”Saya berharap pandemi ini segera berakhir. Tapi, kalau ternyata masalah ini belum selesai dalam waktu dekat dan kompetisi dihentikan, tentu kami harus mengikuti apapun yang diputuskan PSSI,” kata Rendi.
Apalagi, pandemi virus korona ini bukan hanya terjadi di Indonesia semata, melainkan mewabah di banyak negara. Kompetisi elite di Eropa pun dihentikan sementara. Karena itu, kalau kompetisi dihentikan seperti pada musim 2015, gelandang Persebaya Surabaya tersebut tidak bakal mempermasalahkan. Pun demikian soal gaji.
”Melihat situasi yang ada, saya tak keberatan kalau ada pemotongan gaji. Kalau pun harus dibayar 25 persen, saya akan terima. Sebab, kondisi klub juga sulit,” akunya. Seperti halnya opsi yang disodorkan para pelatih, Rendi sebagai pemain pun sepakat kalau gaji Maret dibayarkan penuh. ”Baru yang bulan berikutnya dibayar 25 persen,” sebutnya.
Gelandang 32 tahun itu mengungkapkan kalau kemungkinan pemotongan gaji itu sudah sempat dibahas di internal pemain Persebaya. Hansamu Yama Pranata yang menginisiasi. Hanya, mayoritas pemain Green Force –julukan Persebaya–terkesan malu-malu untuk mengemukakan pendapat. Hanya pemain-pemain lawas yang berani mengeluarkan unek-uneknya.
Rendi bisa memahami itu. Sebab, situasinya memang sulit. Tapi, kepada rekan-rekannya Rendi menguatkan agar bisa menerima apapun keputusan PSSI dan klub nantinya. Termasuk opsi pemotongan gaji. Sebab, klub saat ini juga tidak lagi mendapatkan pemasukan. Bahkan, kontrak kerjasama dengan sponsor kemungkinan besar juga bakal ada revisi. ”Kalau nanti situasinya mengharuskan begitu, tentu saya berharap semua pemain bisa memahaminya. Ini demi kebaikan semuanya. Kebaikan klub dan kebaikan pemain,” ujarnya.