← Beranda

Patrick Kluivert Cuma Jadi "Abang-Abangan" Timnas Indonesia, PSSI Sebut Teknik dan Taktik Lebih Diserahkan ke Para Asisten

Taufiq ArdyansyahRabu, 8 Januari 2025 | 19.15 WIB
RAPI: Patrick Kluivert menekuni dunia kepelatihan sejak pensiun dari sepak bola tahun 2008. (AFP)

 

JAKARTA – Rekam jejak Patrick Kluivert sebagai pelatih sangat tidak meyakinkan. Wajar jika kemudian hampir pastinya eks penyerang tim nasional (timnas) Belanda itu menjadi pengganti Shin Tae-yong (STY) memicu reaksi keras.

Namun, PSSI berdalih bahwa dasar pemilihan Kluivert lebih pada jiwa kepemimpinannya. Dengan latar belakang sebagai legenda Oranje, Kluivert diyakini akan dihormati para pemain diaspora skuad Garuda yang lahir dan besar di Belanda.

”Di Belanda dia dihargai, istilahnya ’abang-abangan’. Kalau abang-abangan udah manggil, junior pasti siap. Mudah-mudahan ya begitu yang nanti kami dapat,” ujar Arya Sinulingga, anggota Executive Committee (Exco) PSSI, di Sekretariat PSSI Pers, GBK Arena, Jakarta, kemarin (7/1).

Untuk urusan teknik dan taktik, pelatih baru akan dibantu asistennya. ”Coba lihat. Kenapa di Eropa itu pelatih disebutnya manajer? Manajer punya pelatih teknisnya,” kata Arya.

Arya menjelaskan bahwa PSSI membutuhkan pemimpin pelatih. ”Dia didampingi oleh asisten pelatih yang kuat secara teknik. Kombinasi inilah yang dinamakan tim kepelatihan,” imbuhnya.

Arya juga menambahkan bahwa pola pikir Ketua Umum PSSI Erick Thohir adalah pola pikir Eropa. Apalagi, Erick memiliki rekam jejak sebagai presiden klub Inter Milan dan saat ini menjadi salah satu pemilik klub Oxford United.

Mengutip akun X Dennie van Laar, ada dua nama yang kabarnya bakal menemani Kluivert sebagai asisten, yaitu Alex Pastoor dan Denny Landzaat.

Pastoor terakhir menangani klub Eredivisie Belanda Almere City, sedangkan Landzaat masih menjadi asisten pelatih di klub Hungaria Ferencvaros.

Di Eropa, baik klub maupun timnas, manajer tidak hanya dinilai dari jiwa kepemimpinannya. Manajer juga menentukan segalanya, termasuk soal taktik. Dia membawahkan beberapa coach dengan tugas spesifik, seperti goalkeeping coach, defense coach, dan set piece coach.

Untuk mengoordinasikan mereka, manajer dibantu oleh satu atau dua asisten manajer. Namun, keputusan utama, mulai dari pemilihan pemain hingga taktik, tetap berada di tangan manajer.

Mantan pelatih Persija Jakarta dan Persebaya Surabaya, Iwan Setiawan, termasuk yang menganggap keputusan PSSI memecat STY sebagai kesalahan.

”Apa yang telah dia lakukan membuat sepak bola Indonesia jadi lebih baik. Dari sisi mental, fisik, dasar bermain, pemahaman bermain, dan banyak hal lain,” ungkap Iwan.

STY dipecat saat Garuda masih menyisakan empat laga di ronde ketiga kualifikasi zona Asia Piala Dunia 2026.

Pergantian Formasi

Selama lima tahun terakhir di bawah STY, Garuda lebih sering menggunakan back three dengan pola 3-5-2 atau 3-4-2-1. Jika Kluivert benar menjadi pengganti, besar kemungkinan akan ada pergantian formasi.

Kluivert, seperti pelatih asal Belanda lainnya, cenderung fanatik dengan skema 4-2-3-1.

Tantangan ini serupa dengan yang dihadapi Maurizio Sarri saat membesut SS Lazio pada 2021. Sarri harus mengubah kebiasaan pemain Lazio yang akrab dengan skema back three selama lima musim di bawah Simone Inzaghi.

Dalam 71 hari pertama sebagai allenatore Lazio, Sarri hanya menang dua kali dari enam laga di semua ajang. Mantan gelandang Lazio Sergej Milinkovic-Savic menyebut, mengubah pola pikir pemain adalah yang paling sulit.

”Skema tiga bek membuat pemain terbiasa melempar bola-bola atas dari sisi sayap. Dengan skema 4-3-3, Sarri memaksa kami terus berlari,” ungkapnya kepada DAZN.

Bahkan, menurut Milinkovic-Savic, butuh setahun bagi rekan-rekannya untuk memahami permainan empat bek. (fiq/rid/ren/c19/ttg)

EDITOR: Dhimas Ginanjar