← Beranda
Agus Winarno, Wonderkid Persebaya yang Sempat Jadi Top Skor Namun Gagal Jadi Bintang
Sidiq PrasetyoRabu, 14 Februari 2024 | 23.34 WIB
Agus Winarno dengan sepatu emas yang didapatnya saat menjadi top skor era perserikatan.

Marselino Ferdinan disebut sebagai wonderkid atau bocah ajaib. Bagaimana tidak, dia menjadi bintang muda usia masih belasan tahun. Tapi sebelumnya, di 1990-an, ada juga pemain yang disebut-sebut menjadi wonderkid Persebaya. Sayang, pemain itu gagal menjadi bintang. Kenapa?

Sidiq Prasetyo, Gresik

DI sebuah ruang rumah di kawasan Driyorejo, Gresik, ada sebuah sepatu sepak bola emas. Itu menunjukkan kalau sang pemilik rumah bukan sosok pesepak bola sembarangan.

Sepatu emas adalah penanda bagi pemain yang pencetak gol terbanyak atau top skor kompetisi. "Sepatu emas ini saya dapat saat menjadi top skor Kompetisi Perserikatan 1993. Saya mencetak enam gol," kenang Agus Winarno, sang pemilik sepatu emas.

Agus Win, begitu dia disapa, merupakan mantan penyerang Persebaya Surabaya. Bahkan, status sebagai pencetak gol yang gacor di Kompetisi Perserikatan bukan hanya 1993. Di musim sebelumnya, 1991, dia sudah melakukannya. Untuk informasi,sebelum 1994, kompetisi sepak bola Indonesia dibagi menjadi dua, Perserikatan dan Galatama.

"Pada musim 1991, saya lebih banyak lagi. Saya mencetak sembilan gol," kenang Agus Win.

Hebatnya, torehan itu dibukukannya saat dia masih duduk di bangku sekolah menengah atas atau SMA. Ketika itu, dia menimba ilmu di sebuah sekolah di Sepanjang, Taman, Sidoarjo.

"Saya paling muda di Persebaya. Tapi mereka banyak memberikan dukungan dan membuat saya nyaman di tim," ungkap lelaki kelahiran 1974 tersebut.

Agus Win menjelaskan, dia bisa masuk ke Persebaya senior setelah sebelumnya tampil gemilang di Persebaya Junior 1990. Kemampuan dan bakat yang dimiliki Agus Win terpantau dari Kompetisi Internal Persebaya.

"Assyabaab adalah klub asal. Setiap latihan di sana saya harus berpindah-pindah alat transportasi," ujar Agus Win.

Dia mengenang, dari rumahnya di Driyorejo harus naik angkot ke Joyoboyo, sebuah terminal di Surabaya. Dari Joyoboyo, Agus Win berganti naik angkot ke Jembatan Merah.

"Dari Jembatan Merah, saya naik becak ke Ampel. Butuh waktu 2,5 jam untuk bisa sampai ke mess Assyabaab," paparnya.

Namun, semangatnya itu membuahkan hasil. Agus Win bisa menembus Persebaya dari junior hingga senior.

Sayang, Agus Win tak bisa bertahan lama di Green Force, julukan Persebaya. Pada Liga Indonesia I 1994, dia pindah ke Mitra Surabaya.

"Pimpinan klub saya meminta pindah ke Mitra. Sebagai pemain, saya tidak bisa menolak," tambah Agus Win.

Meski diakuinya, hatinya berontak. Agus Win masih ingin membela Persebaya.

Di Mitra, petaka pun penimpanya. Dalam sebuah latihan di Lapangan Gelora 10 Nopember, Agus Win mengalami cedera.

"Saat berlatih, saya salah tumpuan. Lutut saya cedera, " jelasnya.

Cedera itu membuat karir Agus meredup. Padahal, usianya masih usia emas. Dari Mitra, Agus Win sempat berpindah-pindah klub. Namun, dia sudah tak semoncer di Persebaya.

''Waktu di Mitra, saya dipinjamkan ke Persegres Gresik. Setelah dari Persegres, saya dipanggil PON Jatim ke XIV dan Alhamdulillah dapat medali emas,’’ jelasnya.

Usai PON, Agus Win pindah ke Petrokimia Putra dan pensiun di klub asal Gresik itu. ''Di sana juga pensiun sebagai pemain tahun 1997," ingatnya.

Usai gantung sepatu, Agus Win sempat bermasalah hukum dan harus mendekam di penjara pada 2005. Tapi baginya, hal tersebut memberikan banyak pelajaran.

Setelah bebas, Agus Win kembali ke lapangan hijau dan menekuni dunia kepelatihan. Agus tercatat menjadi pelatih Sekolah Sepak Bola Mitra Surabaya.

"Musim 2023/2024 ini, saya dapat amanah menjadi pelatih EPA (Elite Pro Acedemy) U16 Persik Kediri," tandasnya. (*)

EDITOR: Dhimas Ginanjar