JawaPos.com – José Mourinho kembali menjadi sorotan setelah memilih tidak menghadiri konferensi pers seusai Real Madrid menang 1-0 atas Villarreal dalam lanjutan LaLiga, Sabtu (10/10/2026). Keputusan tersebut dilaporkan berkaitan dengan kekecewaannya terhadap keputusan wasit yang memberikan kartu merah kepada Vinicius Junior.
Insiden itu terjadi setelah gol Vinicius dianulir melalui intervensi VAR. Penyerang asal Brasil tersebut dinilai menarik rambut pemain Villarreal, Nathan Saliba, dalam proses terciptanya gol. Setelah meninjau tayangan ulang, wasit membatalkan gol dan mengusir Vinicius.
Sebelum insiden tersebut, Mourinho sempat merayakan gol yang diyakini membawa Real Madrid unggul lebih jauh. Namun, kegembiraan itu berubah menjadi kekecewaan setelah keputusan VAR mengubah jalannya pertandingan.
Kemenangan Madrid sendiri ditentukan oleh gol Yan Diomande. Meski meraih tiga poin, perhatian setelah laga justru tertuju pada kartu merah Vinicius dan keputusan Mourinho untuk tidak berbicara kepada media.
Baca Juga: Prediksi Skor Coventry vs Newcastle: The Magpies Waspadai Kebangkitan Tuan Rumah
Mourinho Tak Ingin Emosinya Berujung Masalah
Dalam wawancara dengan El Chiringuito, Mourinho sebelumnya mengatakan bahwa dirinya kini lebih dewasa, tidak terlalu emosional, dan lebih mampu mengendalikan diri. Namun, ia menegaskan bahwa kepribadiannya tidak akan berubah sepenuhnya.
“Saya masih memiliki DNA yang sama,” ujarnya. “Jelas, saya tidak bisa bersembunyi atau mencoba menjadi orang lain.”
Pernyataan itu kembali disorot setelah Mourinho menunjukkan reaksi keras terhadap keputusan wasit dalam pertandingan melawan Villarreal.
Sebelum jeda internasional, pelatih asal Portugal tersebut juga sempat membawa dua lembar kertas ke konferensi pers untuk menunjukkan insiden yang menurutnya layak berujung kartu merah bagi pemain Atletico Madrid. Aksi itu dilakukan setelah bek Real Madrid, Dean Huijsen, diusir dalam Derby Madrid.
Kali ini, Mourinho memilih tidak menghadiri konferensi pers. Melansir ESPN dan sejumlah laporan media, keputusan itu disebut sebagai upaya menghindari risiko sanksi tambahan akibat komentar emosional mengenai kepemimpinan wasit.
“Saya ingin berada di sana melawan Sevilla dan Barça,” kata Mourinho, sebagaimana dilaporkan media.
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa Mourinho ingin memastikan dirinya tetap bisa mendampingi tim dalam pertandingan penting berikutnya. Ia tentu tidak ingin kontroversi setelah kemenangan atas Villarreal berkembang menjadi persoalan baru bagi dirinya maupun Real Madrid.
Kartu Merah Vinicius Bisa Berdampak pada El Clasico
Kartu merah Vinicius berpotensi menjadi pukulan bagi Real Madrid, terutama karena El Clasico melawan Barcelona dijadwalkan berlangsung pada 25 Oktober 2026.
Laporan pertandingan menyebut Vinicius diusir setelah menarik rambut Saliba dalam proses terciptanya gol yang kemudian dianulir. Insiden tersebut dikategorikan sebagai perilaku kekerasan dalam laporan wasit dan berpotensi berujung sanksi disiplin.
Durasi hukuman akan ditentukan melalui proses disiplin resmi. Jika skorsingnya berlaku hingga pertandingan melawan Barcelona, Madrid berisiko kehilangan salah satu pemain penting dalam duel tersebut.
Mourinho tentu tidak ingin kehilangan Vinicius menjelang laga besar. Di sisi lain, keputusan untuk tidak menghadiri konferensi pers juga dapat dipandang sebagai langkah menahan diri agar persoalan tersebut tidak berkembang menjadi kontroversi yang lebih besar.
Real Madrid masih menghadapi persaingan ketat di papan atas LaLiga. Barcelona asuhan Hansi Flick berada di posisi teratas, sementara Atletico Madrid juga bersaing di papan atas setelah mencatat sejumlah hasil positif.
Dengan jadwal penting yang menanti, Madrid perlu menjaga konsistensi permainan sekaligus mengelola situasi di luar lapangan. Kontroversi kartu merah Vinicius menjadi ujian tambahan bagi Mourinho dalam menjaga fokus tim.
Baca Juga: Prediksi Skor Atalanta vs Venezia: Rekor Pertemuan Jadi Modal Tuan Rumah
Periode Berat Menanti Real Madrid
Meski menang 1-0 atas Villarreal, performa Real Madrid masih menyisakan sejumlah pertanyaan. Tim asuhan Mourinho berhasil mengamankan tiga poin, tetapi jalannya pertandingan dan kartu merah Vinicius membuat kemenangan tersebut tidak sepenuhnya berjalan mulus.
Madrid masih berusaha menemukan keseimbangan permainan. Barcelona, di sisi lain, dikenal dengan intensitas tinggi saat tidak menguasai bola, kemampuan mengalirkan umpan, serta ancaman Lamine Yamal dari sisi kanan.
Perhatian juga tertuju pada hubungan permainan Vinicius dan Kylian Mbappe. Keduanya memiliki kemampuan individu yang luar biasa, tetapi konsistensi kerja sama mereka masih menjadi salah satu aspek yang perlu dibuktikan di lapangan.
Tantangan Madrid tidak berhenti pada El Clasico. Mereka juga harus melanjutkan kampanye Liga Champions dan menghadapi rangkaian pertandingan domestik yang padat.
Dalam situasi tersebut, Mourinho perlu memastikan kontroversi seputar wasit tidak mengalihkan perhatian tim dari pekerjaan utama mereka. Kemenangan atas Villarreal memberikan tiga poin penting, tetapi konsistensi permainan dan kedisiplinan pemain akan menjadi faktor besar dalam menentukan perjalanan Real Madrid selanjutnya.