grup C Kualifikasi Piala Dunia 2026. Namun, menurut Japan Football Association (JFA) Timnas Indonesia sudah tampil baik dengan tiga hasil seri dan satu kali kalah.
- Pengaruh pemain berdarah Indonesia
Mereka juga menyoroti tentang sejumlah pemain berdarah Indonesia yang lahir dan besar di Belanda. Beberapa pemain yang bergabung di Timnas Indonesia juga telah mewakili Belanda sejak usia muda.
- Empat pemain Timnas Indonesia yang patut diwaspadai
Dalam laporan tersebut, JFA menuliskan empat nama pemain Timnas Indonesia yang diwaspadai. Ragnar Oratmangoen menjadi pemain yang diperhatikan karena teknik tingginya dalam mencetak gol. Ivar Jenner juga diwaspadai karena punya keterampilan menggiring bola serta dapat mencetak gol.
Lalu, ada Nathan Tjoe-A-On yang diwaspadai karena merupakan pemain kidal yang lihai dalam eksekusi bola mati. Selain itu, ada penjaga gawang Maarten Paes yang mampu menahan tendangan penalti saat melawan Arab Saudi pada September.
- Shin Tae-yong yang mampu mengalahkan Jerman
Pelatih Timnas Indonesia Shin Tae-yong juga tidak luput dari pantauan. Mereka menyoroti kemampuan melatih saat kemenangan Korea Selatan atas Jerman saat di Piala Dunia 2018.
- Nyaris bertemu Jepang di Piala Dunia 1934
Fakta unik yang dituliskan laman resmi JFA menyebutkan bahwa Jepang nyaris bertemu Timnas Indonesia yang masih memakai nama Hindia Belanda di babak kualifikasi. Namun, Hindia Belanda mengundurkan diri dari turnamen karena kondisi sosial yang memburuk.