JawaPos.com - Kasus dugaan pelanggaran aturan finansial Manchester City telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi salah satu perkara paling kompleks dalam sejarah Premier League.
Tuduhan yang diajukan mencakup periode 2009-10 hingga 2022-23, dengan persoalan utama berkaitan dengan dugaan pemberian informasi keuangan yang tidak akurat kepada Premier League.
Melansir ESPN, berikut sejumlah pertanyaan penting mengenai kasus tersebut.
1. Apa saja tuduhan yang dikenakan terhadap Manchester City?
Tuduhan terhadap Manchester City mencakup sejumlah musim sejak 2009-10 hingga 2022-23. Salah satu bagian paling serius berkaitan dengan dugaan pemberian informasi keuangan yang tidak akurat, termasuk mengenai pendapatan sponsor, pihak-pihak terkait, dan biaya operasional klub.
Selain itu, terdapat dugaan pelanggaran mengenai remunerasi pemain dan manajer. Pada periode yang lebih baru, City juga dituduh gagal bekerja sama dengan investigasi Premier League.
2. Jika tuduhan berkaitan dengan dugaan pelanggaran, mengapa kasusnya baru mencuat sekarang?
Kasus ini berawal dari publikasi dokumen yang dikenal sebagai Football Leaks. Majalah Jerman Der Spiegel memperoleh akses terhadap sejumlah dokumen internal, termasuk email, yang kemudian digunakan dalam laporan mengenai dugaan pelanggaran aturan financial fair play oleh Manchester City.
Publikasi tersebut kemudian memicu penyelidikan UEFA dan, pada akhirnya, investigasi Premier League. Pada Februari 2020, UEFA menyatakan City bersalah atas pelanggaran aturan finansial dan menjatuhkan larangan tampil di kompetisi Eropa selama dua musim serta denda €30 juta.
Namun, Pengadilan Arbitrase Olahraga membatalkan larangan tersebut lima bulan kemudian. Pengadilan menyatakan beberapa tuduhan telah melewati batas waktu penuntutan, sementara tuduhan lainnya dinilai tidak terbukti oleh UEFA.
City tetap didenda €10 juta karena gagal bekerja sama dengan investigasi UEFA.
3. Mengapa kasus Premier League memakan waktu begitu lama?
Lamanya proses tersebut berkaitan dengan sejumlah faktor. Investigasi Premier League diumumkan pada Maret 2019. Setelah itu, bertahun-tahun berlalu tanpa banyak informasi mengenai perkembangan kasus, termasuk apakah penyelidikan masih berlangsung.
Manchester City juga mengajukan sejumlah tantangan hukum yang mempersoalkan yurisdiksi dan persoalan hukum lainnya.
Ketika dakwaan akhirnya diajukan pada Februari 2023, hampir empat setengah tahun telah berlalu sejak pengumuman penyelidikan.
Sidang baru dimulai pada 16 September 2024 dan berlangsung selama 12 minggu hingga 6 Desember. Panjangnya proses juga tidak terlepas dari jumlah dan kompleksitas tuduhan serta proses pemilihan panel independen beranggotakan tiga arbiter yang disepakati oleh City dan Premier League.
4. Mengapa putusan tidak langsung keluar setelah sidang selesai?
Berakhirnya sidang bukan berarti panel langsung dapat mengumumkan keputusan. Panel harus menyusun putusan yang memenuhi ketentuan hukum Inggris. Mengingat kompleksitas perkara dan banyaknya tuduhan, proses tersebut membutuhkan pertimbangan yang mendalam.
Ada pula kemungkinan putusan dan sanksi dipisahkan. Jika City dinyatakan bersalah atas sebagian atau seluruh tuduhan, panel dapat menetapkan sanksi pada tahap berikutnya.
Karena itu, waktu keluarnya keputusan tidak bisa dipastikan hanya berdasarkan tanggal berakhirnya persidangan.
5. Jika Manchester City terbukti bersalah, hukuman apa yang bisa dijatuhkan?
Ruang hukuman yang tersedia cukup luas. Premier League tidak menetapkan satu jenis hukuman khusus untuk pelanggaran aturan finansial. Sanksi dapat mencakup denda, pengurangan poin, pencabutan gelar dari musim sebelumnya, larangan transfer atau registrasi pemain, hingga pengusiran dari kompetisi.
Aturan juga memberikan kewenangan untuk menjatuhkan "perintah lain yang dianggap pantas". Dengan demikian, konsekuensi akhirnya akan sangat bergantung pada jenis dan tingkat pelanggaran yang dinyatakan terbukti.
6. Apakah kasus akan selesai setelah putusan dan hukuman dijatuhkan?
Belum tentu. Pihak yang kalah memiliki hak untuk mengajukan banding sehingga proses hukum dapat berlanjut setelah putusan pertama keluar.
Selain itu, perkara Manchester City memiliki potensi konsekuensi lain di luar proses disipliner Premier League.
Sejumlah klub telah mengambil langkah untuk mempertahankan hak mereka mengajukan tuntutan ganti rugi jika City dinyatakan bersalah. Klaim tersebut dapat berkaitan dengan potensi kehilangan pendapatan akibat klub-klub tersebut gagal lolos ke kompetisi Eropa atau kehilangan peluang memenangkan gelar liga.
Artinya, putusan dalam kasus Premier League bukan necessarily menjadi akhir dari seluruh persoalan hukum yang mungkin dihadapi Manchester City.
Kasus ini berpotensi memasuki babak baru jika klub-klub lain benar-benar mengajukan tuntutan kompensasi.
***