JawaPos.com - Kompetisi yang belum jelas membuat klub ketir-ketir. Mereka kini hanya mengandalkan pemasukan dari sponsor. Padahal, dana sponsor masih ditahan seiring dengan mandeknya kompetisi.
Situasi itu juga dirasakan Persebaya Surabaya. Bahkan, Green Force –julukan Persebaya– bisa saja kehilangan sponsor akibat kompetisi yang tidak pasti. Manajer Persebaya Candra Wahyudi tidak menampik hal tersebut.
”Dari sisi bisnis, sulit meyakinkan sponsor untuk bertahan pada situasi ini (kompetisi tidak pasti, Red),” katanya saat dihubungi Jawa Pos.
Selain sponsor, tiket pertandingan menjadi salah satu pemasukan terbesar. Apalagi, Persebaya jadi salah satu tim dengan jumlah penonton paling banyak. Musim lalu, Persebaya berada di urutan keempat sebagai tim dengan jumlah penonton terbanyak.
Total ada 280.017 suporter yang datang ke laga kandang Persebaya.
Jumlah penonton masih padat saat laga pembuka Liga 1 kontra Persik Kediri lalu (29/2). Saat itu Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, dipenuhi 50 ribu suporter.
Sejatinya masih ada bisnis penjualan merchandise. Green Force masih memiliki Persebaya Store. Namun, pemasukannya tidak sebesar dari sponsor atau tiket pertandingan. Karena itu, tidak pastinya kompetisi membuat nasib klub kian di ujung tanduk.
Candra berharap ada aksi yang nyata dari PSSI untuk menyelamatkan klub. Salah satunya, memberikan kepastian kompetisi.
”PSSI harus tegas dan memakai akal sehat. Selamatkan kompetisi. Kalo liga sehat, klub akan sehat, dan ujung-ujungnya pemain, pelatih, serta pelaku sepak bola yang lain akan sehat juga,” terang pria asal Bojonegoro itu.
Sejatinya, setiap klub masih memiliki jatah hak komersial dari pihak federasi. Besarannya Rp 800 juta setiap bulan. Yang jadi masalah, uang tersebut baru akan diberikan pada Februari mendatang.
Itu pun dengan syarat jika kompetisi sudah pasti bergulir. ”Ketidaktegasan PSSI dan PT LIB membuat klub terombang-ambing dalam situasi ketidakpastian,” keluh Candra.