JawaPos.com — Siapa yang tak kenal dengan Robertino Pugliara, mantan playmaker ikonik Persebaya Surabaya? Sosok yang pernah menjadi jantung permainan Green Force kini kembali mencuri perhatian, namun bukan di atas lapangan sebagai pemain, melainkan dengan peran yang jauh berbeda.
Ya, Robertino Pugliara kini beralih profesi menjadi penerjemah di PSBS Biak, tim promosi yang baru saja memastikan tempatnya di BRI Liga 1 2024/2025.
Kabar ini tentu mengejutkan banyak penggemar sepak bola Indonesia, terutama mereka yang masih mengingat bagaimana peran vital Robertino Pugliara ketika membela Persebaya Surabaya.
PSBS Biak, yang dikenal dengan julukan Badai Pasifik, sukses mencatatkan sejarah dengan promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia setelah menjuarai Liga 1 musim 2023/2024.
Kemenangan di final atas Semen Padang mengukuhkan mereka sebagai tim yang layak bersaing di BRI Liga 1 2024/2025. Dalam upaya mereka untuk bersaing di liga utama, PSBS Biak tak tanggung-tanggung dalam melakukan perombakan tim, mulai dari rekrutmen pemain hingga perubahan jajaran pelatih.
Musim ini, PSBS Biak memboyong beberapa bintang terbaik asal Papua, termasuk Jem Kelly Sroyer yang didatangkan dari Persik Kediri, Todd Ferre, Donny Monim, dan Yohanes Kandaimu.
Kehadiran mereka diharapkan mampu memberikan kekuatan tambahan bagi tim yang berbasis di Biak ini. Selain itu, PSBS Biak juga mengontrak tiga pemain asing asal Argentina, yakni Julian Velazquez, Gabriel Esparza, dan Abel Arganaraz, yang bakal menjalani debut mereka di Indonesia.
Ketiga pemain asing tersebut tidak datang sendirian. Mereka tiba bersama sang pelatih baru PSBS Biak, Juan Esnaider, yang juga berasal dari Argentina. Esnaider, seorang mantan pemain dengan karier yang gemilang, pernah membela klub-klub besar Eropa seperti Juventus dan Real Madrid.
Meski sebagai pelatih dia pernah mengalami masa sulit, termasuk ketika menukangi Getafe yang akhirnya terdegradasi dari La Liga pada musim 2015/2016, kedatangannya di PSBS Biak membawa harapan baru.
Namun, ada satu tantangan besar yang harus dihadapi Esnaider dan para pemain Argentina tersebut, yakni masalah bahasa dan budaya. Beruntung, PSBS Biak memiliki kartu as di tangan mereka—Robertino Pugliara.
Sebagai seorang yang telah lama berkarier di Indonesia dan memahami betul sepak bola Indonesia serta budaya Papua, Robertino Pugliara dianggap sebagai sosok yang tepat untuk menjadi penerjemah dan jembatan budaya bagi Esnaider dan timnya.
Robertino Pugliara memang bukan sosok asing di dunia sepak bola Indonesia. Namanya mulai mencuat ketika dia memperkuat beberapa klub besar Tanah Air, seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, dan tentu saja Persebaya Surabaya.
Gaya bermainnya yang elegan dan kemampuan visioner sebagai playmaker membuatnya menjadi salah satu pemain asing yang sangat dihormati di Liga Indonesia. Namun, setelah pensiun dari karier sepak bolanya, banyak yang tidak menduga bahwa Robertino Pugliara akan beralih peran menjadi penerjemah.
Bagi PSBS Biak, kehadiran Robertino Pugliara jelas menjadi keuntungan besar. Dengan pengalamannya, Robertino Pugliara bisa menjadi penghubung yang efektif antara tim pelatih dan pemain, serta membantu menciptakan komunikasi yang lancar di dalam tim. Ini sangat penting, mengingat keberhasilan tim di lapangan sangat tergantung pada sejauh mana para pemain dan pelatih bisa bekerja sama dengan baik.
Namun, peran baru Robertino Pugliara ini juga menimbulkan perasaan campur aduk di kalangan penggemar sepak bola. Banyak yang merasa senang karena Robertino Pugliara masih berkecimpung di dunia sepak bola Indonesia, meskipun tidak lagi sebagai pemain.
Namun, ada juga yang merasa bahwa seorang mantan pemain dengan kualitas seperti Robertino Pugliara seharusnya bisa mendapatkan peran yang lebih besar, mungkin sebagai pelatih atau manajer.
Meskipun demikian, Robertino Pugliara sendiri tampak menikmati peran barunya ini. Baginya, menjadi penerjemah bukanlah sebuah penurunan, melainkan sebuah kesempatan untuk tetap berkontribusi pada sepak bola Indonesia, terutama dalam membantu rekan-rekannya dari Argentina untuk sukses di liga yang penuh tantangan ini.
Di sisi lain, PSBS Biak tampaknya sangat serius dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi ketatnya persaingan di BRI Liga 1 2024/2025. Selain memperkuat skuad dengan pemain-pemain berkualitas, mereka juga memastikan bahwa tim pelatih dan manajemen bisa bekerja dengan harmonis.
Hal ini bisa dilihat dari keputusan mereka untuk merekrut Robertino Pugliara sebagai penerjemah, sebuah langkah yang menunjukkan betapa pentingnya komunikasi dan pemahaman budaya dalam membangun tim yang solid.
Dengan komposisi tim yang ada saat ini, PSBS Biak berpotensi menjadi kuda hitam di liga musim ini. Meski berstatus sebagai tim promosi, mereka memiliki kombinasi pemain lokal berbakat dan pemain asing berkualitas yang bisa memberikan kejutan.
Dan, di balik kesuksesan yang mungkin akan mereka raih, ada peran penting dari seorang Robertino Pugliara, mantan playmaker legendaris yang kini beralih profesi menjadi penerjemah, membuktikan bahwa kontribusinya di dunia sepak bola Indonesia belum berakhir.
Kisah Robertino Pugliara ini juga menjadi bukti bahwa sepak bola tidak hanya soal bermain di lapangan, tetapi juga soal adaptasi, komunikasi, dan kerja sama tim. Tanpa semua itu, bahkan tim yang paling berbakat pun akan kesulitan untuk meraih sukses.
Dan, dengan Robertino Pugliara yang berdiri di tengah-tengah PSBS Biak sebagai penghubung antara pelatih, pemain, dan budaya, Badai Pasifik memiliki peluang besar untuk membuat gelombang besar di BRI Liga 1 2024/2025.