← Beranda
Manchester City Punya Database 650 Ribu Pemain, Begini Cara Mereka Berburu Talenta Baru
Andre Rizal Hanafi• Sabtu, 26 September 2026 | 17.09 WIB
Debut manis Floyd Samba bersama Manchester City di Carabao Cup. (@mancity/Instagram)

 

JawaPos.com - Manchester City punya cara tersendiri dalam membangun skuad. Klub asal Inggris itu tidak hanya mengandalkan pengamatan langsung dari para pencari bakat, tetapi juga memanfaatkan sistem data yang sangat besar untuk menentukan pemain yang dianggap sesuai dengan kebutuhan tim.

BBC Sport mendapat akses ke sistem kerja data Manchester City yang digunakan dalam proses perekrutan pemain. Salah satu bagian paling menarik adalah database mereka yang berisi sekitar 650 ribu pesepak bola dari berbagai penjuru dunia.

Database tersebut menjadi titik awal sebelum City mencari pemain yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan tim.

Baca Juga: Kabar Putusan Dugaan Pelanggaran Finansial Mencuat, Manchester City Terancam Sanksi Premier League!

Prosesnya dimulai dengan menentukan profil pemain yang dibutuhkan. Posisi menjadi salah satu pertimbangan, tetapi City juga membagi karakter pemain ke dalam kategori yang lebih spesifik.

Sebagai contoh, bek sayap dibagi menjadi tiga tipe, yakni pemain yang lebih bertahan, bek yang sering masuk ke tengah, serta pemain yang bermain tinggi dan melebar.

Setelah kriteria ditentukan, sistem data akan menyaring database 650 ribu pemain tersebut hingga tersisa sekitar 20 sampai 50 nama.

Daftar itu kemudian dibandingkan dengan daftar pemain yang sebelumnya sudah masuk radar para scout.

Baca Juga: Tijjani Reijnders Ungkap Alasan Tinggalkan Manchester City Usai Tidak Menjadi Rencana Enzo Maresca

Menariknya, data tidak menjadi satu-satunya dasar keputusan Manchester City. Direktur olahraga klub, Hugo Viana, menegaskan bahwa pengamatan langsung dari scout tetap memiliki peran penting.

Menurut Viana, data memang membantu proses pengambilan keputusan, tetapi tidak bisa menggambarkan seluruh aspek seorang pemain. Karakter, mentalitas, serta perilaku di luar lapangan tetap membutuhkan penilaian manusia.

Setelah proses penyaringan berlangsung, jumlah kandidat kembali dipangkas hingga sekitar enam pemain. City kemudian melakukan pemeriksaan lebih mendalam, termasuk catatan cedera, kemampuan fisik, hingga kebiasaan pemain.

Salah satu contoh menarik adalah proses perekrutan Elliot Anderson. Gelandang yang sebelumnya bermain untuk Nottingham Forest itu tidak langsung menjadi kandidat teratas dalam sistem City.

Statistik Anderson awalnya tidak terlalu mencolok. Salah satu alasannya adalah Forest memiliki gaya bermain yang berbeda dengan City. Anderson lebih sering bermain dekat dengan area pertahanan dan tidak mendapatkan kesempatan sebanyak pemain City untuk beraksi di sepertiga akhir lapangan.

City kemudian mencoba memproyeksikan bagaimana Anderson bisa bermain jika berada dalam tim yang dominan dalam penguasaan bola. Dari proses tersebut, data dan laporan scout akhirnya membuat klub semakin yakin untuk merekrutnya.

Pendekatan serupa juga pernah diterapkan saat City mendatangkan Julian Alvarez dari River Plate pada 2022. Alvarez awalnya bukan pemain yang muncul dari rekomendasi utama sistem data, melainkan lebih dulu diperhatikan oleh scout.

Setelah dianalisis lebih jauh, City melihat statistik Alvarez sangat menonjol di kompetisi Argentina. Model data mereka bahkan memperkirakan nilai Alvarez berada di kisaran £26 juta hingga £40 juta, sementara City berhasil mendapatkannya dengan biaya sekitar £14 juta.

Dua tahun kemudian, Alvarez dijual ke Atletico Madrid dengan nilai transfer yang dilaporkan mencapai £81 juta.

Manchester City juga menggunakan data untuk memantau perkembangan pemain yang sudah berada di klub.

Sistem tersebut membantu mereka membaca kemungkinan penurunan performa seorang pemain bahkan dua atau tiga tahun sebelum keputusan menjual dibuat.

Sejak meraih treble pada 2023, skuad City memang mengalami perubahan besar. Hanya empat pemain dari skuad juara tersebut yang masih bertahan.

Dengan perpaduan data, scout dan analisis performa, City berusaha membangun skuad yang lebih muda tanpa mengorbankan kemampuan untuk bersaing di level tertinggi. Klub juga memproyeksikan bahwa skuad saat ini masih akan berkembang dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Bagi Manchester City, data bukan pengganti scout. Data justru menjadi alat tambahan untuk membantu klub mengambil keputusan dengan risiko yang lebih terukur.

EDITOR: Banu Adikara